BANGIL, Radar Bromo - Riak-riak kecil mewarnai internal manajemen tim kebanggaan warga Kabupaten Pasuruan, Persekabpas.
Kabar masuknya nama Yusuf Daniyal dalam struktur PT Persekabpas Laskar Sakera memicu polemik.
Pasalnya, politisi senior tersebut mengaku sama sekali tidak pernah dilibatkan dalam aktivitas manajerial tim berjuluk The Lassak itu.
Nama Yusuf Daniyal mencuat menjabat sebagai salah satu direktur dalam struktur PT Persekabpas Laskar Sakera saat audiensi suporter beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal itu, Daniel –sapaannya mengaku kaget. Ia menegaskan tidak tahu-menahu soal pencantuman namanya dalam jajaran direksi.
“Saya tidak tahu, tidak diberi tahu, dan tidak pernah sekali pun diundang rapat. Memang dulu pernah diajak, tapi saya sudah sampaikan tidak bersedia,” tegas Daniel kemarin (17/2).
Pria yang juga menjabat Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan ini menjelaskan, keputusannya tidak bergabung memiliki alasan kuat.
Sebelum Pilkada lalu, ia telah berkonsultasi dengan Ketua DPC PKB Kabupaten Pasuruan, Hindun Anisah.
Arahan partai saat itu sangat jelas. Agar seluruh kader harus fokus pada konsolidasi pemenangan Pilkada.
“Garis partai sudah jelas. Tugas partai saat itu sangat padat, jadi saya tidak mungkin membagi fokus. Jadi kalau sekarang nama saya muncul, saya tegaskan selama ini tidak pernah dilibatkan dalam rapat sekalipun,” imbuhnya.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Persekabpas Laskar Sakera, Gaung Andaka, memberikan klarifikasi mengenai polemik tersebut.
Gaung mengakui bahwa pada awal pembentukan badan hukum klub, dirinya memang menawarkan posisi kepada tiga rekan di DPRD, yakni Yusuf Daniyal, Andri Wahyudi, dan Heru Very Nurcahya.
Menurut Gaung, saat itu ketiganya sempat menyatakan bersedia. Namun, saat detik-detik terakhir penandatanganan akta notaris, Andri Wahyudi dan Heru memutuskan mundur.
Sementara untuk Daniel, Gaung menyebut yang bersangkutan tetap tercantum dalam akta meski hingga kini tidak aktif.
“Memang sejak berdiri, beliau (Daniyal) belum pernah aktif, dan baru menyatakan tidak bersedia ketika sudah berbadan hukum. Jadi kami berkolaborasi dengan siapa pun yang bersedia saat itu,” beber Gaung.
Gaung juga menepis adanya sentimen politik dalam penyusunan struktur manajemen.
Ia menegaskan tidak perlu ada kekhawatiran soal pertanggungjawaban bagi pengurus yang tidak aktif.
“Tidak ada sentimen politik. Sejak awal semangat kami ingin menjadikan Persekabpas ini sebagai pemersatu, bukan dikotak-kotakkan oleh sentimen partai. Yang dimintai pertanggungjawaban hanya mereka yang aktif bekerja saja,” tukasnya. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin