Oleh: Nurul Huda, Dosen Filsafat Pascasarja Universitas Nurul Jadid
Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola. Ia adalah denyut yang setiap empat tahun sekali menyatukan bahasa, warna kulit, dan harapan miliaran manusia dalam satu panggung. Selama sebulan, dunia seakan bergerak mengikuti arah bola.
Di edisi kali ini, perjalanan itu bermuara pada sebuah final yang terasa nyaris tak terelakkan: Spanyol berhadapan dengan Argentina.
Perjalanan kedua tim menuju partai puncak menghadirkan dua narasi yang kontras. Spanyol tampil dengan energi generasi baru melalui Lamine Yamal, Gavi, Pau Cubarsí, dan Dani Olmo. Menghidupkan kembali tradisi penguasaan bola khas La Roja yang pernah berjaya di era 2008–2012. Sebaliknya, Argentina mengandalkan kematangan, pengalaman, dan kepemimpinan Lionel Messi yang masih mengejar mahkota terakhirnya.
Dua filosofi sepak bola, dua generasi, dan satu trofi yang akan menentukan siapa terbaik di dunia.
Baca Juga: Ketua Wasit FIFA Jawab Tudingan Mesir Dicurangi saat Lawan Argentina
La Masia dan Estafet Kejayaan
Di balik final ini, ada satu nama yang diam-diam menjadi poros cerita: La Masia. Akademi Barcelona itu bukan sekadar sekolah sepak bola, melainkan kawah candradimuka yang melahirkan banyak pemain kelas dunia. Termasuk Xavi, Andrés Iniesta, dan Lionel Messi.
Pada final Piala Dunia 2026, jejak La Masia kembali terasa kuat. Sembilan alumninya tampil di partai puncak: delapan membela Spanyol, satu memperkuat Argentina.
Keistimewaan final ini tidak hanya terletak pada dominasi alumni La Masia. Namun, juga pada pertemuan antara generasi pengagum dan sosok yang mereka idolakan.
Lamine Yamal, Gavi, Pau Cubarsí, Dani Olmo, Eric García, Alejandro Grimaldo, Marc Cucurella, dan Joan García tumbuh dengan menjadikan Messi sebagai inspirasi. Sebagian pernah berfoto dengannya saat masih anak-anak, menjadikan final ini bukan sekadar duel dua negara. Melainkan perjumpaan antara mimpi dan teladannya.
Di antara semua nama itu, sorotan terbesar tertuju kepada Lamine Yamal. Pada usia 19 tahun, ia telah menjadi simbol kebangkitan generasi baru Spanyol.
Di seberang lapangan berdiri Lionel Messi, legenda yang hampir dua dekade lebih dahulu menapaki jalan yang sama di La Masia. Final ini seolah mempertemukan masa lalu dan masa depan dalam satu panggung.
Pertemuan Yamal dan Messi juga menyimpan kisah yang nyaris mustahil dipercaya. Pada 2007, ketika Messi baru berusia 20 tahun, ia menggendong dan memandikan bayi Lamine Yamal dalam sesi foto amal UNICEF bersama Barcelona.
Foto yang baru disadari maknanya belasan tahun kemudian itu kini menjadi simbol estafet sepak bola: dari tangan seorang legenda kepada bocah yang dipandang banyak orang sebagai penerusnya. Seperti kata fotografer Juan Monfort, momen itu "seperti memenangkan lotere"—kesempatan yang hanya datang sekali dalam sejuta.
Dari Peniru Menjadi Penantang
Ada alasan mengapa jejak Lionel Messi begitu kuat dalam permainan generasi baru Spanyol. Penjelasannya bukan semata soal teknik atau bakat, tetapi juga soal hasrat.
René Girard menyebutnya “mimesis”: kecenderungan manusia membentuk keinginan dengan meniru sosok yang dikagumi. Di La Masia, Messi adalah model utama dari hasrat tersebut.
Yamal adalah perwujudan paling nyata dari hasrat tersebut. Ia lahir ketika Messi telah menjadi ikon dunia dan tumbuh dengan meniru gaya bermainnya.
Dalam wawancara dengan Mundo Deportivo, Yamal bahkan menyebut Messi sebagai pesepakbola dan atlet terbaik sepanjang masa serta berharap dapat mengikuti jejaknya. Dengan kata lain, impian Yamal dibentuk oleh teladan yang diwariskan Messi.
Namun, di sinilah teori Girard mulai berbicara lebih dalam. Girard mengingatkan bahwa imitasi yang mendalam kerap berakhir sebagai rivalitas. Ketika murid semakin mendekati gurunya, lahirlah dorongan untuk melampaui, bahkan menggantikannya.
Itulah yang kini mungkin saja terjadi pada Yamal dan generasi baru Spanyol. Mereka tidak lagi ingin menjadi “Messi berikutnya.” Namun ingin membangun identitas sendiri dan membuktikan bahwa warisan La Masia melampaui satu nama, betapapun besarnya.
Girard menyebut situasi ini sebagai mimetic doubles: dua pihak yang menginginkan tujuan yang sama hingga menjadi cermin satu sama lain. Yamal dan Messi datang dari tradisi sepak bola yang sama, mengejar trofi yang sama, dan membawa keyakinan yang sama tentang cara memainkan sepak bola. Final ini, karena itu, bukan sekadar duel dua generasi, melainkan pertarungan antara warisan dan penerusnya.
Bagi Girard, rivalitas yang terus menajam dapat berujung pada krisis. Ketika dua pihak mengejar tujuan yang sama, konflik mudah membesar.
Dalam kehidupan sosial, ketegangan semacam ini kerap diredakan melalui mekanisme kambing hitam (scapegoat). Yaitu mengorbankan satu pihak demi memulihkan keteraturan. Pola ini berulang dalam berbagai peristiwa sejarah, dari ritual hingga peperangan.
Melampaui Mimesis
Namun, final Piala Dunia tidak mengenal kambing hitam. Sepak bola modern menunjukkan bahwa hasrat untuk meniru tidak harus berujung pada kekerasan. Rivalitas disalurkan melalui aturan, strategi, dan sportivitas.
Yamal dan generasi baru Spanyol tidak perlu membenci Messi untuk mengalahkannya. Mereka cukup menghormatinya, lalu berusaha bermain lebih baik.
Di sinilah olahraga melampaui logika pengorbanan. Jika dalam teori Girard krisis kerap diselesaikan melalui mekanisme scapegoat, sepak bola justru menawarkan penyelesaian yang lebih beradab.
Peluit wasit menggantikan kekerasan, sementara fair play menjaga agar persaingan tetap berada dalam batas kemanusiaan. Karena itulah final ini terasa begitu istimewa.
Messi tidak sedang menghadapi musuh, melainkan generasi yang tumbuh dari warisan yang ia tinggalkan. Sebaliknya, Yamal, Gavi, Cubarsí, dan rekan-rekannya tidak sedang menumbangkan sang legenda. Melainkan membuktikan bahwa pelajaran yang mereka terima telah berbuah menjadi identitas baru.
Kekaguman sejati tidak menuntut penghancuran idola, melainkan keberanian untuk melampauinya. Ketika Yamal berani menantang Messi, ia tidak sedang menghapus masa lalu, tetapi memperluas warisan La Masia.
Sebaliknya, jika Messi masih mampu memimpin Argentina menuju kemenangan, ia kembali menunjukkan mengapa dirinya tetap menjadi tolok ukur yang ingin dicapai setiap generasi.
Apapun hasil final nanti, yang kita saksikan bukanlah kemenangan satu generasi atas generasi lain. Yang hadir adalah estafet sebuah tradisi: sang guru menyerahkan panggung kepada para murid tanpa kehilangan kehormatannya. Sementara para murid membangun masa depan tanpa harus menyangkal asal-usulnya.
Mungkin di situlah sepak bola mengajarkan sesuatu yang melampaui teori Girard: manusia dapat menginginkan puncak yang sama tanpa harus saling memusnahkan. Di titik itulah mimesis berhenti menjadi rivalitas, dan berubah menjadi warisan (*)
Editor : Muhammad Fahmi