alexametrics
24.5 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Sebulan Temukan 28 Kasus DBD di Kab Pasuruan

BANGIL, Radar Bromo – Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap ancaman DBD. Karena di musim hujan, serangan nyamuk aedes aegypti semakin besar.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Pasuruan Agus Eko Iswahyudi mengatakan, musim hujan memang rentan terhadap berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti.

Munculnya genangan air, berisiko besar membuat nyamuk penyebar DBD ini bertumbuhan. “Sosialisasi terus kami lakukan. Supaya masyarakat lebih peka untuk menjaga lingkungan sekitarnya,” jelas Agus –sapaan akrabnya-.

Agus menambahkan, pertumbuhan nyamuk aedes aegypti bisa diminimalisasi dengan menjaga lingkungan bersih. Khususnya, tempat yang menjadi sumber berkembang biaknya nyamuk DBD ini.

“Karena itulah, kami galakkan gerakan masyarakat sadar lingkungan. Supaya, bisa meminimalisasi ancaman DBD. Pembersihan tempat-tempat yang menjadi nyamuk bersarang, terus kami sosialisasikan,” sambungnya.

Sejauh ini, kasus DBD memang bermunculan selama musim hujan. Meski jumlahnya relatif menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018 misalnya. Ada sebanyak 191 kasus DBD. Dengan kasus kematian sebanyak empat orang. Angka tersebut menurun pada 2019. Saat itu, ada 190 kasus DBD dengan kematian dua orang. Sedangkan Januari 2020 ini, ada sembilan kasus.

“Jumlahnya menyusut. Bahkan, untuk korban meninggal karena DBD untuk tahun 2020 tidak ada laporan. Berbeda dengan Januari 2019 yang mencapai 28 kasus dengan kematian satu orang,” imbuhnya.

Turunnya kasus DBD itu disebutkan, tak lepas dari program-program yang dijalankan. Tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan juga mempengeruhi. “Banyak program yang kami lakukan. Termasuk pembentukan kader-kader juru pengamat jentik atau jumantik. Hasilnya, kasus DBD bisa ditekan,” ulasnya.

Walau demikian, masyarakat diimbaunya tetap waspada. Khususnya saat musim hujan seperti sekarang. Risiko penyebaran DBD semakin meningkat dibandingkan kemarau. (one/mie)

BANGIL, Radar Bromo – Dinas Kesehatan Kabupaten Pasuruan mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap ancaman DBD. Karena di musim hujan, serangan nyamuk aedes aegypti semakin besar.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Pasuruan Agus Eko Iswahyudi mengatakan, musim hujan memang rentan terhadap berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti.

Munculnya genangan air, berisiko besar membuat nyamuk penyebar DBD ini bertumbuhan. “Sosialisasi terus kami lakukan. Supaya masyarakat lebih peka untuk menjaga lingkungan sekitarnya,” jelas Agus –sapaan akrabnya-.

Agus menambahkan, pertumbuhan nyamuk aedes aegypti bisa diminimalisasi dengan menjaga lingkungan bersih. Khususnya, tempat yang menjadi sumber berkembang biaknya nyamuk DBD ini.

“Karena itulah, kami galakkan gerakan masyarakat sadar lingkungan. Supaya, bisa meminimalisasi ancaman DBD. Pembersihan tempat-tempat yang menjadi nyamuk bersarang, terus kami sosialisasikan,” sambungnya.

Sejauh ini, kasus DBD memang bermunculan selama musim hujan. Meski jumlahnya relatif menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun 2018 misalnya. Ada sebanyak 191 kasus DBD. Dengan kasus kematian sebanyak empat orang. Angka tersebut menurun pada 2019. Saat itu, ada 190 kasus DBD dengan kematian dua orang. Sedangkan Januari 2020 ini, ada sembilan kasus.

“Jumlahnya menyusut. Bahkan, untuk korban meninggal karena DBD untuk tahun 2020 tidak ada laporan. Berbeda dengan Januari 2019 yang mencapai 28 kasus dengan kematian satu orang,” imbuhnya.

Turunnya kasus DBD itu disebutkan, tak lepas dari program-program yang dijalankan. Tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan juga mempengeruhi. “Banyak program yang kami lakukan. Termasuk pembentukan kader-kader juru pengamat jentik atau jumantik. Hasilnya, kasus DBD bisa ditekan,” ulasnya.

Walau demikian, masyarakat diimbaunya tetap waspada. Khususnya saat musim hujan seperti sekarang. Risiko penyebaran DBD semakin meningkat dibandingkan kemarau. (one/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/