PROBOLINGGO, Radar Bromo-Aroma kekecewaan menyelimuti arena Porprov IX Jawa Timur 2025, khususnya di cabang olahraga (cabor) anggar.
Pasalnya, pertandingan yang seharusnya menjadi ajang pembuktian bagi atlet, justru terhenti mendadak pada Selasa (1/7), di tengah panasnya perebutan medali. Pemicu utamanya: kisruh dualisme kepengurusan di tubuh Pengprov IKASI Jawa Timur.
Ketua Cabor Anggar KONI Kota Probolinggo, Erni Yusnita tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
Menurutnya, berdasarkan hasil pertandingan yang telah berjalan, atlet Kota Probolinggo berhasil meraih 2 medali emas, 1 perak, dan 2 perunggu. Capaian itu sejatinya mengantarkan timnya ke posisi 4 besar dengan 12 poin.
Bukan hanya hitungan poin untuk mengangkat kontingen Kota Probolinggo. Atlet anggar yang sudah meraih medali, jelas terancam akan haknya. Salah satunya reward yang dijanjikan kepada atlet.
"Kami jelas sangat dirugikan. Semua hasil kerja keras atlet kami seperti dihapus begitu saja. Kami masih terus perjuangkan ke KONI Jatim agar poin tersebut tetap diakui," tegas Erni.
Masalah bermula dari keikutsertaan 12 atlet Kabupaten Malang yang tergabung dalam Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (IKASI) versi Komite Olimpiade Indonesia (KOI). bukan versi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang diakui Pengprov resmi Jawa Timur.
Menurut Erni, berdasarkan hasil technical delegate, sebanyak 19 pengcab lainnya menolak keikutsertaan atlet Malang karena tidak memenuhi syarat.
“Mereka tidak ikut Kejurprov Anggar Sidoarjo PADA 24–27 Oktober 2024, mendaftar di luar waktu yang ditetapkan. bahkan saat kejuaraan dimulai, tidak ada satu pun dari mereka, baik atlet maupun pelatih, yang hadir. Tapi justru pertandingan dihentikan oleh KONI Jatim," jelasnya.
Padahal, lanjut Erni, penghentian pertandingan bukan kewenangan KONI Jatim. Sebab, pelaksanaan Porprov didasarkan pada SK Gubernur Jawa Timur.
Ia juga menilai ada kejanggalan karena KONI Kabupaten Malang diketahui memberi dua rekomendasi. satu ke KONI dan satu ke KOI.
Setelah melalui perdebatan sengit, seluruh pengcab akhirnya sepakat melanjutkan pertandingan hingga Jumat (4/7).
“Pada hari pertama, atlet kami sudah mendapatkan 1 emas dan 1 perak. Namun hingga sekarang hak-haknya belum diberikan. Bahkan tak bisa berfoto di podium dengan membawa medali seperti atlet cabor lain,” tutur Erni.
Penyelenggara sempat menawarkan opsi pertandingan ulang. Namun bagi Erni, wacana tersebut tidak masuk akal.
“Mana ada Porprov ulang setelah Porprov selesai? Itu artinya bukan Porprov lagi. Kami tolak tegas. Kami akan terus perjuangkan ini ke KONI Jatim, bahkan siap audiensi ke Gubernur jika perlu,” tegasnya.
Ketua Umum KONI Kota Probolinggo, Zulfikar Imawan, menyayangkan insiden tersebut.
“Saya yakin para atlet kami sudah latihan keras. Ini jelas merugikan, baik secara mental maupun capaian poin. Jika poin anggar kami dihitung, Kota Probolinggo bisa melesat ke peringkat 25. Tapi karena ini, semuanya menguap,” ujarnya.
Sementara itu, panitia cabor anggar Porprov IX, Fathullah menyatakan bahwa keputusan final masih menunggu surat resmi dari Gubernur Jawa Timur.
“Pertandingan sebenarnya sudah rampung meski sempat dihentikan. Rekan-rekan dari 20 pengcab sepakat tetap lanjut. Namun, kami masih menunggu keputusan Gubernur,” tutupnya. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid