alexametrics
27 C
Probolinggo
Sunday, 16 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Waduh, Kades Bulusari di Gempol Dilaporkan Jual Bayi

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

BANGIL, Radar Bromo – Kabar tak sedap menyeruak dari Desa Bulusari, Kecamatan Gempol. Kepala Desa setempat, Siti Nurhayati, diduga terlibat perdagangan bayi. Bahkan, dia dituding memalsukan surat adopsi anak dari Nur Bintang Ariva Fitriana.

Kasus inipun dilaporkan ke pihak kepolisian. Laporan itu dilayangkan Nur Bintang Ariva Fitria melalui kuasa hukumnya, LBH Rakyat-Pasuruan.

Suryono Pane, perwakilan dari LBH Rakyat-Pasuruan menjelaskan, kasus tersebut bermula dari kliennya yang melahirkan pada 28 September 2020. Anak yang dinamai Muhammad Zulfikar itu dilahirkan di RS Mitra Sehat Medika Pandaan.

Saat kelahiran, kliennya memang diterpa masalah. Karena bapak dari anak tersebut tidak mau bertanggungjawab atas kelahiran bayi tersebut.

Hingga kemudian, ibu dari kliennya yaitu Nurjanah berinisiatif menghubungi Siti Nurhayati. Nurjanah meminta Siti Nurhayati yang merupakan kepala desa Bulusari untuk mencarikan orang yang mau mengadopsi si bayi. Sayangnya, hal itu sebenarnya tanpa diketahui kliennya.

Tanggal 30 September 2020, Siti Nurhayati menjemput ketiganya di rumah sakit. Mereka kemudian dibawa dari rumah sakit ke arah Mojokerto. Tapi, sampai di Carat, Kecamatan Gempol, kliennya diturunkan di Indomaret.

Sementara anaknya dan Nurjanah ibunya, dibawa ke Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Mereka dibawa ke rumah LM, keluarga yang hendak mengadopsi si bayi.

“Oleh pihak yang bersangkutan (Siti Nurhayati, red), ibu dari klien kami diberi secarik kertas kosong. Ia juga diminta menulis nama lengkap dan alamatnya. Ia juga diberi Rp 2 juta,” katanya.

Nurjanah sempat menolak. Tapi Siti Nurhayati beralasan uang itu untuk mengganti biaya perawatan di rumah sakit. Sehingga, akhirnya ia luluh.

Setelah itu, kliennya terus menanyakan bayi itu kepada ibunya. Karena sejak di rumah sakit, kliennya belum bertemu dengan anaknya.

Pane panggilannya menambahkan, kliennya sempat meminta bayi itu dikembalikan. Ia meminta ke Kades secara baik-baik. Tapi, permintaannya itu tak ditanggapi. Tidak ada iktikad baik untuk mengembalikan bayi tersebut.

“Mereka juga sempat menunjukkan surat adopsi. Tapi, surat tersebut tidak sesuai sebenarnya. Tanda tangannya, bukan ibu kandung bayi, yakni klien kami. Tapi Siti Nurjanah, ibu dari klien kami,” bebernya.

Dari situlah, kliennya meminta bantuan. Untuk membantu kliennya, ia sudah melayangkan somasi. Agar bayi tersebut dikembalikan. Sayangnya, bayinya tidak kunjung dikembalikan.

“Karena tidak ada iktikad baik, makanya kami melaporkan pihak kepala desa dan orang tua adopsi, ke pihak kepolisian. Laporan kami berkaitan surat palsu serta perbuatan yang mengarah ke perdagangan anak,” ulasnya.

Laporan itu dilayangkannya 22 April 2021. Namun, Kasatreskrim Polres Pasuruan, AKP Adrian Wimbarda mengaku belum memperoleh laporan tersebut. “Belum ada. Coba nanti tak cek lagi,” akunya.

Sementara Kades Bulusari, Kecamatan Gempol, Siti Nurhayati mengaku, dirinya sebenarnya hanya berniat menolong Nurjanah dan anaknya. Sebab, Nurjanah beberapa kali meminta bantuan untuk dicarikan orang yang mau mengadopsi si bayi.

Nurjanah menruut Siti Nurhayati mengeku karena anaknya yang masih kuliah itu hamil dan melahirkan. Sementara lelaki yang menghamili anaknya tidak mau bertanggung jawab.

“Dia menghubungi saya dan memohon bantuan. Dia (Nurjanah, red) itu sahabat saya. Karena sahabat, saya akhirnya menolongnya, mencarikan keluarga yang mau mengadopsi,” tuturnya.

Ia pun heran kenapa akhirnya menjadi seperti ini. Sebab, untuk membantu Nurjanah ia sudah banyak berkorban. Termasuk mengorbankan uang pribadinya untuk membantu perawatan anaknya di rumah sakit. “Niat baik saya kok malah dibalas seperti ini,” sampainya.

Untuk mengembalikan bayi tersebut, bukanlah perkara mudah. Bayangkan, sudah beberapa bulan bayi itu dirawat keluarga yang mengadopsi. Tapi kini malah diminta dikembalikan.

“Bagaimana perasaan orang tua yang merawat. Pasti sedih. Sudah berbulan-bulan merawat, kini malah diminta kembali. Hewan peliharaan saja kalau hilang sedih. Apalagi ini manusia,” sesalnya.

Pernah kata Siti Nurhayati, Nurjanah meminta handphone kepadanya. Tapi, ia tak menanggapi.

“Apa mungkin karena itu. Sehingga, Nurjanah itu marah sampai ada persoalan seperti ini. Perlakuan baik saya malah dituduh yang bukan-bukan,” imbuhnya. (one/hn)

Mobile_AP_Rectangle 1

BANGIL, Radar Bromo – Kabar tak sedap menyeruak dari Desa Bulusari, Kecamatan Gempol. Kepala Desa setempat, Siti Nurhayati, diduga terlibat perdagangan bayi. Bahkan, dia dituding memalsukan surat adopsi anak dari Nur Bintang Ariva Fitriana.

Kasus inipun dilaporkan ke pihak kepolisian. Laporan itu dilayangkan Nur Bintang Ariva Fitria melalui kuasa hukumnya, LBH Rakyat-Pasuruan.

Suryono Pane, perwakilan dari LBH Rakyat-Pasuruan menjelaskan, kasus tersebut bermula dari kliennya yang melahirkan pada 28 September 2020. Anak yang dinamai Muhammad Zulfikar itu dilahirkan di RS Mitra Sehat Medika Pandaan.

Mobile_AP_Half Page

Saat kelahiran, kliennya memang diterpa masalah. Karena bapak dari anak tersebut tidak mau bertanggungjawab atas kelahiran bayi tersebut.

Hingga kemudian, ibu dari kliennya yaitu Nurjanah berinisiatif menghubungi Siti Nurhayati. Nurjanah meminta Siti Nurhayati yang merupakan kepala desa Bulusari untuk mencarikan orang yang mau mengadopsi si bayi. Sayangnya, hal itu sebenarnya tanpa diketahui kliennya.

Tanggal 30 September 2020, Siti Nurhayati menjemput ketiganya di rumah sakit. Mereka kemudian dibawa dari rumah sakit ke arah Mojokerto. Tapi, sampai di Carat, Kecamatan Gempol, kliennya diturunkan di Indomaret.

Sementara anaknya dan Nurjanah ibunya, dibawa ke Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Mereka dibawa ke rumah LM, keluarga yang hendak mengadopsi si bayi.

“Oleh pihak yang bersangkutan (Siti Nurhayati, red), ibu dari klien kami diberi secarik kertas kosong. Ia juga diminta menulis nama lengkap dan alamatnya. Ia juga diberi Rp 2 juta,” katanya.

Nurjanah sempat menolak. Tapi Siti Nurhayati beralasan uang itu untuk mengganti biaya perawatan di rumah sakit. Sehingga, akhirnya ia luluh.

Setelah itu, kliennya terus menanyakan bayi itu kepada ibunya. Karena sejak di rumah sakit, kliennya belum bertemu dengan anaknya.

Pane panggilannya menambahkan, kliennya sempat meminta bayi itu dikembalikan. Ia meminta ke Kades secara baik-baik. Tapi, permintaannya itu tak ditanggapi. Tidak ada iktikad baik untuk mengembalikan bayi tersebut.

“Mereka juga sempat menunjukkan surat adopsi. Tapi, surat tersebut tidak sesuai sebenarnya. Tanda tangannya, bukan ibu kandung bayi, yakni klien kami. Tapi Siti Nurjanah, ibu dari klien kami,” bebernya.

Dari situlah, kliennya meminta bantuan. Untuk membantu kliennya, ia sudah melayangkan somasi. Agar bayi tersebut dikembalikan. Sayangnya, bayinya tidak kunjung dikembalikan.

“Karena tidak ada iktikad baik, makanya kami melaporkan pihak kepala desa dan orang tua adopsi, ke pihak kepolisian. Laporan kami berkaitan surat palsu serta perbuatan yang mengarah ke perdagangan anak,” ulasnya.

Laporan itu dilayangkannya 22 April 2021. Namun, Kasatreskrim Polres Pasuruan, AKP Adrian Wimbarda mengaku belum memperoleh laporan tersebut. “Belum ada. Coba nanti tak cek lagi,” akunya.

Sementara Kades Bulusari, Kecamatan Gempol, Siti Nurhayati mengaku, dirinya sebenarnya hanya berniat menolong Nurjanah dan anaknya. Sebab, Nurjanah beberapa kali meminta bantuan untuk dicarikan orang yang mau mengadopsi si bayi.

Nurjanah menruut Siti Nurhayati mengeku karena anaknya yang masih kuliah itu hamil dan melahirkan. Sementara lelaki yang menghamili anaknya tidak mau bertanggung jawab.

“Dia menghubungi saya dan memohon bantuan. Dia (Nurjanah, red) itu sahabat saya. Karena sahabat, saya akhirnya menolongnya, mencarikan keluarga yang mau mengadopsi,” tuturnya.

Ia pun heran kenapa akhirnya menjadi seperti ini. Sebab, untuk membantu Nurjanah ia sudah banyak berkorban. Termasuk mengorbankan uang pribadinya untuk membantu perawatan anaknya di rumah sakit. “Niat baik saya kok malah dibalas seperti ini,” sampainya.

Untuk mengembalikan bayi tersebut, bukanlah perkara mudah. Bayangkan, sudah beberapa bulan bayi itu dirawat keluarga yang mengadopsi. Tapi kini malah diminta dikembalikan.

“Bagaimana perasaan orang tua yang merawat. Pasti sedih. Sudah berbulan-bulan merawat, kini malah diminta kembali. Hewan peliharaan saja kalau hilang sedih. Apalagi ini manusia,” sesalnya.

Pernah kata Siti Nurhayati, Nurjanah meminta handphone kepadanya. Tapi, ia tak menanggapi.

“Apa mungkin karena itu. Sehingga, Nurjanah itu marah sampai ada persoalan seperti ini. Perlakuan baik saya malah dituduh yang bukan-bukan,” imbuhnya. (one/hn)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2