PASURUAN, Radar Bromo-Harapan atlet Kota Pasuruan yang berprestasi dalam Porprov IX Tahun 2025 untuk memperoleh reward memang sudah terpenuhi.
Namun jumlahnya tak sesuai harapan mereka karena lebih kecil dari perolehan event porprov sebelumnya. Protes sempat terjadi bahkan atlet peraih medali mengancam bakal hijrah dari Kota Pasuruan.
Pemkot Pasuruan segera bersikap melihat protes tersebut. Dalihnya, pemberian reward perlu disesuaikan lantaran ada pengurangan anggaran.
Namun Pemkot bakal memberikan reward sama seperti Porprov 2023 dan anggaran dipenuhi dalam perubahan APBD (P-APBD) 2025.
Sebelumnya, pemkot telah memberikan reward bagi 217 atlet dan 42 pelatih dalam 36 cabang olahraga (cabor), rabu lalu (25/2).
Total reward yang diberikan mencapai Rp 301 juta. Dengan medali emas dapat Rp 10 juta, perak Rp 7,5 juta dan perunggu Rp 5 juta.
Namun sebagian atlet penerima merasa kecewa dengan reward yang diberikan. Sebab, besarannya jauh dibawah Porprov 2023 lalu. Saat itu, pemkot memberikan peraih emas Rp 30 juta, perak Rp 20 juta dan perunggu Rp 10 juta.
Mereka menunjukkan kekecewaannya dengan membuang papan plakat penghargaan seusai penyerahan reward di depan gedung Gradhika Kota Pasuruan.
Total ada 10 atlet yang melakukan aksi ini dari cabor wushu, tinju hingga mixed artial arts (MMA). Video viral di media sosial (medsos).
Ketua Persatuan Tinju Amatir (Pertina) Kota Pasuruan, Frenky Sutejo mengaku video viral itu adalah para atlet yang diasuhnya. Mulai dari MMA, tinju hingga wushu. Sebagai bentuk kekecewaan pada pemerintah karena dinilai kurang memberikan penghargaan pada atlet.
Padahal atlet binaannya mampu menyumbangkan banyak medali bagi kota Pasuruan. Total 11 medali yang diperoleh. Rinciannya, MMA sebanyak satu emas, dua perak, dan tiga perunggu. Lalu tinju dapat satu perak dua perunggu dan wushu memperoleh satu emas emas, dan satu perunggu.
"Itu bentuk kekecewaan atlet. Atlet sudah memberikan yang terbaik. Mengharumkan nama kota, seyogyanya mendapatkan reward yang pantas," katanya.
Diakuinya, banyak daerah yang membidik atlet binaannya. Mereka tertarik memakai jasa atletnya untuk bisa meraih prestasi di ajang serupa. Bisa jadi pihaknya akan mempertimbangkan tawaran daerah lain jika kota Pasuruan tidak bisa menghargai.
"Mereka atlet kota, lahir dan besar di Kota Pasuruan. Tentu membela kota itu prioritas tapi kalau tidak dihargai, untuk apa?" katanya.
Bukan hanya pelatih. Regita Cahya Cahya Kirana, atlet MMA juga merasa kecewa atas reward yang kecil. Karena jauh dari informasi awal yang didapatkannya.
Sebelum berangkat ke Malang Batu, atlet dijanjikan bisa menerima reward yang nilainya sebesar Porprov di tahun 2023.
Namun ternyata jauh dari harapan. Bonus prestasi itu nilainya lebih kecil dan jelas di luar ekpektasinya.
"Padahal uang itu mau buat pendidikan, masa depan sama bahagiakan orang tua. Ternyata jauh dari harapan," jelas Regita.
Rasa kecewa atlet, mendapat tanggapan dari anggota Komisi I DPRD Kota Pasuruan, Ismu Hardiyanto. Dia menyayangkan adanya protes atlet karena reward porprov. Kondisi ini disebutkan karena tidak adanya komunikasi baik antara KONI, atlet dan pemkot. Sehingga atlet tidak diberi penjelasan terkait kondisi Kota Pasuruan.
Tentunya, ia berharap reward yang diberikan bisa maksimal. Sebagai penghargaan bagi atlet yang sudah mengharumkan nama kota.
Namun tetap melihat kondisi kemampuan anggaran yang dimiliki pemda. Sebab APBD Kota Pasuruan juga terbatas usai dipotong oleh pusat.
"Tentunya kami mendorong pemkot bisa memberikan bonus seperti sebelumnya. Bisa dianggarkan di tahun berikutnya," jelas Ismu.
Di sisi lain, Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo menyebut pihaknya memahami kekecewaan atlet atas reward yang diterima. Mengingat reward yang diberikan tidak sebesar porprov sebelumnya. Sebab kemampuan fiskal daerah terbatas. Banyak program yang direncanakan terpaksa tertunda.
Apalagi jumlah atlet dan cabor yang meraih prestasi juga meningkat. Tentunya pemkot ingin memberikan yang terbaik bagi atlet karena telah mengharumkan nama kota. Pihaknya berencana memberikan reward yang sama seperti porprov 2023.
"Tidak hanya penerima emas, tapi juga perak dan perunggu. Kami sudah berkoordinasi dengan DPRD. Sisa kebutuhan anggaran bisa diusulkan dalam P-APBD," jelas Mas Adi.
Mas Adi menyebut mekanisme pemberiannya adalah dengan mengusulkan kekurangannya lewat P-APBD. Ia mencontohkan, peraih emas sudah menerima Rp 10 juta lewat reward yang dialokasikan dlama apbd 2026. Maka sisanya sebesar Rp 20 juta ini akan diusulkan lewat P-APBD. Begitu pula, peraih perak dan perunggu.
"Peraih perak, pada porprov sebelumnya mendapatkan Rp 20 juta. Dalam APBD tahun ini sudah dianggarkan Rp 7,5 juta. Maka kekurangannya 12,5 juta dialokasikan dalam p-apbd," terangnya (riz/fun)
Editor : Abdul Wahid