alexametrics
27C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Gara-gara Refocusing, Ribuan Anak Yatim-Piatu Terancam Kelaparan

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

BANGIL, Radar Bromo– Ribuan anak yatim dan piatu yang hidup di panti asuhan di Kabupaten Pasuruan, terancam “kelaparan”. Hal ini seiring dengan macetnya bantuan yang diberikan pemerintah daerah sejak 2020 lalu.

Macetnya bantuan dana untuk permakanan di panti asuhan imbas refocusing itu, dikhawatirkan juga berlangsung tahun 2021 ini. Karenanya, sejumlah pengurus panti asuhan, berdatangan ke kantor legislatif kemarin (7/4). Mereka meminta kejelasan dan support anggaran untuk permakanan anak-anak panti asuhan, disediakan.

Wakil Ketua Forum Kesejahteraan Sosial Anak (FKSA) Kabupaten Pasuruan, Tri Hariono memaparkan, bantuan permakanan untuk anak-anak di panti asuhan, sangat dibutuhkan. Karena, menunjang kebutuhan pangan, bagi anak-anak yang tinggal di asrama dan di luar asrama panti asuhan.

Sayangnya, sejak pandemi Covid-19, bantuan tersebut macet. Tahun 2020 lalu, tidak ada support anggaran dari pemerintah daerah, untuk permakanan tersebut.

“Kami sudah pusing tujuh keliling. Bagaimana, menghidupi puluhan anak yang ada di asrama. Karena bagaimanapun, urusan perut, tidak bisa ditunda,” jelas Hariono-sapaannya.

Pengurus Panti Asuhan Siti Fatimah Pandaan itu menambahkan, ada sebanyak 91 anak yang tinggal di asrama setempat. Setiap harinya kebutuhan makan untuk anak-anak yatim dan piatu tersebut, paling tidak bisa menghabiskan ratusan ribu bahkan satu juta lebih.

Bayangkan bila sebulan. Puluhan juta dibutuhkan, untuk biaya tersebut. “Belum lagi, kebutuhan anak-anak yatim dan piatu di luar asrama. Atau orang-orang jompo yang harus kami bantu. Jumlahnya bisa sampai 135 orang,” bebernya.

Kondisi ini, yang membuat support anggaran tersebut, sangat dibutuhkan. Karena, selain mengandalkan donatur, tak jarang harus menggunakan uang pribadi. Terlebih dengan masa pandemi seperti sekarang ini.

Bantuan dari donatur, juga berkurang. Tidak seperti sebelumnya. “Kalau dulu, setiap harinya masih bisa dapat. Tapi sekarang, pernah tidak sampai dapat,” urainya.

Hal ini yang membuat para pengurus panti asuhan kelimpungan. Bukan hanya dirinya. Tetapi, puluhan panti asuhan lain.

Ia mencatat, ada 37 panti asuhan yang masuk FKSA dan saat ini sedang kebingungan. Dari puluhan tersebut, ada 2.200 anak lebih yang harus dihidupi. Mereka saat ini, sedang kelimpungan. Terlebih dengan bantuan dari pemerintah sejak 2020 lalu, macet hingga sekarang. Pihaknya pun khawatir, tahun 2021 juga macet kembali.

“Kami datang ke sini, untuk mempertanyakan bantuan tersebut. Kami sangat berharap, support anggaran tersebut diberikan tidak lagi sampai macet,” akunya.

Senada diungkapkan anggota FKSA Pasuruan lainnya, Sifak. Pengurus panti asuhan Al Ikhlas Sukorejo ini menguraikan, merasa trauma jika tidak mendapatkan bantuan permakanan untuk anak-anak panti tersebut. Karena, pihaknya tak tahu mau kemana lagi, bisa mendapatkan bantuan.

“Dari provinsi dan pusat juga sudah macet sejak beberapa tahun lalu. Sekarang, dari Pemkab juga macet sejak 2020 lalu. Kami khawatir, tahun ini juga sama. Bagaimana nasib anak-anak panti yang tinggal diasrama,” bebernya.

Ia menguraikan, bantuan permakanan yang diberikan untuk setiap panti asuhan, memang bervariasi. Antara Rp 19 juta hingga Rp 57 juta per tahunnya. Dana itu, untuk menunjang permakanan yang didapat dari donatur.

Sejumlah pengurus panti asuhan itu, ditemui anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan di ruang komisi. Menurut Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto, pihaknya akan serius mengawal persoalan ini. Pihaknya pun tak bisa membayangkan, besarnya energi untuk ngerumat dan ngramut para anak-anak panti tersebut.

“Kami berharap agar bersabar. kami akan komunikasikan dengan pimpinan,” tandasnya.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, M. Zaini menilai, sejauh ini, pihaknya belum ada pembahasan refocusing yang berkaitan dengan dana permakanan untuk panti asuhan. Karena itu, ia yakin anggaran Rp 1,6 miliar yang telah dialokasikan sebelumnya, masih tersedia.

“Sampai saat ini, kami belum ada bahasan untuk merefocusing anggaran hibah panti asuhan tersebut,” timpalnya.

Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan, Suwito Adi menuturkan, anggaran untuk bantuan permakanan di panti asuhan masih tersedia. Belum tersentuh refocusing. Kalaupun ada refocusing, ia meyakinkan nilainya tidak akan signifikan.

“Tapi, nilai pastinya, kami masih akan cek kembali. Yang jelas, tahun 2021 ini, masih ada bantuan permakanan untuk panti asuhan,” jelasnya. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

BANGIL, Radar Bromo– Ribuan anak yatim dan piatu yang hidup di panti asuhan di Kabupaten Pasuruan, terancam “kelaparan”. Hal ini seiring dengan macetnya bantuan yang diberikan pemerintah daerah sejak 2020 lalu.

Macetnya bantuan dana untuk permakanan di panti asuhan imbas refocusing itu, dikhawatirkan juga berlangsung tahun 2021 ini. Karenanya, sejumlah pengurus panti asuhan, berdatangan ke kantor legislatif kemarin (7/4). Mereka meminta kejelasan dan support anggaran untuk permakanan anak-anak panti asuhan, disediakan.

Wakil Ketua Forum Kesejahteraan Sosial Anak (FKSA) Kabupaten Pasuruan, Tri Hariono memaparkan, bantuan permakanan untuk anak-anak di panti asuhan, sangat dibutuhkan. Karena, menunjang kebutuhan pangan, bagi anak-anak yang tinggal di asrama dan di luar asrama panti asuhan.

Mobile_AP_Half Page

Sayangnya, sejak pandemi Covid-19, bantuan tersebut macet. Tahun 2020 lalu, tidak ada support anggaran dari pemerintah daerah, untuk permakanan tersebut.

“Kami sudah pusing tujuh keliling. Bagaimana, menghidupi puluhan anak yang ada di asrama. Karena bagaimanapun, urusan perut, tidak bisa ditunda,” jelas Hariono-sapaannya.

Pengurus Panti Asuhan Siti Fatimah Pandaan itu menambahkan, ada sebanyak 91 anak yang tinggal di asrama setempat. Setiap harinya kebutuhan makan untuk anak-anak yatim dan piatu tersebut, paling tidak bisa menghabiskan ratusan ribu bahkan satu juta lebih.

Bayangkan bila sebulan. Puluhan juta dibutuhkan, untuk biaya tersebut. “Belum lagi, kebutuhan anak-anak yatim dan piatu di luar asrama. Atau orang-orang jompo yang harus kami bantu. Jumlahnya bisa sampai 135 orang,” bebernya.

Kondisi ini, yang membuat support anggaran tersebut, sangat dibutuhkan. Karena, selain mengandalkan donatur, tak jarang harus menggunakan uang pribadi. Terlebih dengan masa pandemi seperti sekarang ini.

Bantuan dari donatur, juga berkurang. Tidak seperti sebelumnya. “Kalau dulu, setiap harinya masih bisa dapat. Tapi sekarang, pernah tidak sampai dapat,” urainya.

Hal ini yang membuat para pengurus panti asuhan kelimpungan. Bukan hanya dirinya. Tetapi, puluhan panti asuhan lain.

Ia mencatat, ada 37 panti asuhan yang masuk FKSA dan saat ini sedang kebingungan. Dari puluhan tersebut, ada 2.200 anak lebih yang harus dihidupi. Mereka saat ini, sedang kelimpungan. Terlebih dengan bantuan dari pemerintah sejak 2020 lalu, macet hingga sekarang. Pihaknya pun khawatir, tahun 2021 juga macet kembali.

“Kami datang ke sini, untuk mempertanyakan bantuan tersebut. Kami sangat berharap, support anggaran tersebut diberikan tidak lagi sampai macet,” akunya.

Senada diungkapkan anggota FKSA Pasuruan lainnya, Sifak. Pengurus panti asuhan Al Ikhlas Sukorejo ini menguraikan, merasa trauma jika tidak mendapatkan bantuan permakanan untuk anak-anak panti tersebut. Karena, pihaknya tak tahu mau kemana lagi, bisa mendapatkan bantuan.

“Dari provinsi dan pusat juga sudah macet sejak beberapa tahun lalu. Sekarang, dari Pemkab juga macet sejak 2020 lalu. Kami khawatir, tahun ini juga sama. Bagaimana nasib anak-anak panti yang tinggal diasrama,” bebernya.

Ia menguraikan, bantuan permakanan yang diberikan untuk setiap panti asuhan, memang bervariasi. Antara Rp 19 juta hingga Rp 57 juta per tahunnya. Dana itu, untuk menunjang permakanan yang didapat dari donatur.

Sejumlah pengurus panti asuhan itu, ditemui anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan di ruang komisi. Menurut Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, Sugiarto, pihaknya akan serius mengawal persoalan ini. Pihaknya pun tak bisa membayangkan, besarnya energi untuk ngerumat dan ngramut para anak-anak panti tersebut.

“Kami berharap agar bersabar. kami akan komunikasikan dengan pimpinan,” tandasnya.

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Pasuruan, M. Zaini menilai, sejauh ini, pihaknya belum ada pembahasan refocusing yang berkaitan dengan dana permakanan untuk panti asuhan. Karena itu, ia yakin anggaran Rp 1,6 miliar yang telah dialokasikan sebelumnya, masih tersedia.

“Sampai saat ini, kami belum ada bahasan untuk merefocusing anggaran hibah panti asuhan tersebut,” timpalnya.

Kepala Dinsos Kabupaten Pasuruan, Suwito Adi menuturkan, anggaran untuk bantuan permakanan di panti asuhan masih tersedia. Belum tersentuh refocusing. Kalaupun ada refocusing, ia meyakinkan nilainya tidak akan signifikan.

“Tapi, nilai pastinya, kami masih akan cek kembali. Yang jelas, tahun 2021 ini, masih ada bantuan permakanan untuk panti asuhan,” jelasnya. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2