PROBOLINGGO, Radar Bromo - Dua talenta muda triathlon Kota Probolinggo, Leader Matthew Wisanggeni dan Maurizka Nur Azizah, mulai menaikkan level persaingan mereka.
Meski masih berstatus atlet kelas Youth Triathlon Dunia, keduanya berani menjajal ketatnya kelas Junior dalam ajang “2026 Asia Junior Triathlon Putrajaya Cup Malaysia” yang digelar pada 7–8 Februari 2026 lalu.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Keduanya tengah memburu poin sebanyak mungkin demi menembus start list Youth Olympic Games, mewakili Benua Asia. Persaingan menuju panggung multi event dunia tersebut sangat ketat.
“Kuota dari Asia hanya enam atlet putra dan enam atlet putri. Jadi setiap poin sangat berarti,” ujar Pelatih FTI Kota Probolinggo, Robby Ade Putra.
Saat ini, Maurizka Nur Azizah berada di peringkat ke-5 Asia, sementara Leader Matthew Wisanggeni menempati posisi ke-10. Posisi tersebut masih sangat dinamis dan bisa berubah tergantung performa di setiap seri kejuaraan.
“Untuk mengejar dan mengamankan posisi, keduanya berlatih lebih keras lagi di pemusatan latihan nasional. Setiap event menjadi ajang uji kemampuan sekaligus evaluasi,” kata Robby.
Beberapa agenda besar sudah masuk dalam kalender mereka, yakni: 2026 Asia Triathlon Junior & U23 Championships Hong Kong; 2026 Asia Triathlon Junior Cup Subic Bay, Filipina; 2026 Asia Triathlon Junior Cup Kampar, Malaysia; dan 2026 Asia Triathlon Junior Cup Astana, Kazakhstan;
Di Putrajaya, Maurizka tampil solid dan penuh determinasi. Dia bersaing dengan 24 atlet dari berbagai negara Asia, ia langsung melaju ke babak final dan tampil impresif hingga mengamankan posisi ketiga alias medali perunggu.
Capaian tersebut menjadi suntikan moral penting dalam perburuan poin menuju Youth Olympic Games.
Sementara itu, Leader harus melalui jalur lebih panjang. Turun bersama 52 atlet Asia di kategori putra, ia menjalani babak penyisihan dan semifinal.
Di fase semifinal, Leader mencatatkan waktu terbaik ketiga dan memastikan tiket final bersama 30 atlet terbaik. Namun di partai puncak, ia harus puas finis di posisi ke-12.
“Ini tetap pengalaman berharga dan bahan evaluasi, terutama soal strategi race,” jelas Robby.
Menurutnya, dalam balapan level Asia, taktik memainkan peran krusial. Pada fase penyisihan dan semifinal, atlet tidak perlu terlalu menonjol agar strategi tidak terbaca lawan saat final.
“Di final, saat berenang dan bersepeda, Leader sempat di-block pergerakannya oleh atlet negara lain untuk meloloskan rekan setimnya. Ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk keluar dari tekanan itu. Energi banyak terkuras sebelum masuk fase lari,” paparnya.
Situasi tersebut menjadi pembelajaran penting dalam membaca pola permainan dan manajemen energi di level elite Asia. Kini fokus tertuju pada 2026 Asia Triathlon Junior & U23 Championships Hong Kong yang akan digelar 14–15 Maret mendatang.
Tantangan bukan hanya datang dari rival-rival Asia, tetapi juga adaptasi terhadap musim dan cuaca Hong Kong.
“Kami berharap mereka bisa cepat beradaptasi dengan kondisi lintasan dan cuaca. Targetnya tentu hasil terbaik untuk Indonesia,” tutup Robby.
Perjalanan masih panjang. Namun dengan semangat, disiplin latihan, dan jam terbang internasional yang terus bertambah, Leader Matthew Wisanggeni dan Maurizka Nur Azizah menunjukkan bahwa atlet muda Probolinggo siap bertarung di panggung Asia—dan membidik panggung dunia. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid