alexametrics
29C
Probolinggo
Friday, 23 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Keluarga Korban Perkosaan di Lumbang Geruduk PN Bangil, Menuntut Ini

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

BANGIL, Radar Bromo – Kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa NY, 13, membuat pihak keluarga dan warga di Kecamatan Lumbang, berang. Rabu (3/3), mereka mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Bangil untuk menuntut keadilan.

Mereka juga mendesak hukuman setimpal bagi terdakwa, JB, 40, warga Kecamatan Lumbang. Pasalnya, kelakuan jahat terdakwa, merusak masa depan seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas dua SMP tersebut.

“Kami datang ke sini, untuk menuntut keadilan. Tegakkan hukum seadil-adilnya. Hukum terdakwa seberat-beratnya,” kata IN, ibu korban pemerkosaan tersebut.

Kasus pemerkosaan itu menimpa anaknya, 12 Oktober 2020 lalu. Ketika itu, korban sedang tidur di rumah neneknya, Hlm, yang ada di wilayah Kecamatan Lumbang. Korban tidur di ruang tengah, sendirian.

Karena memang ia sering tidur di rumah tersebut, untuk menemani neneknya. Hingga sekitar pukul 01.30, kejadian tak diharapkan itu menimpa NY, si buah hati.

Dalam aksinya, keluarga juga sempat menyoroti hakim yang memimpin sidang terhadap terdakwa. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Ketika itu, JB mendatangi rumah tersebut. JB masuk rumah dan langsung menyekap korban. JB juga mengikat tangan korban, dan membawanya ke kamar kosong. Di situlah, korban diperkosa bahkan sampai mengeluarkan darah.

JB sendiri memang memiliki hubungan kerabat. Karena merupakan paman ipar dengan korban. “Kami menduga ada persekongkolan antara terdakwa dengan Hlm. Terdakwa merupakan menantu dari Hlm. Karena, terdakwa bisa masuk kamar, meski sudah dikunci. Lampu belakang yang biasanya menyala, juga mati. Bahkan, yang ngelap darah anak saya, juga Hlm itu,” imbuhnya.

Korban sempat mau pulang saat subuh tiba. Tapi oleh keduanya, dilarang. Korban juga diancam, agar tidak sampai bercerita ke siapapun. Karena korban bisa masuk penjara, bahkan bisa masuk koran.

Hal itu, sempat membuat korban ketakutan. Ketika sampai di rumah, NY hanya bisa sesenggukan. Tanpa bisa menceritakan apa yang baru saja menimpanya. “Saya sampai bentak dia. Baru dia mau cerita, apa yang menimpanya,” ulas IN.

Dari situlah, korban akhirnya bercerita kalau disetubuhi oleh JB. Tak terima dengan perbuatannya itu, ia pun melaporkan kasus ini ke polisi. Meski dilaporkan, tak serta merta terdakwa langsung ditahan. Karena, baru empat hari kemudian, JB ditangkap, setelah warga mendemo Polsek Lumbang.

Kasus tersebut, kata IN, sudah masuk persidangan dua kali. Dalam persidangan yang berlangsung, ada perlakuan tak menyenangkan yang dilakukan hakim, Hadi Erdiansyah. Sebab, menurut IN, hakim sempat melempar palu ke pendamping korban.

Lemparan palu itu dilakukan, setelah pendamping tersebut, minta foto pada kegiatan persidangan. “Pendamping anak saya dari dilempar palu oleh hakim. Bahkan, sempat diusir. Itu yang juga membuat kami datang ke kantor PN ini,” akunya.

Ketua PN Bangil, Dewantoro mengungkapkan, tidak ada pelemparan palu ke pendamping korban, seperti yang dimaksud. Hanya saja, hakim mengetok palu, untuk menandai skorsing. Karena waktu itu, pendamping anak tersebut, melakukan foto selfi, saat persidangan berlangsung.

“Bukan pelemparan, tapi hanya memberikan teguran dengan pengetokan palu sebagai penanda skorsing. Kan tidak boleh foto saat sidang,” jelasnya.

Ia pun membantah, kalau ada pengusiran terhadap pendamping korban. Karena, begitu hakim memberikan skorsing, pendamping memilih keluar ruangan. Padahal, pihak hakim memberi kesempatan untuk pendamping berfoto.

“Bukan pengusiran. Jadi, ketika skorsing, pendamping memilih keluar ruangan,” bebernya.

Ia menegaskan, kalau pihaknya tidak memberikan intervensi kepada hakim. “Kalau memang memberatkan, memang bisa tinggi hukumannya,” paparnya. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 1

BANGIL, Radar Bromo – Kasus dugaan pemerkosaan yang menimpa NY, 13, membuat pihak keluarga dan warga di Kecamatan Lumbang, berang. Rabu (3/3), mereka mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Bangil untuk menuntut keadilan.

Mereka juga mendesak hukuman setimpal bagi terdakwa, JB, 40, warga Kecamatan Lumbang. Pasalnya, kelakuan jahat terdakwa, merusak masa depan seorang bocah yang masih duduk di bangku kelas dua SMP tersebut.

“Kami datang ke sini, untuk menuntut keadilan. Tegakkan hukum seadil-adilnya. Hukum terdakwa seberat-beratnya,” kata IN, ibu korban pemerkosaan tersebut.

Mobile_AP_Half Page

Kasus pemerkosaan itu menimpa anaknya, 12 Oktober 2020 lalu. Ketika itu, korban sedang tidur di rumah neneknya, Hlm, yang ada di wilayah Kecamatan Lumbang. Korban tidur di ruang tengah, sendirian.

Karena memang ia sering tidur di rumah tersebut, untuk menemani neneknya. Hingga sekitar pukul 01.30, kejadian tak diharapkan itu menimpa NY, si buah hati.

Dalam aksinya, keluarga juga sempat menyoroti hakim yang memimpin sidang terhadap terdakwa. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Ketika itu, JB mendatangi rumah tersebut. JB masuk rumah dan langsung menyekap korban. JB juga mengikat tangan korban, dan membawanya ke kamar kosong. Di situlah, korban diperkosa bahkan sampai mengeluarkan darah.

JB sendiri memang memiliki hubungan kerabat. Karena merupakan paman ipar dengan korban. “Kami menduga ada persekongkolan antara terdakwa dengan Hlm. Terdakwa merupakan menantu dari Hlm. Karena, terdakwa bisa masuk kamar, meski sudah dikunci. Lampu belakang yang biasanya menyala, juga mati. Bahkan, yang ngelap darah anak saya, juga Hlm itu,” imbuhnya.

Korban sempat mau pulang saat subuh tiba. Tapi oleh keduanya, dilarang. Korban juga diancam, agar tidak sampai bercerita ke siapapun. Karena korban bisa masuk penjara, bahkan bisa masuk koran.

Hal itu, sempat membuat korban ketakutan. Ketika sampai di rumah, NY hanya bisa sesenggukan. Tanpa bisa menceritakan apa yang baru saja menimpanya. “Saya sampai bentak dia. Baru dia mau cerita, apa yang menimpanya,” ulas IN.

Dari situlah, korban akhirnya bercerita kalau disetubuhi oleh JB. Tak terima dengan perbuatannya itu, ia pun melaporkan kasus ini ke polisi. Meski dilaporkan, tak serta merta terdakwa langsung ditahan. Karena, baru empat hari kemudian, JB ditangkap, setelah warga mendemo Polsek Lumbang.

Kasus tersebut, kata IN, sudah masuk persidangan dua kali. Dalam persidangan yang berlangsung, ada perlakuan tak menyenangkan yang dilakukan hakim, Hadi Erdiansyah. Sebab, menurut IN, hakim sempat melempar palu ke pendamping korban.

Lemparan palu itu dilakukan, setelah pendamping tersebut, minta foto pada kegiatan persidangan. “Pendamping anak saya dari dilempar palu oleh hakim. Bahkan, sempat diusir. Itu yang juga membuat kami datang ke kantor PN ini,” akunya.

Ketua PN Bangil, Dewantoro mengungkapkan, tidak ada pelemparan palu ke pendamping korban, seperti yang dimaksud. Hanya saja, hakim mengetok palu, untuk menandai skorsing. Karena waktu itu, pendamping anak tersebut, melakukan foto selfi, saat persidangan berlangsung.

“Bukan pelemparan, tapi hanya memberikan teguran dengan pengetokan palu sebagai penanda skorsing. Kan tidak boleh foto saat sidang,” jelasnya.

Ia pun membantah, kalau ada pengusiran terhadap pendamping korban. Karena, begitu hakim memberikan skorsing, pendamping memilih keluar ruangan. Padahal, pihak hakim memberi kesempatan untuk pendamping berfoto.

“Bukan pengusiran. Jadi, ketika skorsing, pendamping memilih keluar ruangan,” bebernya.

Ia menegaskan, kalau pihaknya tidak memberikan intervensi kepada hakim. “Kalau memang memberatkan, memang bisa tinggi hukumannya,” paparnya. (one/fun)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2