Luas Lahan Produksi Garam di Pasuruan Turun 15 Ha

BANGIL, Radar Bromo – Sampai pertengahan September tahun ini, produksi garam di Kabupaten Pasuruan masih lesu. Bila dibanding musim sebelumnya, ada penurunan sekitar 15 hektare (Ha).

“Tahun 2019 lalu tercatat luasan tambak garam mencapai 248 hektare. Sementara tahun ini sampai September, turun 15 hektare menjadi hanya 233 hektare saja,” terang Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Slamet Nurhandoyo.

Dikatakan Slamet, menurunnya luasan tambak garam tahun 2020 dipicu sejumlah hal. Salah satunya, imbas harga yang sudah rendah saat awal produksi dan pandemi Covid-19.

Hal itu membuat petambak garam ada yang kurang semangat dan akhirnya memilih tidak produksi tahun ini. “Karena sejak 2019 lalu harga garam rendah. Termasuk melihat situasi sampai awal produksi tahun ini juga masih rendah, membuat petambak malas berproduksi. Hal ini membuat ada tambak yang akhirnya tidak difungsikan sebagai lahan tambak,” imbuhnya.

Selain itu, Dinas Perikanan juga mencatat pendemi Covid-19 membuat ada petambak garam yang enggan berproduksi. Ini lantaran masih kesulitan mencari pekerja. Biasanya pekerja ini dari luar daerah dan karena ada wabah Covid-19, membuat ada kesulitan bekerja di Kabupaten Pasuruan.

Termasuk adanya kemarau basah juga ditengarai ada petambak yang berproduksi tahun ini. “Jadi, selain harga garam murah, padahal kalau dari sisi tenaga kerja juga biaya tetap. Sehingga ada tambak garam juga yang dialihkan menjadi tambak udang,” ujarnya.

Meski turun 15 hektare, namun Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan tetap optimistis hasil produksi garam tahun 2020 ini tetap tinggi. Diprediksi sampai Desember mendatang, target sebanyak 15.600 ton optimistis bisa tercapai. (eka/mie)