KRAKSAAN, Radar Bromo - Hanya kontingen Kabupaten Probolinggo yang peringkatnya naik di pekan olahraga provinsi (Porprov) IX Jatim. Dari posisi 25 naik ke peringkat 19. Sementara Kota Pasuruan-Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan, turun semua!
Dari jumlah medali, hanya kontingen Kabupaten Probolinggo yang berhasil menaikkan raihan medali. Di Porprov IX, kontingen Kabupaten Probolinggo meraih 18 emas, 16 perak dan 18 perunggu. Meningkat dari edisi Porprov VIII yang saat itu meraih 12 emas, 10 perak dan 19 perunggu.
Ketua KONI Kabupaten Probolinggo, Zainul Hasan, bersyukur atas capaian ini. Namun KONI belum sepenuhnya puas. Capaian ini akan dijadikan bahan evaluasi dan motivasi untuk meningkatkan prestasi di Porprov selanjutnya.
“Target kami masuk 20 besar dan Alhamdulillah sudah terlampaui,” ungkap Zainul Hasan saat ditemui usai rapat evaluasi Porprov, Minggu (6/7).
Namun dia menyoroti masih banyaknya cabor yang belum berhasil menyumbangkan medali. Ada yang meleset, namun ada yang membuat kejutan. Cabor-cabor yang meleset dari target inilah yang harus menjadi evaluasi.
Menurutnya, pelatihan untuk cabor-cabor tersebut akan dioptimalkan, terutama dalam hal pengawasan dan pembinaan atlet.
“Kami tidak akan memberikan hukuman atau punishments. Tapi pelatihan akan kami maksimalkan, termasuk pengawasan saat latihan, agar cabor yang belum berprestasi bisa mengejar ketertinggalan,” tegasnya.
Zainul Hasan juga membandingkan capaian ini dengan Porprov sebelumnya. Dia menyebut peningkatan ini layak dibanggakan. Menurutnya, kerja keras para atlet, pelatih, dan seluruh pihak terkait patut diapresiasi.
“Ini lonjakan yang baik dibanding Porprov sebelumnya. Tapi ke depan, kami ingin lebih banyak lagi cabor yang berkontribusi medali. Ini PR besar bagi kami,” tutupnya.
Perolehan Koni Kabupaten Probolinggo ini mendapat apresiasi dari wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ. Ia merasa bangga atas pencapaian luar biasa kontingen Kabupaten Probolinggo yang telah melampaui target medali.
“Saya mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih. Tahun ini kita berhasil melampaui target dan naik peringkat dari 25 ke 19. Ini capaian yang sangat luar biasa,” katanya.
Ia menyebutkan, capian ini menjadi semangat penting sebagai modal membangun sistem pembinaan olahraga yang lebih kuat di masa mendatang. “Porprov ini bukan akhir.
Justru ini adalah awal untuk menatap prestasi lebih tinggi di tingkat nasional. Kita perlu membangun sinergi antara pemerintah, KONI, sekolah dan komunitas olahraga untuk menyiapkan atlet sejak dini,” tegasnya.
Nasib berbeda dialami Kota Probolinggo yang harus puas finis di posisi ke-30. Walau sempat msuk 20 besar, menjelang detik-detik terakhir penutupan, posisi mereka terus tergeser, hingga akhirnya berhenti di papan bawah klasemen.
Kota Probolinggo menutup Porprov IX dengan torehan 55 poin, hasil dari 5 emas, 12 perak, dan 21 perunggu.
Jika dibandingkan dengan edisi porprov sebelumnya, perolehan medali kota yakni 12 emas, 13 perak dan 18 perunggu. Jauh dari target KONI yang mematok 41 emas, 33 perak dan 44 perunggu.
Di Porprov IX, Kota Probolinggo mengirimkan 217 atlet yang berlaga di 32 cabang olahraga (cabor). Jumlah tersebut menurun cukup signifikan dibandingkan Porprov VIII, yang mengikutsertakan 361 atlet dari 36 cabor.
Ketua Umum KONI Kota Probolinggo, Zulfikar Imawan mengungkapkan bahwa ada sejumlah faktor yang menyebabkan turunnya performa kontingen Kota Probolinggo.
"Jumlah cabor yang berkurang tentu berpengaruh pada peluang perolehan medali. Selain itu, ada satu cabor potensial yang mengalami kendala teknis, yakni anggar," ungkap Iwan– apaan akrabnya.
Menurut Iwan, pada cabor anggar, atlet kota sejatinya berhasil menyabet 2 emas, 1 perak, dan 3 perunggu yang setara dengan 12 poin. Sayangnya, karena adanya dualisme di tubuh pengurus provinsi (Pengprov), seluruh pertandingan anggar tidak dapat dimasukkan dalam perolehan poin klasemen.
“Kami dirugikan secara signifikan. Potensi medali dari cabor anggar sebenarnya bisa mendongkrak posisi Kota Probolinggo secara keseluruhan,” keluhnya.
Selain itu, ada 11 atlet unggulan Kota Probolinggo yang tidak bisa memperkuat kontingen karena tengah dipersiapkan untuk berlaga di PON, seperti dari cabor anggar, dayung, dan atletik.
“Ini tentu jadi kehilangan besar. Di sisi lain, sebagian besar atlet yang turun adalah wajah-wajah baru. Mereka masih butuh jam terbang dan pembinaan yang lebih intens,” tambah Iwan.
Hal ini menunjukkan adanya celah dalam proses kaderisasi atlet. Untuk itu, KONI berencana melakukan evaluasi menyeluruh dengan melibatkan semua cabor – termasuk yang absen dalam Porprov IX.
“Evaluasi ini bukan berarti hukuman atau punishment, tapi demi membangun sistem yang lebih baik. Mulai dari rekrutmen atlet, pola latihan, manajemen cabor, hingga dukungan finansial dan fasilitas semua akan kami evaluasi,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, KONI Kota Probolinggo telah menyiapkan sejumlah stimulan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Salah satunya adalah mengoptimalkan atlet-atlet yang saat ini turun, agar lebih matang dan siap bersaing di Porprov X tahun 2027 mendatang.
“Kami akan poles potensi-potensi ini. Apa yang kurang, akan kami penuhi semaksimal mungkin. Termasuk kebutuhan pelatih profesional dan sarana latihan,” jelas Iwan.
Tak hanya itu, bentuk apresiasi juga disiapkan untuk atlet berprestasi. Berdasarkan Peraturan Wali Kota, atlet peraih medali emas berhak mendapatkan bonus Rp 20 juta, medali perak Rp 15 juta, dan medali perunggu Rp 10 juta. Selain itu, ada pula bonus panggung sebagai bentuk penghargaan langsung dari KONI.
"Bonus panggungnya, untuk peraih emas individu mendapat tambahan Rp 500 ribu, perak Rp 300 ribu, dan perunggu Rp 200 ribu. Sementara untuk nomor beregu, emas mendapatkan Rp 750 ribu, perak Rp 500 ribu, dan perunggu Rp 300 ribu. Waktu pemberian bonus akan ditentukan oleh Dispopar Kota Probolinggo nantinya,” pungkas Iwan.
Beralih ke Pasuruan. Penurunan peringkat dialami kota dan kabupaten. Untuk Kabupaten Pasuruan, mereka gagal mempertahankan peringkat ke-6 yang sudah dua edisi porprov sebelumnya dipertahankan. Namun salah satu cabor yakni petanque, berhasil meraih juara umum dengan perolehan 2 emas, 3 perak dan 1 perunggu.
Jika dibandingkan dengan edisi porprov sebelumnya, perolehan medali juga turun. Di Porprov IX, ada 30 emas, 35 perak dan 38 perunggu yang diraih. Padahal di Porprov VIII, Kabupaten Pasuruan berhasil mengumpulkan 33 emas, 43 perak dan 48 perunggu.
Mamat Aryo Setiawan, ketua KONI Kabupaten Pasuruan mengatakan, walau turun, dia melihat perjuangan atlet sudah luar biasa. “Tentu ini jadi bahan evaluasi kami. Fokus kami saat ini adalah pembinaan dan regenerasi atlet. Sebab ada banyak atlet yang usianya memasuki senior, sehingga harus ada regenerasi,” beber Mamat.
Sementara Kota Pasuruan yang total mengumpulkan 34 medali (6 emas, 6 perak, 22 perunggu), membuat mereka turun 3 peringkat dari edisi sebelumnya. Dari peringkat ke-29, menjadi 32. Perolehan medali juga turun karena di edisi sebelumnya, ada 40 medali (6 emas, 12 perak dan 22 perunggu).
Namun koni memaklumi capaian ini. Sekretaris Koni Kota Pasuruan, Bambang Tri Hascaryo menyebut tidak ada target khusus pada cabor dalam ajang porprov. Pihaknya hanya berharap Kota Pasuruan bisa menyamai raihan emas porprov lalu atau lebih.
"Kami mengapresiasi cabor yang sudah bekerja keras. Memang kami tidak pasang target. Yang penting cabor berjuang," katanya.
Ia memastikan KONI tidak akan memberikan sanksi bagi cabor yang tidak mendapatkan medali sama sekali atau tidak menyamai prestasi lalu. Sebab porprov kali ini, jumlah atlet dan cabor yang ikut lebih sedikit. Hanya 230 atlet dari 38 cabor.
"Dari awal memang tidak ada target khusus untuk tiap cabor. Alhamdulilah emas masih sama seperti porprov lalu," jelas Bambang. (mu/gus/riz/fun)
Editor : Abdul Wahid