alexametrics
24.8 C
Probolinggo
Saturday, 2 July 2022

Cerita Nasabah Arisan Macet Rp 1 M di Beji

BEJI, Radar Bromo – Rumah Erna, 35, jadi sasaran protes puluhan anggota sebuah arisan, kemarin (2/4) siang. Sebab, uang arisan yang seharusnya cair tak kunjung mereka terima.

Total ada 58 peserta arisan yang belum mendapat hak mereka. Jumlahnya hampir Rp 1 miliar. Padahal, arisan sudah berakhir bulan Maret ini. Uang tersebut juga digadang-gadang untuk berbagai kebutuhan oleh anggotanya.

Maka, Erna pun jadi sasaran amukan mereka. Rumah Erna digeruduk oleh para anggota arisan tersebut. Sebab, perempuan itu merupakan penyelenggara arisan.

Mereka datang sambil marah-marah. Membawa spanduk dan poster. Begitu sampai di depan rumah Erna, mereka lantas berteriak-teriak.

“Ini arisan bodong. Kembalikan uang kami,” seru salah satu anggota arisan di depan rumah Erna di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Mereka juga minta agar uang peserta arisan segera dicairkan. Santi, salah satu peserta arisan menceritakan, arisan itu dibuka pada 27 Juni 2019. Ada 91 peserta yang ikut. Mereka berasal dari Gununggangsir dan Wonokoyo, Kecamatan Beji.

Setiap pekannya mereka membayar Rp 200 ribu. Sementara arisan dicairkan setiap satu minggu. Proyeksinya, setiap kopyokan satu peserta mendapat uang Rp 18 juta.

“Bayarnya setiap Kamis dan dikopyok setiap pekan. Setiap pekan itu pula, kami selalu berharap bisa menjadi orang yang dapat,” kata Santi.

Awalnya, semua berjalan normal. Bahkan, sebanyak 33 orang sudah mendapat arisan. Namun, beberapa bulan kemudian, masalah muncul.

Peserta masih rutin membayar. Begitupula dengan pemenang arisan, nama mereka dicantumkan. Tapi, uang arisan tak mereka terima.

Kondisi tersebut akhirnya mencuat pada awal Januari 2021. Ternyata, banyak peserta yang tak mendapatkan haknya. Kurang lebih ada 58 orang.

Mereka pun gerah. Bahkan, sempat melabrak Erna dan menanyakan masalah tersebut. Tapi, Erna hanya menjanjikan pencairan. Tanpa ada bukti uang mereka cair. “Sampai sekarang tidak juga cair. Makanya kami geruduk ke sini untuk mempertanyakannya lagi,” sambungnya.

Arisan Tak Cair, Warga Geruduk Rumah Penyelenggara di Beji

Santi sangat berharap uang arisan itu bisa dicairkan. Karena untuk membayar arisan perjuangannya tak mudah. Ia harus menunda kebutuhan lain demi bisa membayar arisan tersebut.

Uang yang sudah dibayarkan oleh Santi pun tidak sedikit. Mencapai Rp 16 juta lebih. Setiap pekannya, Erna, mengambil uang tersebut kepada setiap peserta. Setiap pekan pula, seharusnya ada yang mendapatkannya.

“Tapi, ternyata tidak cair. Kalau dihitung, bisa hampir Rp 1 miliar uang arisan yang tak cair,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Reni, peserta arisan yang lain. Ia harus berjuang keras untuk membayar arisan tersebut. Bahkan, menunda anaknya jajan agar bisa kontinyu membayar arisan.

Tapi, justru kenyataan pahit didapatkan. Karena uang arisan tersebut tak kunjung diterima. Padahal, masa arisan tersebut berakhir Maret 2021.

Anggota arisan itu pun akhirnya melaporkan hal itu pada Polsek Beji. “Kami sudah laporkan ke polisi. Kami susah-susah bayar, tapi uang arisannya tidak keluar-keluar,” ungkapnya.

Nur mengungkapkan hal serupa. Ia mengaku, uang arisan tersebut rencananya untuk membayar kuliah anaknya. Tapi gagal lantaran uangnya tak kunjung cair.

“Ada juga yang membayarnya sampai menggunakan uang pinjaman. Tapi tak bisa cair. Padahal, uang arisan itu sangat diharapkan untuk berbagai kebutuhan. Termasuk saya untuk biaya kuliah anak,” timpalnya.

Erna sang penyelenggara arisan pun mengakui, memang ada uang anggota yang tak cair. Penyebabnya, karena banyak peserta yang mundur. Sementara uang arisan sudah dibayarkan ke pemenang setiap pekannya.

Mereka yang mundur seharusnya mencari pengganti. Tapi, kenyataannya tidak bisa. “Ada yang metel. Ada yang tidak bayar dobel-dobel. Ada pula yang memang tidak bayar. Ini yang akhirnya membuat pembayaran tidak lancar,” bebernya.

Ia menambahkan, dirinya sudah membuat perjanjian dengan peserta. Dia sanggup menggantinya dengan mencicil. Tapi sekarang, ia dihadapkan pada hukum. Karena ternyata ia dilaporkan ke pihak kepolisian. “Sudah mau nyicil. Tapi, saya konsentrasi ke masalah hukum dulu. Karena saya ternyata dilaporkan ke Polsek Beji,” akunya. (one/hn)

BEJI, Radar Bromo – Rumah Erna, 35, jadi sasaran protes puluhan anggota sebuah arisan, kemarin (2/4) siang. Sebab, uang arisan yang seharusnya cair tak kunjung mereka terima.

Total ada 58 peserta arisan yang belum mendapat hak mereka. Jumlahnya hampir Rp 1 miliar. Padahal, arisan sudah berakhir bulan Maret ini. Uang tersebut juga digadang-gadang untuk berbagai kebutuhan oleh anggotanya.

Maka, Erna pun jadi sasaran amukan mereka. Rumah Erna digeruduk oleh para anggota arisan tersebut. Sebab, perempuan itu merupakan penyelenggara arisan.

Mereka datang sambil marah-marah. Membawa spanduk dan poster. Begitu sampai di depan rumah Erna, mereka lantas berteriak-teriak.

“Ini arisan bodong. Kembalikan uang kami,” seru salah satu anggota arisan di depan rumah Erna di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Mereka juga minta agar uang peserta arisan segera dicairkan. Santi, salah satu peserta arisan menceritakan, arisan itu dibuka pada 27 Juni 2019. Ada 91 peserta yang ikut. Mereka berasal dari Gununggangsir dan Wonokoyo, Kecamatan Beji.

Setiap pekannya mereka membayar Rp 200 ribu. Sementara arisan dicairkan setiap satu minggu. Proyeksinya, setiap kopyokan satu peserta mendapat uang Rp 18 juta.

“Bayarnya setiap Kamis dan dikopyok setiap pekan. Setiap pekan itu pula, kami selalu berharap bisa menjadi orang yang dapat,” kata Santi.

Awalnya, semua berjalan normal. Bahkan, sebanyak 33 orang sudah mendapat arisan. Namun, beberapa bulan kemudian, masalah muncul.

Peserta masih rutin membayar. Begitupula dengan pemenang arisan, nama mereka dicantumkan. Tapi, uang arisan tak mereka terima.

Kondisi tersebut akhirnya mencuat pada awal Januari 2021. Ternyata, banyak peserta yang tak mendapatkan haknya. Kurang lebih ada 58 orang.

Mereka pun gerah. Bahkan, sempat melabrak Erna dan menanyakan masalah tersebut. Tapi, Erna hanya menjanjikan pencairan. Tanpa ada bukti uang mereka cair. “Sampai sekarang tidak juga cair. Makanya kami geruduk ke sini untuk mempertanyakannya lagi,” sambungnya.

Arisan Tak Cair, Warga Geruduk Rumah Penyelenggara di Beji

Santi sangat berharap uang arisan itu bisa dicairkan. Karena untuk membayar arisan perjuangannya tak mudah. Ia harus menunda kebutuhan lain demi bisa membayar arisan tersebut.

Uang yang sudah dibayarkan oleh Santi pun tidak sedikit. Mencapai Rp 16 juta lebih. Setiap pekannya, Erna, mengambil uang tersebut kepada setiap peserta. Setiap pekan pula, seharusnya ada yang mendapatkannya.

“Tapi, ternyata tidak cair. Kalau dihitung, bisa hampir Rp 1 miliar uang arisan yang tak cair,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Reni, peserta arisan yang lain. Ia harus berjuang keras untuk membayar arisan tersebut. Bahkan, menunda anaknya jajan agar bisa kontinyu membayar arisan.

Tapi, justru kenyataan pahit didapatkan. Karena uang arisan tersebut tak kunjung diterima. Padahal, masa arisan tersebut berakhir Maret 2021.

Anggota arisan itu pun akhirnya melaporkan hal itu pada Polsek Beji. “Kami sudah laporkan ke polisi. Kami susah-susah bayar, tapi uang arisannya tidak keluar-keluar,” ungkapnya.

Nur mengungkapkan hal serupa. Ia mengaku, uang arisan tersebut rencananya untuk membayar kuliah anaknya. Tapi gagal lantaran uangnya tak kunjung cair.

“Ada juga yang membayarnya sampai menggunakan uang pinjaman. Tapi tak bisa cair. Padahal, uang arisan itu sangat diharapkan untuk berbagai kebutuhan. Termasuk saya untuk biaya kuliah anak,” timpalnya.

Erna sang penyelenggara arisan pun mengakui, memang ada uang anggota yang tak cair. Penyebabnya, karena banyak peserta yang mundur. Sementara uang arisan sudah dibayarkan ke pemenang setiap pekannya.

Mereka yang mundur seharusnya mencari pengganti. Tapi, kenyataannya tidak bisa. “Ada yang metel. Ada yang tidak bayar dobel-dobel. Ada pula yang memang tidak bayar. Ini yang akhirnya membuat pembayaran tidak lancar,” bebernya.

Ia menambahkan, dirinya sudah membuat perjanjian dengan peserta. Dia sanggup menggantinya dengan mencicil. Tapi sekarang, ia dihadapkan pada hukum. Karena ternyata ia dilaporkan ke pihak kepolisian. “Sudah mau nyicil. Tapi, saya konsentrasi ke masalah hukum dulu. Karena saya ternyata dilaporkan ke Polsek Beji,” akunya. (one/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/