BANGIL, Radar Bromo - Tahun 2026 menjadi tahun terburuk bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di Pasuruan dan Probolinggo. KONI empat daerah di Pasuruan-Probolinggo sama-sama turun anggarannya. Jumlahnya jauh dari pengajuan dan terbilang signifikan.
Diantara empat daerah, Pasuruan terbilang paling sedikit. Bahkan di Kota Pasuruan anggarannya hanya mencapai ratusan juta rupiah.
Di Kota Pasuruan, KONI Kota Pasuruan hanya mendapat Rp 913 juta. Turun dari tahun 2025 yang saat itu digelontor Rp 1,9 miliar. Begitu juga di Kabupaten Pasuruan.
Dari pengajuan Rp 16 miliar, KONI hanya digelontor Rp 2 miliar. Angka tersebut tercatat sebagai raihan dana hibah terkecil sepanjang sejarah berdirinya KONI di Kabupaten Pasuruan.
Ironisnya, di tengah merosotnya dukungan finansial, beban KONI justru bertambah dengan masuknya 4 cabang olahraga (cabor) baru, sehingga total kini menaungi 42 cabor.
Ketua KONI Kabupaten Pasuruan, Mamat Aryo Setiawan, mengaku harus memutar otak ekstra keras untuk mengelola anggaran yang sangat terbatas tersebut. Secara teknis, dana Rp 2 miliar itu akan tersedot sekitar 30 hingga 35 persen untuk biaya operasional dan agenda insidentil seperti kejuaraan yang dianggap mendesak. Sementara itu, biaya sekretariat bakal memakan porsi 25 persen.
“Anggaran yang ada akan kami bagi dengan perhitungan yang proporsional. Dasar pembagiannya adalah prestasi yang sudah kami petakan dalam database serta tingkat keaktifan cabor dalam melakukan pembinaan atlet,” jelas Mamat.
Ia tak menampik jika anggaran tersebut jauh dari kata cukup, terutama untuk menjalankan Pusat Latihan Cabang (Puslatcab) yang ideal.
Namun, ia meminta para atlet dan pengurus cabor tetap menjaga api semangat demi mengejar target peringkat enam besar atau lebih tinggi pada Porprov 2027 mendatang.
“Sembari kami upayakan koordinasi dengan pemerintah daerah dengan harapan bisa ditambah melalui mekanisme Perubahan APBD (P-APBD) 2026 nanti. Kami butuh dukungan lebih untuk mengembalikan kejayaan olahraga Kabupaten Pasuruan,” imbuhnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) menyatakan bahwa penentuan angka tersebut sudah melalui pertimbangan matang terkait kondisi keuangan daerah.
Kepala Dispora Kabupaten Pasuruan, Agus Masjhadi, menegaskan bahwa realisasi anggaran hibah tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan dana di kas daerah.
“Anggaran yang direalisasikan tersebut disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah saat ini,” singkat Agus.
Beralih ke Probolinggo. Di kota, KONI hanya mendapat Rp 3,8 miliar. Turun dari tahun 2025 yang saat itu dialokasikan Rp 4,5 miliar. Namun di kabupaten, alokasi untuk KONI mendapat Rp 4 miliar, jumlah yang sama dengan tahun sebelumnya.
Ketua KONI Kota Probolinggo, Zulfikar Imawan saat dikonfirmasi mengatakan, alokasi dana hibah tahun ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya,
Namun, dengan alokasi hibah sekitar Rp 3,8 miliar, pihaknya akan berupaya maksimal dengan menggelar kegiatan kejuaraan dan pembinaan atlet-atlet.
”Hibah Rp 3,8 miliar tahun ini, kami alokasikan untuk cabor-cabor sekitar Rp 2,3 miliar dan sekretariat KONI hanya Rp 1,5 miliar. Jadi anggaran hibah prioritas untuk cabor, pembinaan atlet dan event kejuaraan olahraga.
Sementara di kabupaten, KONI sebenarnya sempat dianggarkan akan mendapat Rp 4,5 miliar. Namun, akibat kebijakan efisiensi, jumlah tersebut harus dipangkas menjadi Rp 4 miliar. Angka tersebut sudah melalui berbagai pertimbangan, termasuk kondisi fiskal daerah.
“Yang tahun lalu terkena efisiensi. Sehingga yang awalnya dianggarkan Rp 4,5 miliar hanya menjadi Rp 4 miliar,” jelas Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Heri Mulyadi.
Menurut Heri, anggaran tersebut akan difokuskan untuk pembinaan cabang olahraga (cabor), pemberian reward bagi atlet yang belum tersalurkan pada Porprov 2025, serta kebutuhan sekretariat dan operasional KONI. Dengan nominal yang sama, pihaknya tetap optimistis prestasi olahraga Kabupaten Probolinggo bisa terus meningkat.
Ia menilai, hasil Porprov 2025 menjadi bukti bahwa anggaran tersebut mampu dimaksimalkan.
“Dengan anggaran tersebut kami harapkan KONI dapat memaksimalkan pembinaan. Terbukti pada Porprov 2025, Kabupaten Probolinggo naik dari peringkat 25 menjadi peringkat 19. Insyaallah bisa dimaksimalkan lagi dengan anggaran yang sama,” terangnya.
Heri berharap dana yang dikucurkan bisa menjadi pijakan untuk menghadapi ajang Porprov 2027 mendatang. “Sebenarnya dana yang dikeluarkan harapannya bisa dimaksimalkan. Harapannya di Porprov 2027 bisa lebih baik lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Ugas Irwanto menambahkan, tidak bertambahnya anggaran hibah, termasuk untuk KONI, dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Salah satunya adalah keterbatasan transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah. Selain itu, pemerintah juga tengah menerapkan kebijakan efisiensi serta memprioritaskan belanja fisik.
“Hibah saat ini tidak boleh banyak-banyak. Ada efisiensi juga, dan juga prioritas fisik,” tandasnya. (tom/mu/fun)
Editor : Abdul Wahid