Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Serunya Trail Running, Olahraga Berlari Menaklukkan Rute Pegunungan

Fandi Armanto • Sabtu, 30 November 2024 | 16:30 WIB
Imanuel for Jawa Pos Radar Bromo  KURAS TENAGA: Nuel ketika mengikuti CTC Ultra di Jateng, Februari silam.
Imanuel for Jawa Pos Radar Bromo KURAS TENAGA: Nuel ketika mengikuti CTC Ultra di Jateng, Februari silam.

CABANG olahraga (cabor) baru di Indonesia terus bertambah. Salah satunya lari trail atau trail running. Cabor yang induknya bernama Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) ini juga ada peminatnya di Pasuruan-Probolinggo. Meski atletnya belum banyak.

Di ajang PON XXI Aceh-Sumut lalu, satu atlet lari trail Kabupaten Pasuruan bahkan ikut meski baru sebatas eksebisi. Dia adalah Petrus Imanuel Hutajulu, 24, yang saat itu mengikuti nomor short dan vertical.

Karena eksebisi, Nuel-panggilan akrab Petrus Imanuel Hutajulu, tentu saja harus menyiapkan akomodasi sendiri. Walau saat itu dia gagal juara, pengalaman PON XXI Aceh-Sumut menambah jam terbangnya.

“Senangnya lagi bisa bertemu dan berlomba dengan dengan atlet dari seluruh Indonesia,” katanya.

Bagi pria yang sekarang tinggal di Bangil ini, lari trail digelutinya sejak 2019. PON adalah even olahraga terbesar yang diikutinya. Namun even mayor yang pernah dia ikuti sudah banyak.

“Mulai dari Broders Bromo Tengger Semeru, Siksorogo Lawu Ultra, CTC Ultra, Dieng Caldera Race dan masih banyak lainnya,” beber Nuel.

Perlu diketahui, trail running merupakan adalah cabor lari yang tidak dilakukan di stadion atau lintasan atletik pada umumnya. 

Trail running kerap dilakukan di medan bebatuan dan lumpur dengan tanjakan dan turunan yang ada di lereng gunung. Lari trail ini kerap disebut lari lintas gunung. 

Trail running  tak ubahnya berlari pada umumnya. Bedanya, fisik harus benar-benar kuat. Karena tak jarang, medan yang dilintasi memiliki tanjakan dan jarak tempuh yang jauh. Bahkan ada yang sampai sehari semalam.

PEMANDANGAN INDAH: Nuel saat berloma di Dieng Caldera Race.
PEMANDANGAN INDAH: Nuel saat berloma di Dieng Caldera Race.

“Seperti Manglayang Everesting yang pernah digelar di Sumedang Jabar. Jarak tempuhnya 70 kilometer. Ada juga Rinjani 100 kilometer yang digelar Juni lalu,” beber Nuel.

Dua even tersebut, pernah diikuti Nuel. Di Manglayang Everesting, Nuel tak mendapatkan nomor. Namun di even Rinjani 100 kilometer, Nuel mengaku meraih juara pertama setelah dia berhasil menyelesaikan nomor 27 kilometer dengan tempo 3 jam 35 menit.

Adapula even MSC yang menjadikan Welirang-Arjuno sebagai arenanya. “MSC malah lebih brutal. Rutenya 116 kilometer yang dimulai start dari Kaliandra di Prigen, tembus ke Cangar Kota Batu hingga ke Singosari, Malang,” beber Nuel.

Lewat even-even mayor itulah, Nuel bisa menambah jam terbangnya. Dalam setahun, ada puluhan even mayor yang digelar di seluruh Indonesia.

Bahkan dalam waktu dekat, Nuel berencana mengikuti CTC Ultra yang akan digelar di Parangtritis, Jawa Tengah, awal Februari tahun depan.

Nuel mengaku, lari trail di Indonesia memang terbilang baru. Bahkan di Kabupaten Pasuruan, ALTI belum masuk di KONI.

“Kabupaten Pasuruan sebenarnya sudah memiliki cabor resmi. Hanya saja atletnya masih minim. Bahkan saya mungkin satu-satunya atlet yang tergabung. Di Probolinggo juga sama, atletnya bisa dihitung dengan jari,” beber Nuel.

Memang untuk mencari atlet baru, tidak mudah. Apalagi lari trail adalah olahraga ekstrem yang tak semua orang bisa ikut. Bayangkan saja, atletnya harus berlari di medan gunung. Sementara lombanya beradu kebut.

Di tengah medan pegunungan itu, atlet rawan akan cedera jika tak kuat. Belum lagi fisik harus kuat.

Bila sudah mengikuti lomba, porsi latihan harus ditambah. “Makan dan minum vitamin layaknya atlet pada umumnya,” beber Nuel.

Apakah saat berlomba tidak khawatir kesasar? Nuel bilang, dalam setiap even, panitia tentu sudah memperhitungkan.

Sepanjang jarak tempuh, ada pos-pos kesehatan dan pengamanan. “Meskipun jarak tempuhnya jauh dan terjal, panitia pasti memberi peringatan dan air minum,” beber Nuel.

Tiap kali mengikuti event, Nuel juga kerap berlatih. Minimal dia naik ke jalur pendakian di Welirang Arjuno. Atau berlatih di lapangan untuk menguatkan fisik. Vitamin harus rutin diminum.

“Yang paling lelah itu setelah lomba. Saya bisa menghabiskan 3 ribu kalori atau setara 15 bungkus nasi Padang. Saya bisa makan sampai lima kali dalam sehari setelah mengikuti lomba,” katanya seraya tertawa.

Kata Nuel, inilah yang membuat kaderisasi atlet lari trail, belum masis. Meski sebenarnya banyak pelari, terutama road, yang bisa ikut serta di ajang ini. Kendalanya, even lari trail ini kerapkali digelar di lokasi jauh dan memakan waktu yang lama.

Nuel misalnya, jika ingin mengikuti sebuah event lari trail, jauh-jauh hari dia harus mengajukan cuti ke tempat kerjanya. Maklum, Nuel adalah seorang karyawan swasta di Kota Malang.

“Bisa diatur dan lari trail itu sudah ada agendanya dari awal hingga akhir tahun,” katanya.

Tetapi Nuel berpesan, jika memang tertarik dan tertantang, siapa saja bisa ikut lari trail. Bahkan seorang runner, hanya tinggal menambah intensitas latihan. Skill bisa diasah karena rute diap lari trail sebenarnya sudah dicarikan yang aman dan tak membahayakan.

Satu-satunya yang sulit untuk ditaklukkan adalah ego. “Kalau lelah itu pasti. Berlati di medan pegunungan juga alam yang menjadi tantangannya. Namun sangat enjoy saat melakukannya, apalagi jika tiba di garis finish,” bebernya.

Nuel berharap, olahraga ini semakin banyak peminatnya. Di Kabupaten Pasuruan pun kini banyak atlet-atlet lari yang kerap ikut latihan dengannya.

Dengan masuknya lari trail di PON XXI Aceh-Sumut lalu sebagai cabor eksebisi, Nuel berharap olahrag aini semakin berkembang. (fun)

Editor : Abdul Wahid