KANIGARAN, Radar Bromo - Olahraga padel kini semakin populer. Semakin banyak yang menekuni olahraga raket yang dimainkan di lapangan berdinding namun berukuran lebih kecil dari lapangan tenis.
Saat momen Ramadan seperti sekarang, peminatnya juga tak surut meski harus menggeser latihan ke malam hari.
Permainan padel dilakukan secara ganda, 2 (orang) lawan 2 (orang), menggunakan raket khusus (tanpa senar). Sedangkan bolanya mirip dengan bola tenis, tapi sedikit berbeda dalam ukuran dan tekanan.
Meskipun sekilas terlihat mirip, padel dan tenis adalah dua olahraga raket yang memiliki banyak perbedaan signifikan.
Mulai dari ukuran lapangan, peralatan, hingga teknik permainan. Keduanya memberikan pengalaman bermain yang berbeda.
”Olahraga padel itu minimal dimainkan 4 orang, atau dua lawan dua. Karena Padel selalu dimainkan ganda (berpasangan), tidak seperti tenis yang bisa dimainkan tunggal,” kata Sandy Hariyono, pelatih Padel di Kota Probolinggo.
Di Kota Probolinggo, sejak sebulan terakhir ini, sudah ada lapangan Padel yang buka dan disewakan. Berbeda dengan kota-kota besar lainnya yang sudah lama ada lapangan Padel.
Walau Padel tergolong olahraga mahal, respon masyarakat di Kota Probolinggo tersebut tergolong cukup tinggi. Terbukti, banyak yang bermain di lapangan Padel tersebut tiap malamnya.
”Biasanya paling ramai yang bermain malam hari. Mungkin kalau pagi dan siang, orang-orang kerja. Jadi sempatnya untuk olahraga malam hari, Padel sangat cocok,” katanya.
Olahraga Padel, basic teknis dimainkan mulai usia 7 tahun. Jika ingin jadi pemain Pro atau untuk menjadi atlet, maka seperti cabor lainnya, intensitas latihan setidaknya 4 kali seminggu dan membutuhkan waktu tahunan.
Tetapi, jika hanya sekedar bisa rally, 6 bulan latihan sudah cukup dengan intensitas latihan 3 kali seminggu. ”Semua dengan catatan melalui bimbingan pelatih,” terangnya.
Sebenarnya olahraga Padel sudah lama ada. Di daerah-daerah kota besar, sudah lama ada lapangan Padel.
Termasuk turnamen Padel sering diadakan dan hampir tiap bulan. Hanya saja, di Kota Probolinggo, lapangan Padel baru tahun ini berdiri.
Apakah olahraga Padel termasuk olahraga mahal? Sandy mengaku, mahal tidaknya olahraga Padel adalah relatif.
Tentunya, jika memilih brand besar maka mahal. Solusinya, bisa brand kecil yang lebih terjangkau.
Seperti raket misalnya, ada harga yang dibawah Rp 1 juta ada, Namun juga ada harga Rp 15 juta. ”Padel itu ada empat kategori. Mulai beginner atau pemula, Bronze, Silver, Gold,” ujarnya.
Olahraga padel, lebih sering dan ramai malam hari. Apalagi saat Ramadan. Biasanya lapangan ramai sore dan malam hari.
Karena selama Ramadan, lebih aman latihan malam hari. Tetapi jika berlatih pada waktu ngabuburit di saat kadar gula berada di titik terendah, tubuh akan mengalami peningkatan endurance yang luar biasa.
”Latihan berapa lama, tetap menyesuaikan kemampuan. Karena olahraga padel apakah menyedot energi besar atau tidak tergantung sparring. Jika lawan kuat dan seimbang, tentunya permainan berlangsung lama. Tapi memang padel lebih ringan dibandingkan tenis,” ungkapnya.
Ferry Hidayat, pelatih Padel di Kota Probolinggo lainnya mengaku, untuk orang yang benar-benar baru terutama yang pertama belum bisa memainkan padel secara baik.
Sebab, bermain padel memang terlihat mudah. Tetapi ketika memainkannya secara langsung ternyata tidak semudah seperti melihat.
”Banyak teknik yang harus dipelajari agar cepat bisa untuk memainkan padel. Mungkin sekitar 4 sampai 6 bulan untuk bisa memainkan padel dengan rally yang panjang,” terangnya.
Varilia Alenta, 36, salah satu peminat padel. Wanita asal Kelurahan Tisnonegaran Kecamatan Kanigaran ini mengaku sudah lama tahu soal padel.
Tetapi untuk mencobanya bermain langsung, sejak sebulan terakhir, tepatnya saat sudah tersedia lapangan di Kota Probolinggo.
Baginya, sangat excited bisa main olahraga padel. Saat ada lapangan padel di Kota Probolinggo, dia dan teman-temannya pada ingin mencobanya. Meskipun ada juga yang fomo, tapi banyak juga yang ketagihan dan menekuni.
”Kalau tahunya olahraga Padel sudah lama. Tapi untuk mencoba langsung sejak ada lapangan padel di Probolinggo. Dan ternyata langsung jatuh cinta, bikin nagih,” katanya pada Jawa Pos Radar Bormo kemarin.
Varilia, 36, mengaku, sebenarnya padel kurang lebih secara teknik, aturan dan scoring sama seperti tenis.
Bedanya hanya di model lapangan, model raket tentunya lebih ringan dan bola yang lebih kecil sizenya daripada tenis. ”Cara bermain padel juga bisa manfaatkan dinding lapangannya,” ujarnya.
Apakah selama Ramadan merubah jadwal latihan? Varilia mengaku, selama ramadhan tidak ada perubahan jadwal apapun. Karena sebelum Ramadhan, memang biasa main bersama (mabar) di jam malam. Sebab, waktu yang tersedia untuk olahraga malam hari.
”Kalau pagi siang sedang kerja. Jadi main padelnya biasa malam hari. Kebetulan saya dan teman biasanya latihan sekali dalam seminggu,” akuinya. (mas/fun)
Editor : Abdul Wahid