PASURUAN, Radar Bromo-Secara aturan, regulasi babak 8 besar atau perempat final Pasuruan Superleague tidak berbeda dengan babak penyisihan. Bedanya, hanya ada adu penalti jika terjadi skor seri.
Selain adu penalti, di babak 8 besar juga ada tambahan atau pergantian pemain. Hanya saja natas penambahan dan penggantian pemain hingga Jumat kemarin. Tambahan pemain inipun tak bisa sembarangan.
"Setiap pemain baru yang ditambahkan juga harus sesuai regulasi. Pemain harus berasal dari kecamatan yang sama dari tim yang dibela. Jika tidak, pemain tersebut kami anggap tidak sah. Jika pemain tidak sah dimainkan, maka sanksinya juga tegas. Tim akan dianggap kalah WO," beber Sugianto, ketua tim teknis Pasuruan Superleague.
Sugianto mengimbau agar semua tim jangan coba-coba untuk berbuat curang. Sebab tim teknis pasti melakukan verifikasi berlapis. "Verifikasi juga melibatkan Dispendukcapil agar valid. Jadi, data pemain yang akan dutambahkan kami harap dilengkapi. Ini semua agar fairplay tetap terjaga,' beber Sugianto.
Untuk mempermudah pertandingan, setiap tim juga diminta untuk hadir satu jam sebelum laga. Tujuannya agar tim bisa punya waktu lebih banyak untuk warming up. Pengecekan pemain juga akan lebih mudah oleh tim teknis.
Di babak knock out ini semua tim juga diminta tertib. Termasuk jumlah pemain dan ofisial di bench atau bangku cadangan.
"Pemain dan ofisial di bench juga harus taat aturan dengan membawa id card. Tanpa id card, kami akan melarang untuk duduk di bench," beber Sugianto.
Mengapa bench diperketat? Sebab, lanjut Sugianto, biasanya situasi panas justru ditimbulkan dari bench.
"Yang memberi instruksi hanya satu orang yakni pelatih. Instruksi ini hanya satu orang yang diperkenankan berdiri di tepi lapangan. Jadi, sudah tidak ada lagi ofisial lain seperti asisten. Sebab saat babak penyisihan lalu, banyak ofisial yang memberikan instruksi dengan teriak-teriak. Bahkan pemain cadangan pun ada yang ikut teriak memberikan instruksi. Ini sebenarnya tidak boleh," imbuh Reza Sasmita, tim teknis lainnya.
Reza juga menyinggung soal supporter yang datang untuk menonton. Tidak ada larangan bagi supporter. Namun supporter harus tertib dan jangan sampai membuat ulah.
"Kita harus belajar dari insiden Legok United yang harus menerima sanksi diskualifikasi. Gara-gara ulah oknum supporter, tim yang akhirnya dirugikan," beber Reza Sasmita.
Memang, lanjut Reza, lapangan di turnamen Pasuruan Superleague ini tidak semuanya memiliki pagar untuk membatasi penonton.
"Tapi kita harus mulai belajar tertib seperti pelaksanaan di liga-liga yang sudah ada. Kita tiru yang baik dan buang yang tidak baik. Karena tujuan Pasuruan Superleague ini tidak hanya mencari bibit penain handal. Tapi kami ingin sepakbola Kabupaten Pasuruan ini maju lebih baik sehingga naik kelas," beber Reza Sasmita.
Penonton yang tertib juga disinggung Agus Masjhady, Kepala Dinas Pemutar dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan. Dia juga menyayangkan Tim Lekok United yang harus didiskualifikasi karena ulah oknum supporter.
"Padahal Lekok United banyak memiliki pemain bagus bahkan ada yang masuk proyeksi Porprov. Sehingga ulah oknum supporter merugikan tim semestinya bisa dihindari," beber Agus Masjhady.
Sebagai dinas pengampu di ajang turnamen ini, Dispora juga menyinggung, ajang Pasuruan Superleague juga mengajak supporter untuk kreatif. Sebab Dispora juga menyiapkan hadiah bagi penonton terbaik yang hadiahnya juga terbilang besar.
'Nah, kesempatan ini jangan dilewatkan. Terutama bagi tim yang sudah lolos 8 besar. Ajak supporter untuk ikut dan mendukung tim dengan cara yang bagus. Mungkin saja supporter tim bisa memenangi hadiah," beber Agus Masjhady. (fun)
Editor : Fandi Armanto