Kuota Pupuk Subsidi Kab Pasuruan Dapat Tambahan 6.505 Ton

MASA TANAM: Salah seorang petani di Kabupaten Pasuruan saat menyemprot padi di sawahnya, beberapa waktu lalu. Kuota pupuk subsidi di Kabupaten Pasuruan kali ini dapat tambahan 6.505 ton. (Foto: M. Zubaidillah/Radar Bromo)

Related Post

BANGIL, Radar Bromo – Ada kabar gembira bagi petani di Kabupaten Pasuruan. Sebab, kuota pupuk subsidi untuk wilayah setempat ditambah. Dari yang awalnya dijatah 18.902 ton bertambah 6.505 ton menjadi 25.407 ton.

Kepala Dinas Pertanian Pemkab Pasuruan Yetti Purwaningsih menjelaskan, tambahan kuota itu turun lantaran pemkab telah mengusulkan lagi ke pemerintah pusat.

“Lantaran kami mencoba mengusulkan lagi dan juga dari pusat melihat keluhan petani di awal tahun, sehingga ada penambahan pupuk urea subsidi di Kabupaten Pasuruan sebanyak 6.505 ton per April lalu,” terang Yetti saat didampingi Kabid Sarana prasarana Dinas Pertanian Dibyo Darminto.

Menurut Yetti, musim tanam padi pertama sudah dimulai sejak Januari – April lalu. Sedangkan Mei ini sudah memasuki musim tanam kedua.

Melihat ada tambahan kuota pupuk subsidi, Dinas Pertanian memastikan, kuota pupuk untuk tanam kedua di Kabupaten Pasuruan dipastikan aman.

Dari kuota pupuk saat ini, dikatakan memang masih lebih rendah dari usulan pertani akhir tahun lalu lewat RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok) sebesar 36 ribu ton. “Namun, karena dari pusat melihat ada keluhan petani di awal tahun lalu terkait sulitnya mendapatkan pupuk subsidi. Sehingga, pusat mengeluarkan cadangan pupuk dan ditambahkan juga ke daerah,” terangnya.

Kuota pupuk subsidi tahun ini sejatinya masih tergolong lebih rendah dari tahun lalu. Dinas Pertanian tetap mengupayakan agar distribusi pupuk merata di semua kelompok tani dan setiap musim tanam.

Sedangkan terkait pupuk yang sudah terdistribusi di musim tanam pertama dan awal musim tanam kedua masih tahap rekapitulasi.

Alfi Khasanah, sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan mengatakan bahwa pandemi Covid-19 dipastikan tidak berpengaruh terhadap produksi padi. Ini, lantaran produksi pangan utama seperti padi menjadi kebutuhan utama saat pandemi ini.

“Juga melihat dari pusat, tidak ada kebijakan mengurangi pupuk justru ada tambahan. Hal ini untuk mendorong produksi padi di daerah juga meningkat di tahun 2020 ini,” ujarnya. (eka/mie)