FORMAT baru kompetisi musim 2024-2025, memberatkan klub-klub amatir di Pasuruan dan Probolinggo. Terutama klub yang harus terdepak ke Liga 4.
Mereka mengaku masih berpikir ulang untuk mengikuti kompetisi ini. Sebab, biaya yang dikeluarkan juga tak sedikit.
Sementara nilai jual Liga 4, jelas berbeda dengan Liga 3.
Seperti yang diungkapkan Suryono Pane selaku CEO Pasuruan United.
Tim yang di musim lalu berhasil tembus hingga zona nasional ini, masih pikir-pikir untuk mengikuti kompetisi.
“Tetapi jika Namanya berubah menjadi Liga 4, apakah ada sponsorship yang mau mendukung? Jelas sangat susah. Sementara format Liga 4 ini, tak jauh beda dengan Liga 3 musim sebelumnya,” beber Suryono Pane.
Padahal, di musim sebelumnya, untuk Pasuruan United saja hampir menghabiskan kocek yang tak sedikit untuk mengelola klub.
Mulai dari gaji pemain, mess dan makan hingga akomodasi saat berlaga di luar Pasuruan. “Hampir Rp 1 miliar yang kami keluarkan. Tetapi musim lalu masih ada sponsorship,” beber Suryono.
Hal serupa juga diungkapkan Abubakar Assegaf selaku Pembina klub Assyabaab Bangil. Kata Yik Bakar panggilan akrabnya, PSSI dinilai terlalu angkuh saat memutuskan format kompetisi musim baru setelah kongres.
“Istilahnya, sak penake dewe (enaknya sendiri, red) tetapi tidak melihat klub-klub yang ada di bawah. Jelas format baru ini memberatkan kami sebagai tim amatir,” beber Yik Bakar.
Keduanya pun mengaku kompak, Liga 4 ini tak akan mudah untuk menggaet sponsorship.
Sebab berada di kasta kompetisi paling bawah. Sehingga mau tak mau, akhirnya hanya orang-orang yang gila bola yang mau mendanai.
Namun keduanya mengaku, klubnya diupayakan untuk tetap mengikuti kompetisi musim baru.
Alasannya, ada konsekuensi jika klub mereka absen di kompetisi. Mulai dari turunnya sanksi atau kehilangan voters saat pemilihan. “Bisa-bisa, klub akan turun ke Liga 5. He…he..he..,” kata Suryono Pane.
Mereka yakin ada solusi yang bisa dilakukan tim. Misalnya, benar-benar memakai pemain lokal dengan usia dini. “Karena tujuan awal kami mengelola Pasuruan United in ikan untuk pembinaan pemain. Maka kami harus tetap ikut,” beber Suryono Pane.
Setali tiga uang. Ini juga diungkapkan oleh Ketua Askot PSSI Pasuruan, Suhaimi yang memiliki dua klub yakni Persekap dan PSPK. Untuk menghadapi musim baru nanti, Askot optimistis karena pembinaan pemain sepak bola, berjalan selama ini.
“Mungkin untuk kompetisi musim baru ini, sistemnya bisa seperti tarkam. Pemain tidak dikontrak, tetapi diberi honor setiap kali selesai bertanding,” beber Suhaimi.
Di sisi lain, Asprov PSSI Jatim menyikapi keluhan tim. Tim-tim yang kini berlaga di Liga 4, dinilai masih punya peluang untuk mencari sponsor.
“Klub juga masih bisa menerima APBD dari pemerintah daerah,” beber Chalid Abubakar, Ketua bidang Kompetisi Asprov PSSI Jatim.
Justru tim yang berlaga di Liga 3, seperti Persekabpas, tidak lagi diperkenankan menggunakan uang dari anggaran daerah.
“Liga 3 sudah dikelola PT LIB (Liga Indonesia Baru, red). Sesuai regulasi, tim yang berlaga di Liga 3 menandakan sudah masuk liga profesional. Bukan lagi amatir. Sehingga tak diperkanankan menggunakan dana dari pemerintah,” imbuh Andy Lukito, bendahara Asprov PSSI Jatim.
Chalid dan Andy Lukito menegaskan, tim Liga 4 tak boleh berkecil hati. Ini sudah sesuai regulasi yang ditetapkan saat kongres PSSI. Apalagi tujuan dari kompetisi, sejatinya untuk mencetak bibit pemain.
Di sisi lain, Asprov PSSI Jatim menyikapi keluhan tim. Tim-tim yang kini berlaga di Liga 4, dinilai masih punya peluang untuk mencari sponsor.
“Klub juga masih bisa menerima APBD dari pemerintah daerah,” beber Chalid Abubakar, Ketua bidang Kompetisi Asprov PSSI Jatim.
Justru tim yang berlaga di Liga 3, seperti Persekabpas, tidak lagi diperkenankan menggunakan uang dari anggaran daerah. “Liga 3 sudah dikelola PT LIB (Liga Indonesia Baru, red). Sesuai regulasi, tim yang berlaga di Liga 3 menandakan sudah masuk liga profesional. Bukan lagi amatir. Sehingga tak diperkanankan menggunakan dana dari pemerintah,” imbuh Andy Lukito, bendahara Asprov PSSI Jatim.
Chalid dan Andy Lukito menegaskan, tim Liga 4 tak boleh berkecil hati. Ini sudah sesuai regulasi yang ditetapkan saat kongres PSSI. Apalagi tujuan dari kompetisi, sejatinya untuk mencetak bibit pemain. (zal/fun)
Editor : Abdul Wahid