alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Tuesday, 16 August 2022

Meski Banyak Warga Binaan Dapat Asimilasi, Rutan Bangil Tetap Sesak

BANGIL, Radar Bromo- Ratusan warga binaan Rutan Bangil telah mendapatkan asimilasi. Namun, hal ini belum mampu membuat huniannya lebih longgar. Rutan berkapasitas 200 orang ini tetap sesak. Maklum, kini diisi 570 warga binaan.

Kepala Rutan Bangil Tristiantoro Adi Wibowo mengatakan, saat ini penghuni Rutan Bangil mencapai 570 orang. Jumlah ini jelas jauh dari kata ideal. Karena, kapasitas normal Rutan Bangil hanya 200 orang.

Membeludaknya warga binaan ini tak lepas dari banyaknya penghuni baru. Hampir setiap pekan ada tambahan. Bahkan, tidak sebanding dengan warga binaan yang keluar.

“Katakanlah ada penambahan lima orang sepekan. Yang keluar atau pindah hanya dua sampai tiga orang. Ini yang akhirnya membuat hunian Rutan Bangil belum bisa longgar,” ujarnya.

Program asimilasi memang masih diberlakukan. Sesuai petunjuk Pemerintah Pusat, kebijakan ini akan berlaku hingga 31 Desember 2021. “Sudah lebih dari 100 orang yang mendapat asimilasi. Tapi, tidak serta merta membuat hunian Rutan Bangil longgar. Karena juga ada warga binaan yang baru masuk,” jelasnya.

Karenanya, pihaknya hanya bisa memaksimalkan ruang yang ada. Serta, mengupayakan memindah warga binaan ke lembaga pemasyarakatan (Lapas). Khususnya mereka yang kasusnya sudah berkekuatan hukum tetap.

Di samping itu, dengan status PPKM Level 2, tak serta merta membuat Rutan Bangil memuka pelayanan tatap muka. Pihak keluarga yang hendak menemui kerabatnya di rutan hanya bisa dilakukan secara virtual.

Tristiantoro Adi Wibowo mengatakan, masih menggunakan layanan kunjungan virtual untuk menghindari kerumunan dan interaksi langsung antara warga binaan dengan keluarganya. Tujuannya, mencegah penyebaran Covid-19 di rutan.

Menurutnya, Rutan Bangil menjadi tempat yang rentan. Karena banyaknya warga binaan yang tinggal dalam satu lingkungan. “Kami menghindari penyebaran Covid-19 di Rutan. Karena, bila ada yang terkena, sulit untuk menanganinya. Penyebarannya pun bisa mudah,” jelasnya.

Apalagi, belum ada petunjuk langsung dari Pemerintah Pusat berkaitan dengan layanan tatap muka di rutan. Pihaknya pun memilih melanjutkan layanan virtual. Karena, dinilai lebih aman dari penularan Covid-19.

Ia memahami banyak warga binaan yang rindu terhadap keluarganya. Rindu bertemu langsung. Karena sudah cukup lama tak bertatap muka. Namun, pandemi belum benar-benar berakhir.

“Kunjungan virtual lebih aman dari risiko penularan Covid-19. Tidak bisa dipungkiri kalau banyak warga binaan yang sudah rindu keluarga. Tapi, ini kan demi keselamatan bersama,” ujarnya. (one/rud)

BANGIL, Radar Bromo- Ratusan warga binaan Rutan Bangil telah mendapatkan asimilasi. Namun, hal ini belum mampu membuat huniannya lebih longgar. Rutan berkapasitas 200 orang ini tetap sesak. Maklum, kini diisi 570 warga binaan.

Kepala Rutan Bangil Tristiantoro Adi Wibowo mengatakan, saat ini penghuni Rutan Bangil mencapai 570 orang. Jumlah ini jelas jauh dari kata ideal. Karena, kapasitas normal Rutan Bangil hanya 200 orang.

Membeludaknya warga binaan ini tak lepas dari banyaknya penghuni baru. Hampir setiap pekan ada tambahan. Bahkan, tidak sebanding dengan warga binaan yang keluar.

“Katakanlah ada penambahan lima orang sepekan. Yang keluar atau pindah hanya dua sampai tiga orang. Ini yang akhirnya membuat hunian Rutan Bangil belum bisa longgar,” ujarnya.

Program asimilasi memang masih diberlakukan. Sesuai petunjuk Pemerintah Pusat, kebijakan ini akan berlaku hingga 31 Desember 2021. “Sudah lebih dari 100 orang yang mendapat asimilasi. Tapi, tidak serta merta membuat hunian Rutan Bangil longgar. Karena juga ada warga binaan yang baru masuk,” jelasnya.

Karenanya, pihaknya hanya bisa memaksimalkan ruang yang ada. Serta, mengupayakan memindah warga binaan ke lembaga pemasyarakatan (Lapas). Khususnya mereka yang kasusnya sudah berkekuatan hukum tetap.

Di samping itu, dengan status PPKM Level 2, tak serta merta membuat Rutan Bangil memuka pelayanan tatap muka. Pihak keluarga yang hendak menemui kerabatnya di rutan hanya bisa dilakukan secara virtual.

Tristiantoro Adi Wibowo mengatakan, masih menggunakan layanan kunjungan virtual untuk menghindari kerumunan dan interaksi langsung antara warga binaan dengan keluarganya. Tujuannya, mencegah penyebaran Covid-19 di rutan.

Menurutnya, Rutan Bangil menjadi tempat yang rentan. Karena banyaknya warga binaan yang tinggal dalam satu lingkungan. “Kami menghindari penyebaran Covid-19 di Rutan. Karena, bila ada yang terkena, sulit untuk menanganinya. Penyebarannya pun bisa mudah,” jelasnya.

Apalagi, belum ada petunjuk langsung dari Pemerintah Pusat berkaitan dengan layanan tatap muka di rutan. Pihaknya pun memilih melanjutkan layanan virtual. Karena, dinilai lebih aman dari penularan Covid-19.

Ia memahami banyak warga binaan yang rindu terhadap keluarganya. Rindu bertemu langsung. Karena sudah cukup lama tak bertatap muka. Namun, pandemi belum benar-benar berakhir.

“Kunjungan virtual lebih aman dari risiko penularan Covid-19. Tidak bisa dipungkiri kalau banyak warga binaan yang sudah rindu keluarga. Tapi, ini kan demi keselamatan bersama,” ujarnya. (one/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/