Akhmad Jujuk, Siswa SMKN 1 Beji Juarai Lomba Kompetensi Siswa Nasional Berkat Instalasi Listrik Industri

Kepiawaian Akhmad Jujuk, 18, dalam merakit hingga memprogram instalasi listrik industri, berbuah prestasi. Pelajar kelas XII SMKN 1 Beji ini, menyabet juara pertama dalam ajang Lomba Kompetensi Siswa ke 27 Nasional. Sempat gugup diawal lomba, ia akhirnya mampu mengalahkan puluhan peserta lainnya.

—————

Jantung Akhmad Jujuk berdetak kencang. Tangannya pun terasa dingin gemetaran. Ia benar-benar gugup. Perasaannya campur aduk.

Rasa nervous itu ia rasakan, ketika lomba akan segera dimulai. Ada setidaknya 34 peserta, termasuk dirinya. Banyaknya peserta itulah, yang sempat membuat hatinya tak karuan.

“Sempat gugup waktu mau lomba. Tapi, guru dan kepala sekolah terus memotivasi saya,” ungkap Jujuk-sapaannya mengingat detik-detik saat lomba akan dimulai.

Siapa sangka, begitu lomba dimulai, tangan terampilnya bekerja dengan baik. Perasaannya yang semula gugup, hilang begitu saja. Konsentrasi kepada pekerjaan instalasi listrik industri, membuatnya melupakan pikiran negatif yang ada.

Dalam benaknya, hanya tebersit untuk menyelesaikan lomba dengan sempurna. Hasilnya pun begitu cemerlang. Ia berhasil menjadi juara pertama. “Alhamdullilah. Pastinya senang, bisa menjadi juara pertama,” aku anak dari pasangan M. Arifin dan Asmaul Azizah ini.

Jujuk memang pantas merasa senang. Ia berhasil menjadi juara dalam ajang Lomba Kompetisi Siswa ke 27 kategori Electrical Instalation. Menariknya, ia menjadi juara pertama dalam kejuaraan tingkat nasional yang di Yogyakarta Expo Centre pada 7 Juli hingga 13 Juli 2019 tersebut.

Prestasi cemerlang itu diraih Jujuk dengan cara tak mudah. Ia dengan susah payah, bisa menggapai prestasi yang membanggakan sekolah dan orang tuanya. Kisahnya sendiri bermula setelah dirinya ditunjuk untuk mewakili sekolah dan Kabupaten Pasuruan, dalam ajang yang sama ditingkat wilayah kerja dua, pada Januari 2019. Wilayah kerja dua itu, mencakup Pasuruan hingga Banyuwangi.

Saat itu, ada 13 peserta yang berpartisipasi. Mereka berasal dari SMK yang ada di Pasuruan hingga Banyuwangi. Hasilnya, ia masuk lima besar bahkan meraih peringkat teratas.

Hasil inipun menjadi modalnya untuk bertarung di tingkat provinsi, pada April 2019. Ada setidaknya 21 peserta yang berpartisipasi. Hasilnya, lagi-lagi ia menjadi juara. Sehingga, ditunjuk untuk mewakili Provinsi Jatim di ajang nasional.

Di ajang itulah, ia kemudian bertarung dengan puluhan peserta lainnya. Setidaknya ada 34 peserta termasuk dirinya dari seluruh Indonesia. Selama kompetisi berlangsung, banyak hal yang dialaminya.

Tak hanya gugup diawal lomba. Karena saking seringnya bergesekan dengan karpet lantai, membuat celananya menjadi robek. “Pasang instalasi kan kadang berdiri kadang duduk. Bahkan jongkok. Karena sering terjadi gesekan lutut dengan lantai, membuat celana saya sampai robek,” kelakarnya.

Ia menceritakan, pemasangan instalasi yang dilakukan, untuk listrik industri. Di sana, ada alarm, lampu hingga ada pemrograman, supaya listrik yang dipasang, bisa on atau off sendiri atau aktif sendiri.

Butuh waktu setidaknya 19 jam atau tiga hari menyelesaikan semuanya. Waktu penyelesaian bisa saja lebih cepat, seandainya sama dengan saat yang digunakan latihan.

“Tapi ternyata tidak. Alat-alatnya banyak yang baru, bahkan instalasi yang harus saya pasang, nyaris berbeda dengan saat training centre. Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan baik,” ungkap kelahiran Pasuruan 12 Maret 2001 tersebut.

Semua yang dipasang berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Meski ia sempat dibuat tak nyaman, dengan lamanya loading pemrograman. Tapi, semuanya bisa teratasi.

“Semuanya bisa nyala sesuai harapan. Hanya ada empat peserta yang instalasinya bekerja termasuk saya. Tapi instalasi saya, dianggap juri yang paling baik dan sesuai harapan, sehingga dinyatakan menjadi juara,” urainya penuh bangga.

Kepala SMKN 1 Beji, Wiwit Fatkhurinah mengaku sempat dibuat deg-degan dengan kreasi siswanya. Terlebih ketika lampu-lampu yang dipasang tidak menyala. Ternyata, lampu itu tidak menyala, karena memang belum waktunya.

“Saya sampai mual, saking khawatirnya. Karena waktu itu, lihat milik peserta lain sudah ada yang menyala. Tapi punya siswa saya tidak. Ternyata memang, sudah di-setting, baik waktu menyalanya maupun matinya lampu,” kenang dia.

Ia pun mengaku, sempat tak yakin siswanya itu juara. Terlebih, Jujuk dikenal sebagai siswa yang tak banyak bicara. “Saya khawatir disuruh presentasi. Anaknya kan tidak begitu bisa ngomong di depan umum. Alhmadulillah tidak karena hanya skill instalasi yang dilombakan,” tambahnya.

Wiwit merasa senang, anak didiknya bisa menjadi juara. Apalagi juara pertama tingkat nasional. Berkat prestasi itulah, SMKN 1 Beji bisa mempertahankan tradisi juara instalasi nasional sejak 2017 yang lalu.

“Selain mendapat reward bisa masuk Politeknik Negeri Madura, anaknya juga berkesempatan untuk mengikuti lomba dunia, World Skill Competition di China pada 2021 nanti. Ini jelas kebanggaan bagi kami,” pungkasnya. (one/fun)