alexametrics
24.4 C
Probolinggo
Wednesday, 17 August 2022

Warga Mojoparon Rembang Wadul Dewan karena Tak Tahan Sungai Tercemar

BANGIL, Radar Bromo – Lagi-lagi, warga mengeluhkan pencemaran sungai. Warga di Dusun Mojokopek, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, sampai harus wadul ke DPRD Kabupaten Pasuruan. Sebab, mereka tidak tahan lagi dengan pencemaran Sungai Baweh.

Pada DPRD, warga minta ada tindakan tegas terhadap PT Mitra Alam Segar (PT MAS) di Rembang yang diduga penyebab pencemaran di Sungai Baweh. Sebab, pencemaran itu, menurut Subianto, salah satu warga Mojokopek, sudah sangat menyiksa kehidupan warga.

Selain bau busuk menyengat, air sungai juga rusak lantaran berlendir. Bahkan, diindikasi ada pipa siluman yang dibuat perusahaan minuman itu dan dialirkan ke sungai. Sehingga akhirnya memicu pencemaran lingkungan.

“Kami tidak mau apa-apa. Hanya meminta sungai kembali bersih seperti semula,” kata Subianto.

Menurutnya, sudah dua tahun Sungai Baweh tercemar. Namun, selama itu pula tidak ada tindakan dari pihak perusahaan. Karena itulah, ia berharap ada sikap tegas dari legislatif. Supaya pencemaran sungai oleh perusahaan bisa dihentikan.

“Kami berharap anggota legislatif tegas. Karena sudah lama kami tersiksa dengan limbah perusahaan,” ujarnya.

Sementara, Humas PT MAS Pundik menegaskan, semua aturan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah sudah dipenuhi perusahaannya. Perizinan limbah yang dimiliki perusahaan sudah sesuai dengan aturan pemerintah. Lalu, perizinan untuk IPAL masih berlaku hingga 2025.

BANGIL, Radar Bromo – Lagi-lagi, warga mengeluhkan pencemaran sungai. Warga di Dusun Mojokopek, Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, sampai harus wadul ke DPRD Kabupaten Pasuruan. Sebab, mereka tidak tahan lagi dengan pencemaran Sungai Baweh.

Pada DPRD, warga minta ada tindakan tegas terhadap PT Mitra Alam Segar (PT MAS) di Rembang yang diduga penyebab pencemaran di Sungai Baweh. Sebab, pencemaran itu, menurut Subianto, salah satu warga Mojokopek, sudah sangat menyiksa kehidupan warga.

Selain bau busuk menyengat, air sungai juga rusak lantaran berlendir. Bahkan, diindikasi ada pipa siluman yang dibuat perusahaan minuman itu dan dialirkan ke sungai. Sehingga akhirnya memicu pencemaran lingkungan.

“Kami tidak mau apa-apa. Hanya meminta sungai kembali bersih seperti semula,” kata Subianto.

Menurutnya, sudah dua tahun Sungai Baweh tercemar. Namun, selama itu pula tidak ada tindakan dari pihak perusahaan. Karena itulah, ia berharap ada sikap tegas dari legislatif. Supaya pencemaran sungai oleh perusahaan bisa dihentikan.

“Kami berharap anggota legislatif tegas. Karena sudah lama kami tersiksa dengan limbah perusahaan,” ujarnya.

Sementara, Humas PT MAS Pundik menegaskan, semua aturan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah sudah dipenuhi perusahaannya. Perizinan limbah yang dimiliki perusahaan sudah sesuai dengan aturan pemerintah. Lalu, perizinan untuk IPAL masih berlaku hingga 2025.

MOST READ

BERITA TERBARU

/