PROBOLINGGO, Radar Bromo-Tiga daerah di Jatim secara resmi sudah mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur X Tahun 2027.
Salah satunya Kota Probolinggo. Pengajuan ini disampaikan dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Jatim yang digelar di Surabaya, akhir Februari lalu.
Selain mengajukan diri, ketiga daerah tersebut juga telah memaparkan kesiapan mereka untuk menjadi tuan rumah. Mulai dari kesiapan venue hingga sarana dan prasarana (sarpras) pendukung.
Seiring berjalannya waktu, Kota Probolinggo rupanya batal karena banyak pertimbangan.
Beberapa di antaranya disebabkan oleh keterbatasan sarana dan prasarana olahraga yang masih menjadi kendala utama.
“Dilihat dari sarana dan fasilitas yang ada, kalau untuk Kota Probolinggo sendiri sepertinya belum siap untuk menjadi tuan rumah Porprov,” kata Ketua KONI Kota Probolinggo, Zulfikar Imawan.
Pria yang akrab dipanggil Iwan ini mengatakan bahwa masih ada beberapa cabor dan venue yang belum memenuhi standar nasioanal di Kota Probolinggo.
“Anggaplah seperti cabor atletik yang dapat menggunakan GOR. Namun di sana kan tidak ada lintasan. Sehingga untuk melaksanakan itu kami harus menggandeng daerah lain tentunya,” ungkapnya.
Sehingga kalaupun bisa mengajukan sebagai tuan rumah Porprov, maka harus menjadi tuan rumah bersama dengan daerah-daerah di sekitar Kota Probolinggo.
“Untuk memenuhi kebutuhan venue, bisa bekerjasama dengan daerah lain seperti Lumajang, Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo. Jadi masih banyak tahapan yang harus dilalui,” tambahnya.
Pengusulan kepada Pengprov nantinya juga akan dikaji. “Tentu venue akan disurvei. Ini kan perlu kajian. Termasuk penyediaan anggaran, misalnya kami perlu pembenahan ataupun membangun baru sebuah venue,” kata Iwan.
Ada beberapa cabor yang menurut Iwan masih bisa dilaksanakan di Kota Probolinggo. Seperti bulu tangkis, basket, tenis meja, voli, catur, sepak bola, renang, dan panjat tebing. Sementara venue bisa menggunakan GOR Ahmad Yani, GOR Mastrip, Kolam Renang GOR Mastrip, dan Stadion. Atau bisa juga menggunakan fasilitas milik swasta.
“Tapi itupun ada beberapa yang tidak bisa semua kelas. Contohnya panjat tebing itu tidak punya untuk kelas speed. Kalau untuk cabor yang tak memerlukan venue yang khusus seperti catur, kemungkinan masih bisa dilaksanakan di sini,” ungkapnya.
Tak hanya itu, untuk menjadi tuan rumah juga tentu membutuhkan sarana penginapan mengingat jumlah peserta yang datang mencapai ribuan orang. “Maka dari itu, perlu bekerjasama dengan daerah lain menjadi tuan rumah bersama,” kata Iwan.
Tentunya menjadi tuan rumah Porprov juga akan membawa keuntungan bagi Kota Probolinggo. Terutama di bidang ekonomi masyarakat yang akan menggeliat.
“Sebab bayangkan saja berapa ribu atlet yang akan datang ke sini. Ditambah para ofisialnya yang berjumlah maksimal bisa sampai separo dari total atlet. Diikuti oleh 38 Kota Kabupaten dan dilaksanakan kemungkinan 7 hingga 10 hari,” tuturnya.
Di lain sisi, permasalahan biaya yang harus digelontorkan untuk melaksanakan event tersebut tentunya tak sedikit. Untuk mengikuti Porprov tahun ini saja, Kota Probolinggo membutuhkan dana sekitar Rp 2 miliar. Tentu ketika menjadi tuan rumah akan dibutuhkan dana lebih dari itu.
“Makanya kalau jadi tuan rumah sendirian, sepertinya berat. Sehingga harus jadi tuan rumah bersama untuk menjalankannya dan menyelesaikan permasalahan seperti venue ataupun penginapan itu tadi. Itu pun kami harus mampu menyiapkan itu semua dalam waktu singkat dan sudah harus siap sebelum tanggal pelaksanaan,” katanya.
Sebagaimana pernah diberitakan, Porprov X Jatim masih berlangsung 2027 mendatang. Namun, tahapannya sudah dimulai saat ini. Tiga daerah di Jatim sempat mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah. Selain Kota Probolinggo, ada juga Kota Surabaya dan Kabupaten Banyuwangi. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid