alexametrics
24.2 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Mahasiswa Minta Ganti Nama DPR Jika Tidak Perjuangkan Aspirasi Rakyat

Dewan Perwakilan Rakyat, tegas dia, tidak lagi patut disebut DPR jika  aspirasi masyarakat tidak didengar. Bahkan, lebih patutnya, disebut Dewan Pemerkosa Hak-hak Rakyat. ”Kami ganti. Bukan Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi Dewan Pemerkosa Hak-Hak Rakyat,” pekik mahasiswa.

Orator lain, Ghozi, memandang sebaiknya bubarkan saja DPR maupun DPRD. Karena hanya mementingkan oligarki. Condong kepada pemerintah dan membunuh demokrasi. ”Sebaiknya bubarkan saja kalau tidak mendengarkan rakyat,” tandasnya.

Aksi dorong-dorongan terjadi ketika orator meneriakkan maju satu langkah. Sementara di hadapan mereka sudah ada pagar polisi yang berjaga. Ketegangan terjadi. Setelah mahasiswa tak kunjung melihat anggota dewan yang hadir untuk menemui.

Setelah itu, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Sudiono Fauzan datang menemui mereka. ”Kami akan menyampaikan aspirasi ini ke DPR RI dan pemerintah pusat,” sampainya.

Dion –sapaannya- tak diperkenankan banyak bicara oleh mahasiswa. Mereka hanya meminta kesanggupan untuk menyerahkan aspirasi tersebut ke pusat. ”Kami tidak mau mendengar klarifikasi. Kami hanya mau, Anda menyerahkan aspirasi ini ke pusat,” timpal pendemo.

 

Aspirasi Mahasiswa Pasuruan

  • Menilai isu perpanjangan masa jabatan presiden ataupun periodesisasi jabatan presiden meresahkan masyarakat.
  • Mendesak presiden me-reshufle menteri yang menyuarakan isu-isu perpanjangan masa jabatan presiden.
  • Mendesak presiden mengambil sikap atas melambungnya harga minyak goreng. Menindak pihak-pihak yang terlibat mafia minyak goreng.
  • Menyatakan rencana pemindahan ibu kota menyedot keuangan negara. Akibatnya, terjadi kenaikan harga dan pajak. Seperti BBM maupun PPN.

(one/far)

Dewan Perwakilan Rakyat, tegas dia, tidak lagi patut disebut DPR jika  aspirasi masyarakat tidak didengar. Bahkan, lebih patutnya, disebut Dewan Pemerkosa Hak-hak Rakyat. ”Kami ganti. Bukan Dewan Perwakilan Rakyat. Tapi Dewan Pemerkosa Hak-Hak Rakyat,” pekik mahasiswa.

Orator lain, Ghozi, memandang sebaiknya bubarkan saja DPR maupun DPRD. Karena hanya mementingkan oligarki. Condong kepada pemerintah dan membunuh demokrasi. ”Sebaiknya bubarkan saja kalau tidak mendengarkan rakyat,” tandasnya.

Aksi dorong-dorongan terjadi ketika orator meneriakkan maju satu langkah. Sementara di hadapan mereka sudah ada pagar polisi yang berjaga. Ketegangan terjadi. Setelah mahasiswa tak kunjung melihat anggota dewan yang hadir untuk menemui.

Setelah itu, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Sudiono Fauzan datang menemui mereka. ”Kami akan menyampaikan aspirasi ini ke DPR RI dan pemerintah pusat,” sampainya.

Dion –sapaannya- tak diperkenankan banyak bicara oleh mahasiswa. Mereka hanya meminta kesanggupan untuk menyerahkan aspirasi tersebut ke pusat. ”Kami tidak mau mendengar klarifikasi. Kami hanya mau, Anda menyerahkan aspirasi ini ke pusat,” timpal pendemo.

 

Aspirasi Mahasiswa Pasuruan

  • Menilai isu perpanjangan masa jabatan presiden ataupun periodesisasi jabatan presiden meresahkan masyarakat.
  • Mendesak presiden me-reshufle menteri yang menyuarakan isu-isu perpanjangan masa jabatan presiden.
  • Mendesak presiden mengambil sikap atas melambungnya harga minyak goreng. Menindak pihak-pihak yang terlibat mafia minyak goreng.
  • Menyatakan rencana pemindahan ibu kota menyedot keuangan negara. Akibatnya, terjadi kenaikan harga dan pajak. Seperti BBM maupun PPN.

(one/far)

MOST READ

BERITA TERBARU

/