alexametrics
27.2 C
Probolinggo
Sunday, 29 May 2022

Sindikat Pemalsu Benih Jagung Diringkus, Omzetnya Miliaran

BANGIL, Radar Bromo – Satreskrim Polres Pasuruan berhasil menggulung jaringan sindikat pemalsu benih jagung unggul beromzet miliaran rupiah. Tiga orang yang terlibat dalam sindikat itu berhasil ditangkap.

Semuanya dari luar Pasuruan. Yaitu, Ahmad Saeroji, 36, warga Krajan Kulon, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember; Mohammad Shoqibul Izar, 32, warga Desa/Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk dan Indra Irawan, 34, warga Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Ketiganya ditangkap polisi di rumahnya masing-masing pada Jumat (13/11) dan Sabtu (14/11).

Kapolres Pasuruan, AKBP Rofiq Ripto Himawan menguraikan, mereka adalah sindikat pemalsu benih jagung merek Bisi-18. Awalnya menurut Kapolres, sejumlah petani Raci, Kecamatan Bangil, mengeluhkan hasil panen jagung mereka yang tidak sesuai ekspektasi.

JARINGAN ANTARPULAU: Saat ini petugas sudah mengamankan 35 ton produk jagung palsu tersebut. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebagai benih jagung unggul, seharusnya Bisi-18 yang mereka tanam bisa menghasilkan produksi jagung yang melimpah. Namun, faktanya di lapangan malah sebaliknya.

“Kami mendapatkan keluhan dari petani di wilayah Raci bahwa hasil produksi jagung mereka tidak sesuai harapan. Padahal, benih yang mereka tanam adalah jenis unggul dan telah bersertifikasi,” beber Kapolres.

Dari situ, petugas kepolisian melakukan penelusuran. Penelusuran awal dilakukan terhadap barang yang dijual di sebuah kios milik saksi AM yang ada di Desa Raci, Kecamatan Bangil. Dari sana, petugas pun mengamankan beberapa sak kecil ukuran 1 kg jagung merek Bisi-18.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan produsen jagung Bisi-18. Dari situlah diketahui bahwa produk jagung tersebut, palsu. “Kami kemudian melakukan pendalaman lanjutan,” imbuhnya.

Penelusuran lebih jauh dilakukan anggota Satreskrim Polres Pasurun. Hingga akhirnya petugas mengantongi lima nama yang diduga terlibat dalam bisnis jagung palsu merek Bisi-18 itu. Tiga orang pelaku berhasil diringkus. Sementara, dua di antaranya masih dalam penelusuran.

“Ada lima orang yang diduga kuat terlibat dalam bisnis pemalsuan merek produk jagung unggul ini. Dari lima pelaku tersebut, tiga di antaranya ditangkap dan sudah ditahan. Sementara, dua orang masih dalam penelusuran.

Tiga orang yang ditangkap itu, tak lain adalah Ahmad Saeroji, 36; Mohammad Shoqibul Izar, 32, dan Indra Irawan, 34. Ahmad Saeroji ditangkap 13 November 2020. Sementara, Shoqibul Izar dan Indra Irawan, ditangkap sehari setelahnya. Sementara, dua orang lain, yakni MS dan HR masih dalam pengejaran.

Menurut perwira dengan dua melati di pundaknya itu, masing-masing dari mereka memiliki peranan berbeda. Shoqibul Izar dan Indra Irawan, berperan sebagai pemodal serta bertanggung jawab untuk produksi di gudang. Sementara Ahmad Seroji, bertugas menyuplai bahan selain juga pemodal.

Sedangkan MS, berperan sebagai pemodal, pengedar serta pengadaan mesin dan alat. Lalu HR, berperan menyediakan kemasan dan hologram palsu.

“Ada empat pemodal. Masing-masing berinvestasi Rp 50 juta dalam menjalankan operasi terlarang itu,” tutur dia.

Rofiq menjelaskan, modus operasi yang mereka lakukan dengan memalsu jagung unggul Bisi-18 yang diproduksi PT Bisi Internasional. Mereka mengemas jagung biasa yang hanya berharga Rp 8 ribu hingga 12 ribu per kilogram.

Jagung varietas biasa itu mereka kemas dengan kemasan merek Bisi-18. Untuk meyakinkan konsumen, mereka juga memasangi logo hologram pada kemasan produk yang dipesan dari China. Selanjutnya, produk palsu itu mereka jual dengan harga Rp 37 ribu hingga Rp 42 ribu per kilogram.

Padahal, produk yang asli dijual senilai Rp 75 ribu per kilogram. Artinya, ada keuntungan lebih dari bisnis jagung palsu tersebut. Yaitu senilai Rp 29 ribu sampai Rp 30 ribu.

Disampaikan Rofiq, bisnis yang dijalankan para pelaku sudah berlangsung berbulan-bulan. Dari hasil pemeriksaan, mereka mengaku menjalankan bisnis itu sejak Juli 2020.

Produk palsu yang mereka buat pun punya pasar yang cukup luas. Tidak hanya merambah Kabupaten Pasuruan dan Jawa Timur. Tetapi merambah antar Provinsi, bahkan pulau. Karena, produk mereka sudah masuk di wilayah Kalimantan, Lampung hingga NTB.

Saat ini petugas sudah mengamankan 35 ton produk jagung palsu tersebut. Namun, masih ada sekitar 75 ton produk jagung hibrida palsu yang beredar.

“Omzet yang mereka dapatkan bisa miliaran rupiah. Kami juga mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk alat produksi untuk pengemasan bibit jagung unggul palsu,” sampainya.

Dilanjutkan Rofiq, salah satu pelaku bukanlah orang baru dalam hal pemalsuan benih. Ahmad Saeroji, pernah dipenjara atas kasus yang sama. Tersangka merupakan residivis Polda Jatim. Ia sempat ditahan selama 10 bulan, dan baru keluar akhir tahun 2019.

Kasus pemalsuan tersebut tidak hanya merugikan konsumen. Tetapi juga merugikan perusahaan. Kerugian atas kasus tersebut dirasakan produsen benih jagung unggul itu mencapai Rp 5 miliar.

Atas perbuatannya itu, para tersangka dijerat pasal berlapis. Selain dikenai pasal 115 UU RI nomor 22 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian, para pelaku juga dijerat pasal 100 jo pasal 102 UU RI nomor 20 tahun 2016 tentang Merek Dan Indikasi Geografis.

“Ancamannya bisa hukuman penjara hingga 6 tahun serta denda hingga Rp 3 miliar,” sampainya.

Ungkap kasus inipun, diapresiasi oleh Pengawas Benih dan Tanaman UPT PSBTPH Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Darlina Yuni Astuti. Sebab, pemalsuan produk benih jagung unggul itu merugikan banyak pihak. Tidak hanya perusahaan, tetapi masyarakat dan negara dari pajak perusahaan. “Kami mengapresiasi langkah kepolisian atas pengungkapan tersebut,” ungkap dia.

Di sisi lain, para pelaku hanya tertunduk lesu saat diwawancarai. Ahmad Saeroji mengaku, tertarik dengan bisnis pemalsuan tersebut lantaran keuntungannya yang tinggi. Meski sebetulnya, ia pernah tersandung atas kasus yang sama. “Sebelumnya, memang pernah ditahan selama 10 bulan,” akunya. (one/hn/fun)

BANGIL, Radar Bromo – Satreskrim Polres Pasuruan berhasil menggulung jaringan sindikat pemalsu benih jagung unggul beromzet miliaran rupiah. Tiga orang yang terlibat dalam sindikat itu berhasil ditangkap.

Semuanya dari luar Pasuruan. Yaitu, Ahmad Saeroji, 36, warga Krajan Kulon, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember; Mohammad Shoqibul Izar, 32, warga Desa/Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk dan Indra Irawan, 34, warga Desa Balonggebang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Ketiganya ditangkap polisi di rumahnya masing-masing pada Jumat (13/11) dan Sabtu (14/11).

Kapolres Pasuruan, AKBP Rofiq Ripto Himawan menguraikan, mereka adalah sindikat pemalsu benih jagung merek Bisi-18. Awalnya menurut Kapolres, sejumlah petani Raci, Kecamatan Bangil, mengeluhkan hasil panen jagung mereka yang tidak sesuai ekspektasi.

JARINGAN ANTARPULAU: Saat ini petugas sudah mengamankan 35 ton produk jagung palsu tersebut. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Sebagai benih jagung unggul, seharusnya Bisi-18 yang mereka tanam bisa menghasilkan produksi jagung yang melimpah. Namun, faktanya di lapangan malah sebaliknya.

“Kami mendapatkan keluhan dari petani di wilayah Raci bahwa hasil produksi jagung mereka tidak sesuai harapan. Padahal, benih yang mereka tanam adalah jenis unggul dan telah bersertifikasi,” beber Kapolres.

Dari situ, petugas kepolisian melakukan penelusuran. Penelusuran awal dilakukan terhadap barang yang dijual di sebuah kios milik saksi AM yang ada di Desa Raci, Kecamatan Bangil. Dari sana, petugas pun mengamankan beberapa sak kecil ukuran 1 kg jagung merek Bisi-18.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan produsen jagung Bisi-18. Dari situlah diketahui bahwa produk jagung tersebut, palsu. “Kami kemudian melakukan pendalaman lanjutan,” imbuhnya.

Penelusuran lebih jauh dilakukan anggota Satreskrim Polres Pasurun. Hingga akhirnya petugas mengantongi lima nama yang diduga terlibat dalam bisnis jagung palsu merek Bisi-18 itu. Tiga orang pelaku berhasil diringkus. Sementara, dua di antaranya masih dalam penelusuran.

“Ada lima orang yang diduga kuat terlibat dalam bisnis pemalsuan merek produk jagung unggul ini. Dari lima pelaku tersebut, tiga di antaranya ditangkap dan sudah ditahan. Sementara, dua orang masih dalam penelusuran.

Tiga orang yang ditangkap itu, tak lain adalah Ahmad Saeroji, 36; Mohammad Shoqibul Izar, 32, dan Indra Irawan, 34. Ahmad Saeroji ditangkap 13 November 2020. Sementara, Shoqibul Izar dan Indra Irawan, ditangkap sehari setelahnya. Sementara, dua orang lain, yakni MS dan HR masih dalam pengejaran.

Menurut perwira dengan dua melati di pundaknya itu, masing-masing dari mereka memiliki peranan berbeda. Shoqibul Izar dan Indra Irawan, berperan sebagai pemodal serta bertanggung jawab untuk produksi di gudang. Sementara Ahmad Seroji, bertugas menyuplai bahan selain juga pemodal.

Sedangkan MS, berperan sebagai pemodal, pengedar serta pengadaan mesin dan alat. Lalu HR, berperan menyediakan kemasan dan hologram palsu.

“Ada empat pemodal. Masing-masing berinvestasi Rp 50 juta dalam menjalankan operasi terlarang itu,” tutur dia.

Rofiq menjelaskan, modus operasi yang mereka lakukan dengan memalsu jagung unggul Bisi-18 yang diproduksi PT Bisi Internasional. Mereka mengemas jagung biasa yang hanya berharga Rp 8 ribu hingga 12 ribu per kilogram.

Jagung varietas biasa itu mereka kemas dengan kemasan merek Bisi-18. Untuk meyakinkan konsumen, mereka juga memasangi logo hologram pada kemasan produk yang dipesan dari China. Selanjutnya, produk palsu itu mereka jual dengan harga Rp 37 ribu hingga Rp 42 ribu per kilogram.

Padahal, produk yang asli dijual senilai Rp 75 ribu per kilogram. Artinya, ada keuntungan lebih dari bisnis jagung palsu tersebut. Yaitu senilai Rp 29 ribu sampai Rp 30 ribu.

Disampaikan Rofiq, bisnis yang dijalankan para pelaku sudah berlangsung berbulan-bulan. Dari hasil pemeriksaan, mereka mengaku menjalankan bisnis itu sejak Juli 2020.

Produk palsu yang mereka buat pun punya pasar yang cukup luas. Tidak hanya merambah Kabupaten Pasuruan dan Jawa Timur. Tetapi merambah antar Provinsi, bahkan pulau. Karena, produk mereka sudah masuk di wilayah Kalimantan, Lampung hingga NTB.

Saat ini petugas sudah mengamankan 35 ton produk jagung palsu tersebut. Namun, masih ada sekitar 75 ton produk jagung hibrida palsu yang beredar.

“Omzet yang mereka dapatkan bisa miliaran rupiah. Kami juga mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk alat produksi untuk pengemasan bibit jagung unggul palsu,” sampainya.

Dilanjutkan Rofiq, salah satu pelaku bukanlah orang baru dalam hal pemalsuan benih. Ahmad Saeroji, pernah dipenjara atas kasus yang sama. Tersangka merupakan residivis Polda Jatim. Ia sempat ditahan selama 10 bulan, dan baru keluar akhir tahun 2019.

Kasus pemalsuan tersebut tidak hanya merugikan konsumen. Tetapi juga merugikan perusahaan. Kerugian atas kasus tersebut dirasakan produsen benih jagung unggul itu mencapai Rp 5 miliar.

Atas perbuatannya itu, para tersangka dijerat pasal berlapis. Selain dikenai pasal 115 UU RI nomor 22 tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian, para pelaku juga dijerat pasal 100 jo pasal 102 UU RI nomor 20 tahun 2016 tentang Merek Dan Indikasi Geografis.

“Ancamannya bisa hukuman penjara hingga 6 tahun serta denda hingga Rp 3 miliar,” sampainya.

Ungkap kasus inipun, diapresiasi oleh Pengawas Benih dan Tanaman UPT PSBTPH Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim, Darlina Yuni Astuti. Sebab, pemalsuan produk benih jagung unggul itu merugikan banyak pihak. Tidak hanya perusahaan, tetapi masyarakat dan negara dari pajak perusahaan. “Kami mengapresiasi langkah kepolisian atas pengungkapan tersebut,” ungkap dia.

Di sisi lain, para pelaku hanya tertunduk lesu saat diwawancarai. Ahmad Saeroji mengaku, tertarik dengan bisnis pemalsuan tersebut lantaran keuntungannya yang tinggi. Meski sebetulnya, ia pernah tersandung atas kasus yang sama. “Sebelumnya, memang pernah ditahan selama 10 bulan,” akunya. (one/hn/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/