SUKOREJO, Radar Bromo - Insiden pelanggaran yang terjadi saat laga antara Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung menyita perhatian publik.
Komite Disiplin (Komdis) PSSI Provinsi Jatim, telah menjatuhkan sanksi untuk Muhammad Hilmi Gimnastiar, 20, pemain dari klub Putra Jaya Pasuruan.
Hukumannya juga tak main-main. Hilmi diganjar hukuman dengan membayar denda sebesar Rp 2.500.000.
Yang paling berat, Hilmi juga dijatuhi hukuman larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup.
Hukuman itu diberikan setelah Hilmi melakukan tendangan yang mendarat ke dada Firman Nugraha, pemain klub Perseta 1970.
Insiden itu terjadi pada laga menit ke-72, dalam laga perdana grup CC Liga 4 Piala Gubernur Jatim di Stadion Gelora Bangkalan. Setelahnya, Hilmi diberikan kartu merah.
Seusai laga, komdis PSSI langsung menggelar sidang dan memberikan sanksi yang terbilang berat terhadap pemain yang berposisi sebagai stopper di lini belakang itu. Klub Putra Jaya bahkan langsung memecat Hilmi.
Atas sanksi itu, yang bersangkutan menerimanya. "Saya menyesal dan mohon maaf atas kejadian tersebut," kata Muhammad Hilmi Gimnastiar, ditemui Jawa Pos Radar Bromo di rumahnya yang berada di Desa Mojotengah, Kecamatan Sukorejo, Selasa malam (6/1).
Hilmi menyadari bahwa tindakannya salah karena melakukan pelanggaran berat. Karena itulah pascakejadian dan sebelum komdis memutuskan hukuman untuknya, dia mengaku menangis sekaligus menyesal telah melakukan tendangan tersebut di saat berada di lorong Stadion Gelora Bangkalan
"Setelah pertandingan, di luar stadion saya mendatangi Firman Nugraha. Bersalaman sekaligus meminta maaf," ungkapnya.
Namun Hilmi tak menyangka sanksi dari komdis PSSI begitu berat hingga melarangnya beraktivitas di sepakbola resmi seumur hidup. Baru saat sidang komdis, Selasa (6/1) yang berlangsung sekitar satu jam, dia mengetahuinya.
"Sidang komdis via zoom diikuti delapan orang, antara lain ada saya, wasit, komdis, panpel," katannya.
Ditanya terkait sanksi tersebut yang dijatuhkan untuknya, apakah akan mengajukan banding, Hilmi tidak berkomentar panjang. Dia memilih diam. Namun yang pasti cita-citanya untuk melanjutkan karir di sepakbola, pupus sudah.
"Saya bermain sepak bola sejak sekolah dasar. Selepas lulus sekolah MA, sepak bola menjadi pekerjaan saya selama ini," jelasnya.
Di sisi lain, Kasianto sebagai pelatih Putra Jaya Kabupaten Pasuruan, memang tidak membenarkan aksi yang dilakukan Hilmi.
Hanya saja dia berupaya membela mantan anak asuhnya itu. Dia menyebut, tendangan itu tak akan terjadi bila tak ada provokasi dari lawan.
Kasianto juga tak menyangka bahwa sanksi dari komdis bakal berat. Apalagi soal keputusan larangan bermain sepak bola seumur hidup. Karena selama ini Hilmi punya cita-cita yang tinggi di dunia olahraga ini. (zal/fun)
Editor : Abdul Wahid