SUKOREJO, Radar Bromo - Kejayan FC benar-benar menunjukkan mental bertandingnya. Setelah lolos babak delapan besar, mereka kembali melewati drama adu penalti untuk merebut tiket final Pasuruan Superleague (PSL) 2026.
Menghadapi Purwosari FC pada semifinal di Gelora Sinar Muda Sukorejo, Jumat (25/9), Kejayan bermain imbang 1-1 selama waktu normal. Pada babak tos-tosan, Kejayan menang 6-5.
Laga semifinal berlangsung ketat sejak awal. Kedua tim bermain dengan pressing tinggi dan mengandalkan transisi cepat. Purwosari mendapat peluang lebih dahulu, tetapi serangannya belum berujung gol.
Kejayan merespons melalui serangan balik. Namun, barisan pertahanan Purwosari masih mampu meredam ancaman tersebut.
Peluang kembali datang untuk Purwosari melalui tendangan bebas Rio. Eksekusinya mengarah ke gawang, tetapi kiper Kejayan Fikhri sigap menepis bola.
Kejayan juga beberapa kali mengancam lewat bola-bola udara. Salah satunya melalui umpan lambung yang disambut sundulan, tetapi arahnya masih melebar.
Kolaborasi Kelvin dan Dhiyas hampir membuka keunggulan Kejayan. Tendangan bebas Kelvin diarahkan kepada Dhiyas di depan gawang. Namun, sundulan pemain nomor punggung 19 itu belum akurat.
Pertandingan semakin keras. Kejayan harus menerima kartu kuning kedua setelah melakukan pelanggaran terhadap pemain tengah Purwosari.
Kejayan kemudian mencoba peruntungan lewat tembakan jarak jauh. Bola masih melenceng. Beberapa skema serangan sebenarnya berhasil dibangun dengan baik, tetapi penyelesaian akhir belum maksimal.
Purwosari mengganti pemain dengan menarik Syafrudin dan memasukkan Rizki. Perubahan tersebut belum banyak mengubah jalannya pertandingan. Justru Purwosari berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-35. Paat mencetak gol pertama untuk Purwosari. Keunggulan 1-0 bertahan hingga turun minum.
Kejayan berusaha merespons sebelum babak pertama berakhir. Dhiyas mendapat peluang, tetapi pergerakannya sudah terbaca kiper Purwosari.
Memasuki babak kedua, Kejayan langsung melakukan perubahan. Zainil ditarik keluar dan digantikan Mahdi Fatoni alias Okto.
Masuknya Okto memberi energi baru. Kejayan meningkatkan intensitas serangan dan berkali-kali menggempur pertahanan Purwosari. Anak asuh Saiful Affandi masih mampu memberikan ancaman melalui Paat. Tendangannya sempat membahayakan gawang Kejayan.
Pergantian pemain terus dilakukan. Purwosari menarik Geofani dan memasukkan Abiyyu. Kejayan terus mencari celah. Serangan demi serangan mulai membuat pertahanan Purwosari lebih sibuk. Momentum akhirnya datang ketika Purwosari melakukan handball di kotak penalti. Wasit Mukti langsung menunjuk titik putih.
Dhiyas maju sebagai algojo. Eksekusinya sukses menggetarkan gawang Purwosari. Skor berubah menjadi 1-1.
Kejayan kemudian mengganti Zainullah dengan Alif. Duel kembali berlangsung keras dan satu pemain Kejayan mendapat kartu kuning. Purwosari hampir kembali unggul melalui Abiyyu. Namun, tembakannya masih mampu ditepis kiper Kejayan. Abiyyu kemudian ditarik keluar dan digantikan Ali Ridho.
Tidak ada gol tambahan hingga waktu normal berakhir. Tiket final pun harus ditentukan melalui adu penalti. Drama tos-tosan berlangsung menegangkan.
Purwosari menurunkan kapten Rio Adi sebagai penendang pertama dan sukses. Sandy Syarif, Edo Kurniawan, dan Rizky Wahyu juga menjalankan tugas dengan sempurna. Namun, Zaky gagal. Abdillah kembali mencetak gol, sebelum eksekutor terakhir Bagus Sugiarto juga gagal.
Dari kubu Kejayan, Mahdi Fatoni alias Okto membuka eksekusi dengan gol. Dhiaz Saputra dan Rofi kemudian menyusul. Alif gagal mencetak gol, tetapi Arik Nur Iswanto, Kelvin, dan Mahdi Masyumi sukses menuntaskan tugas.
Kejayan akhirnya menang 6-5 dalam adu penalti dan memastikan tempat di partai puncak PSL 2026.
Pelatih Kejayan FC Hasto Pujo menyebut kemenangan tersebut sebagai buah perjuangan anak asuhnya. Dia juga menyoroti mental timnya yang tangguh meski tertinggal lebih dahulu.
“Alhamdulillah, kita tetap mengucapkan syukur atas kemenangannya. Ini reward untuk teman-teman karena sudah berjuang,” kata Hasto.
Menurut dia, Kejayan mampu bangkit setelah tertinggal 0-1. Gol penyeimbang kemudian membuka jalan hingga pertandingan ditentukan melalui adu penalti.
“Anak-anak membuktikan bisa comeback dan mencetak gol untuk penyeimbang. Untuk tendangan penalti, alhamdulillah semuanya bisa dilaksanakan dengan baik,” ujarnya.
Meski lolos ke final, Hasto tidak ingin timnya terlena. Lini belakang dan penyelesaian akhir menjadi dua pekerjaan rumah utama sebelum laga puncak.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin menghadapi laga final. Dari kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi hari ini, mungkin pemain belakang kita benahi lagi,” jelasnya.
Ia juga menyinggung loni depan yang perlu mendapat diperkuat soal finishing. “Masih ada waktu untuk kita latihan bersama,” imbuh Hasto.
Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo menilai partai final bakal menyajikan pertandingan menarik. Menurut dia, tim yang lolos memiliki kualitas permainan yang berimbang.
“Dipastikan untuk final itu pasti akan lebih seru. Karena tim yang lolos final, permainannya sama-sama enak, sama-sama berkualitas,” ujar Rusdi. (tom/fun)
Editor : Fandi Armanto