Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dorong Bridge Masuk ke Ekskul Sekolah agar Regenerasi Atlet Terus Berjalan

Fandi Armanto • Sabtu, 4 April 2026 | 08:30 WIB
POTENSIAL: Zona Prayogo (kaus abu-abu) bersama ⁠M Nasichun Amin, Rizqi Wahyulianto, Nawa Ossamma Abdillah, dan Brilian Ahmad Fathir. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
POTENSIAL: Zona Prayogo (kaus abu-abu) bersama ⁠M Nasichun Amin, Rizqi Wahyulianto, Nawa Ossamma Abdillah, dan Brilian Ahmad Fathir. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

PASURUAN, Radar Bromo - Bridge bukanlah cabang olahraga (cabor) baru. Di Kabupaten Pasuruan cabor yang diinduki Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) ini sudah ada sejak tahun 2009. 

Prestasinya pun tak bisa diremehkan. Di level regional seperi pekan olahraga provinsi (porprov), cabor ini pernah dua kali menjadi juara umum.

Prestasi itu diraih di Porprov VII (Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso) dan Porprov VII (Malang Raya dan Kota Batu). Di Porprov VII, bridge Kabupaten Pasuruan berhasil mengumpulkan total 4 perak dan 1 perunggu. Sementara di porprov VIII, ada 2 emas, 1 perak dan 2 perunggu.

Melihat prestasi tersebut, Gabsi Kabupaten Pasuruan memang ingin mempopulerkan olahraga ini. Walau sebenarnya tidak mudah karena alasan regenerasi atlet tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Olahraga bridge ini potensial dan Kabupaten Pasuruan punya banyak atlet handal. Kendalanya, tidak mudah untuk mencari atlet bridge,” beber Zona Prayogo, pelatih di Gabsi Kabupaten Pasuruan.

Zona bilang, saat ini jumlah atlet bridge di Kabupaten Pasuruan mencapai ratusan. Tetapi hanya sedikit yang baru memiliki prestasi, utamanya di level regional dan nasional. Rata-rata atlet bridge di Kabupaten Pasuruan usianya masih belia.

“Kategori di bridge itu melihat kelompok umur. Mulai 12, 15, 18, 23, 26 dan ada open (segala usia) di putra dan putri. Untuk nomornya ada perorangan dan beregu.

Saat meraih juara umum di ajang Porprov VIII lalu, kami meraihnya di nomor beregu putra dan putri  untuk emas, beregu campuran di satu perak, dan dua di campuran untuk dua perunggu,” beber Zona yang juga menjadi manajer cabor bridge saat itu.

Saat itu, bridge Kabupaten Pasuruan membawa enam atlet putra dan enam atlet putri. Komposisinya, atlet putra digawangi M Junior Wiku Zarresa, M Aris Hidayatulloh, . Rizqi Wahyulianto, M Nasichun Amin, Nawa Ossamma Abdillah dan M Affan Al Ghifary.

PAKAI LOGIKA: Atlet bridge Kabupaten Pasuruan didampingi pelatih saat bertanding. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
PAKAI LOGIKA: Atlet bridge Kabupaten Pasuruan didampingi pelatih saat bertanding. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

Sementara di atlet putri, ada Riska Rahayu Novitasari, Nur Asri Retni Saputri, Refi Amalia Firmanda, Kaysha Maydianti A Z, Jasmin Ufairoh dan Arsinta Regina Putri.

 Keluarnya Kabupaten Pasuruan sebagai juara umum juga tak lepas dari latihan yang mereka jalani. Dalam sepekan, mereka bisa berlatih dua-tiga kali dalam sepekan. Tempo latihan naik lipat dua saat menjelang porprov. Nah, persiapan inilah yang konsisten dilakukan Gabsi Kabupaten Pasuruan.

Tantangannya jelas ada. Karena tempat pemusatan latihan jauh dan atlet rata-rata masih sekolah, maka harus ada yang dikorbankan. “Kebanyakan atlet kami usia belia dan masih sekolah dari seluruh kecamatan di kabupaten. Mereka dipusatkan latihan di Sukorejo. Jadi waktu dan jarak yang jadi tantangan,” beber Zona.

Nasichun Amin, 17, dan Rizqi Wahyulianto contohnya. Saat porprov VIII, Nasichul masih duduk di bangku kelas 10 (SMA), sementara Rizki Wahyulianto kuliah di Malang. “Setiap pulang sekolah, kami harus berangkat ke Sukorejo untuk pemusatan latihan. Agak jauh dari rumah saya di Gondang Wetan,” beber Nasichul.

Beruntung karena dukungan sekolah dan keluarga terutama orangtua, atlet-atlet bridge Kabupaten Pasuruan bisa menjadi juara umum. Bahkan mempertahankan status ini karena di musim sebelumnya juga meraihnya.

Berkat prestasi itu, maka Gabsi Kabupaten Pasuruan di tahun ini diganjar menjadi tuan rumah untuk pelaksanaan kejuaraan provinsi (kejurprov). Ajang yang rencananya digelar dalam waktu dekat.

SERIUS: Suasana pertandingan bridge dalam sebuah kejuaraan. (Foto: Istimewa)
SERIUS: Suasana pertandingan bridge dalam sebuah kejuaraan. (Foto: Istimewa)

Kejurprov ini tentu menjadi event yang ditunggu atlet-atlet bridge belia di Kabupaten Pasuruan untuk mengukur kemampuan sekaligus menambah jam terbang. Karena olahraga bridge memang membutuhkan ajang untuk mengasah kemampuan.

“Bridge adalah olahraga yang membutuhkan hafalan dan logika. Atlet-atlet belia yang ada saat ini, rata-rata adalah mereka yang sejak kecil berlatih di sekolah,” kata Zona.

Sementara saat ini, kondisinya berbeda dengan dahulu. Sebab hanya sedikit sekolah yang memiliki ekstrakurikuler bridge. Bahkan sekolah yang punya ekskul ini bisa dihitung dengan jari.

“Sementara pembinaan atlet ini paling efektif dari usia belia, seperti di sekolah. Kami berharap bridge bisa kembali dipopulerkan melalui ekskul di sekolah,” beber Zona Prayogo.

SERIUS: Suasana pertandingan bridge dalam sebuah kejuaraan. (Foto: Istimewa)
SERIUS: Suasana pertandingan bridge dalam sebuah kejuaraan. (Foto: Istimewa)

 

KONI Gandeng Dinas Pendidikan 

Susahnya regenerasi atlet sebenarnya bukan hanya dialami cabor bridge. Hampir setiap cabor juga mengalami hal serupa.

Alasan itulah yang kini membuat KONI Kabupaten Pasuruan menggandeng Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) untuk menjaring dan menggelar event berbagai kejuaraan.

Seperti yang diungkapkan Ketua KONI Mamat Aryo Setiawan. Program KONI saat ini adalah pembinaan atlet usia belia. Atlet-atlet ini tentu ada di sekolah.

“Sehingga kami mengajar kerjasama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggelar event olahraga agar bibit atlet terus bemunculan,” kata Mamat.

Tak terkecuali seperti cabor bridge. Masih banyak yang memandang negative olahraga ini karena menyamakan permainan kartu dengan embel-embel taruhan di dalamnya.

“Padahal bridge ini sangat berbeda karena dia sebagai olahraga permainan yang membutuhkan logika dan strategi,” beber Mamat.

KONI pun mengaku rencana itu disambut baik dinas. Sebab ada beberapa sekolah yang memang memiliki rencana menggelar event olahraga.

“Dan ini sudah mulai sering digelar di Kabupaten Pasuruan. Beberapa waktu lalu, Kabupaten Pasuruan jadi tuan rumah kejurprov petanque. Setelah ini kejurprov bridge dan tentu kami harus mendukungnya. 

Soal dorongan cabor seperti bridge dimaksimalkan di ekskul sekolah, Mamat menilai, ini adalah alasan rasional. Lewat ekskul, maka ada support system yang dilakukan sekolah.

"Mulai dari sarana-prasarana latihan hingga pelatih atau guru pembimbing yang dilibatkan. Dengan begitu, bibit atlet terus bermunculan,” beber Mamat. (fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Gabsi #kartu