PROBOLINGGO, Radar Bromo-April jadi salah satu bulan bersejarah bagi dunia sepak bola di Kota Probolinggo.
Maklum saja, di bulan April ini tepatnya pada tanggal 11 April merupakan hari kelahiran tim kebanggaan arek-arek Kota Probolinggo, yakni Persipro 1954.
Tahun 2026 ini, tim yang identik dengan warna kebesaran oranye itu genap berusia 72 tahun.
Sabtu besok (25/4) rencananya bakal digelar laga persahabatan yang mempertemukan Persipro v Persikapro untuk memeringati anniversary Persipro 1954.
Jinggomania Belum Dapat Kado Manis
Sayang di momen peringatan HUT ke-72 ini Jinggomania –julukan suporter Persipro- masih belum dapat kado manis.
Jangankan untuk kembali mengukir prestasi tertinggi di kancah sepak bola nasional. Untuk sekadar berkompetisi saja Laskar Minak Jinggo –julukan Persipro- cukup kesulitan.
Ya, di kompetisi terakhir Liga 4 (kasta terendah sepak bola Indonesia/ Liga Amatir) musim 2025 lalu, Persipro 54 memilih absen.
Masalah klasik keterbatasan anggaran salah satu penyebab utama Srigala Tengger –julukan lain Persirpo 1954 absen-.
Bahkan untuk musim lalu, sekadar mengikuti kompetisi U-17 saja askot PSSI harus mendapat sponsor dari Malang, baru bisa ikut kompetisi.
Persipro 1954 sendiri sudah lama tak lagi merasakan atmosfer persaingan di pentas sepak bola profesional.
Mungkin generasi yang pernah melihat bagaimana Yance Manusiwa dan Putut Wijanarko mengacak-ngacak pertahanan lawan, sekarang sudah lebih banyak di rumah. Kebanyakan di luar rumah sudah masuk angina… hehehe…
Generasi yang pernah melihat bagaimana I Putu Gede mengatur ritme permainan, serta tusukan-tusukan Imam Hambali yang membuat pertahanan lawan kocar-kacir, kini juga sudah banyak yang sudah sibuk mengurusi anaknya.
Remaja-remaja Kota Probolinggo kini, mungkin hanya pernah mendengar cerita dari kakak-kakaknya, atau membaca file using, bahwa Persipro sempat menyulitkan Persebaya di Copa Dji Samsoe.
Performa Persipro yang dulu pernah bergelut di pentas sepak bola professional memang terus mengalami penurunan.
Bahkan Persipro sempat merger dengan Bondowoso menjadi Probond U (Probolinggo-Bondowoso United) pada musim 2011-2012, usai mendapat investor dari Bondowoso.
Meski begitu, merger itu tak jadi solusi. Justru Persipro kian terpuruk. Bahkan, sempat kesulitan menggaji pemain asingnya kala itu.
Prestasi Persipro kala itu pun terus merosot. Hingga akhirnya terempas di liga amatir hingga kini.
Pada 2022, Persipro akhirnya menjadi Persipro 54 dengan berbagai pertimbangan kala itu.
Sejarah Sepak Bola di Kota Probolinggo
Sepak bola memiliki sejarah panjang di berbagai daerah, termasuk Kota Probolinggo.
Siapa sangka, olahraga yang kini menjadi kebanggaan masyarakat ini sudah dikenal di Kota Probolinggo sejak awal abad ke-20.
“Diperkirakan sekitar tahun 1930, sepak bola sudah ada di Probolinggo,” ungkap Edi Martono, pegiat sejarah dari komunitas Pojok Literasi.
Pernyataan ini diperkuat oleh keberadaan foto lawas dalam Digital Collection Leiden University Libraries yang berjudul Voetbaleftal te Probolinggo.
Foto tersebut memperlihatkan sekelompok pemain sepak bola dan diduga diambil di Lapangan Karya Bakti, salah satu lapangan bersejarah di kota ini. “Dulu lapangan itu sempat direncanakan menjadi stadion,” tambah Edi.
Pada masa penjajahan Belanda, sepak bola mulai dikenal luas di kalangan masyarakat lokal.
Olahraga ini menjadi hiburan baru bagi para pemuda pribumi, sekaligus wadah untuk berkumpul dan menunjukkan semangat kebersamaan.
“Pertandingan saat itu dilakukan secara informal, hanya melibatkan tim-tim lokal,” ujar Edi.
Seiring meningkatnya minat masyarakat, berbagai klub sepak bola lokal pun bermunculan.
Klub-klub ini berfungsi sebagai tempat latihan, sekaligus ajang kompetisi antarpemuda. Dari sinilah embrio sepak bola Probolinggo mulai tumbuh.
Memasuki tahun 1960-an, turnamen sepak bola pertama di Kota Probolinggo resmi digelar.
Ajang ini mempertemukan berbagai tim lokal dan menjadi sarana mempererat hubungan antarkelompok masyarakat.
“Turnamen tersebut awalnya bersifat sederhana, tapi dalam beberapa tahun mulai berkembang menjadi lebih terstruktur dengan pembagian grup dan sistem eliminasi,” jelas Edi.
Turnamen-turnamen ini menjadi momentum penting bagi sepak bola lokal untuk naik kelas.
Dari yang semula hanya pertandingan persahabatan, kini berubah menjadi kompetisi yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setiap tahunnya.
Mengutip laman resmi PSSI Probolinggo, pada 1980-an sepak bola Probolinggo memasuki babak baru.
Profesionalisme mulai diterapkan dalam penyelenggaraan turnamen. Standar kompetisi semakin tinggi, regulasi diperketat, dan fasilitas olahraga mulai ditingkatkan.
Beberapa liga lokal bahkan mendapat dukungan sponsor dari perusahaan daerah.
Dukungan ini tidak hanya menambah kemeriahan acara, tetapi juga meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan semangat para pemain. Popularitas sepak bola di kalangan warga pun semakin meningkat.
Memasuki 1990-an, perhatian terhadap pengembangan bakat muda semakin besar.
Turnamen sepak bola tidak lagi terbatas pada klub-klub profesional. Kompetisi antar sekolah dan antar komunitas mulai digelar secara rutin.
Kegiatan ini menjadi ajang bagi siswa dan anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat untuk mengasah kemampuan, sekaligus menanamkan nilai sportivitas dan kerja sama tim sejak dini.
Sejak awal tahun 2000-an, Kota Probolinggo mulai aktif berpartisipasi dalam turnamen sepak bola tingkat regional, termasuk liga daerah Jawa Timur.
Keikutsertaan ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas permainan, pengalaman, serta prestasi tim-tim lokal.
Memasuki 2010-an, penyelenggaraan turnamen di Probolinggo semakin modern dan inovatif.
Teknologi mulai dimanfaatkan dalam berbagai aspek, mulai dari pengumpulan data pemain, sistem penjadwalan, hingga pelaporan hasil pertandingan.
Kini, format turnamen sepak bola di Probolinggo semakin beragam. Sistem grup, round-robin, dan play-off diterapkan untuk meningkatkan dinamika pertandingan.
Hadiah bagi pemenang pun semakin menarik berkat dukungan sponsor, mendorong tim-tim dari luar daerah ikut berpartisipasi.
Perjalanan panjang sepak bola di Kota Probolinggo mencerminkan bagaimana olahraga ini terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Dari foto hitam putih di Lapangan Karya Bakti hingga penggunaan teknologi digital dalam penyelenggaraan turnamen, sepak bola tetap menjadi magnet yang menyatukan masyarakat lintas generasi.
Lebih dari sekadar olahraga, sepak bola di Probolinggo telah menjadi bagian dari identitas kota—sebuah kisah tentang semangat, kebersamaan, dan kecintaan terhadap permainan yang sederhana namun penuh makna. (gus/mie)
Editor : Muhammad Fahmi