Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Personel TNI AL Terjun Payung dengan Paratrike di Pelabuhan Mayangan Probolinggo, Jadi yang Pertama di Indonesia

Arif Mashudi • Sabtu, 4 Januari 2025 | 14:25 WIB

 

 

LATIHAN PERDANA: Pilot paratrike, Agung PJ dengan penerjun Letda Khiron bersiap melompat saat melakukan latihan perdana di Indonesia.
LATIHAN PERDANA: Pilot paratrike, Agung PJ dengan penerjun Letda Khiron bersiap melompat saat melakukan latihan perdana di Indonesia.

MAYANGAN, Radar Bromo- Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang mengizinkan penerjun melakukan aksi terjun dengan paratrike (paralayang bermotor yang beroda).

Semenjak keputusan itu dikeluarkan, para penerjun langsung praktik dan menjadi yang pertama kali di Indonesia.

Lokasi yang dipilih adalah Pelabuhan Mayangan Probolinggo. Ada dua penerjun yang mempraktikannya pada Sabtu (28/12). Mereka terjun dari ketinggian 3.500 meter.

Kedua penerjun itu adalah Letda Mar Abdul Kiron dari Yon Taifib 2 Marinir dan Letda Mar Bagus Nurendra dari Kopaska. Keduanya berdinas di bawah kesatuan TNI AL.

Sedangkan pilot paratrike yang membawa kedua penerjun ke atas adalah Agung PJ, selaku ketua Pengprov Paramotor Jatim.

Tentu saja ini menjadi pengalaman baru bagi penerjun. Karena sudah terlatih di kesatuannya, terjun dari paratrike tentu memiliki pengalaman dan keseruan berbeda dari terjun dengan pesawat.

Kepada Jawa Pos Radar Bromo, Agung PJ mengatakan, dia bersama keempat pilot paramotor di Indonesia merumuskan olahraga Paramotor Indonesia berkembang.

Nah, salah satunya berpikir, jika dimanfaatkan membonceng penerjun, maka latihannya bisa dikombinasikan dengan akurasi (ketepatan mendarat) dengan paratrike.

Hingga akhirnya, sebelum ganti tahun, terbit surat keputusan dari FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) yang mengizinkan penerjun dapat terjun dengan paratrike. ”Kemudian, untuk pertama kali, uji coba dilakukan oleh dua penerjun TNI AL, Bagus dan Khiron, yang melakukan aksi terjun dengan paratrike. Kebetulan, saya sendiri sebagai pilot paratrike,” terangnya.

Agung mengaku, kedua penerjun itu terjun dengan ketinggian 3.500 meter. Nah, latihan terjun dengan paratrike tentu lebih hemat. Karena biasanya, terjun menggunakan pesawat.

Tentunya butuh bandara atau landasan udara. Ternyata, untuk latihan  ketepatan mendarat, akan lebih hemat dan mudah menggunakan paratrike.

”Jika selama ini olahraga terjun payung butuh pesawat terbang dan militer, dan terbatas serta biaya mahal. Tetapi, dengan paratrike bisa latihan terjun dengan lebih hemat, fleksibel, baik itu waktu dan tempatnya. (mas/fun)

Editor : Abdul Wahid
#Aero Sport #federasi #terjun payung