DI TNI AL, Anisa Nur Rahmaniyah berdinas di Akademi TNI Angkatan Laut (AL). Dia berpangkat Sersan Satu. Dia tergabung di Rum/W atau korps yang bertugas di bidang kesehatan. Di TNI AL, Anisa sudah sekitar delapan tahun bergabung menjadi abdi negara.
Sementara Wiji Lestari adalah personel di Yonif Raider 3 Marinir di Sidoarjo. Dia berpangkat Prajurit Satu (Pratu). Karirnya juga terbilang baru karena dia lolos dan masuk di tahun 2019 silam.
Anisa dan Wiji seharinya memang bertugas menggunakan seragam loreng khas TNI AL.
Tapi jika tidak sedang bertugas, mereka berdua kerap berada di atas ring. Jangan heran pula bila keduanya bertarung hingga berdarah-darah. Cedera atau memar di sekujur tubuh adalah makanan sehari-hari.
Keduanya adalah atlet muaythai yang tergabung di Pengkot Muaythai Indonesia (MI) Pasuruan. Di Kota Santri pula mereka pertama kali ditempa menjadi atlet muaythai. “Kami mengawali Latihan di bawah binaan almarhum Serka Nisful Laili, pelatih muaythai,” beber Wiji.
Baik Wiji dan Anisa sebenarnya terbilang baru menekuni olahraga khas negeri Gajah Putih tersebut. Terhitung ketika pertama kali mereka masuk sebagai personel TNI AL.
Di instansinya, semua personel tentu disuruh untuk mendalami salah satu bidang olahraga. Saat itu Anisa dan Wiji mantap memilih muaythai karena ada arahan dari almarhum Serka Nisful Laili.
Bukan tanpa alasan mengapa mereka memilih olahraga yang kini mulai banyak ditekuni di berbagai negara itu.
Anisa dan Wiji memilih muaythai karena dia menggemari silat. Boleh dibilang, mereka sudah punya basic olahraga yang memang mengandalkan full body contact.
Semenjak saat itu, keduanya berlatih. Berbagai kejuaraan juga diikuti keduanya. Karena tergabung di Pengkot MI Pasuruan, maka keduanya kerap membawa nama Kota Pasuruan. Bahkan Wiji Lestari di Porprov 2024.
“Di Porprov terakhir, usia saya masih 23 tahun. Usia maksimal untuk turun,” beber Wiji Lestari. Berkat penampilan gemilangnya, Wiji ikut menyumbangkan medali emas bagi Kota Pasuruan.
Selepas Porprov, Wiji terus berlatih. Hingga namanya tembus untuk mengikuti seleksi PON. Prestasinya pun terus melejit.
Hingga penentuan Wiji masuk atau tidak ke tim PON, dinyatakan setelah dia menang di Pra PON. Dia meraih medali perunggu setelah kalah dari Hutagalung, atlet Jawa Barat.
Sementara Anisa, juga sama. Dia juga masuk atlet proyeksi PON setelah memenangi sejumlah kejuaraan. Di antaranya Juara 1 Kejurprov Muaythai kategori senior kelas 57 Kg 20-21 Februari 2021 Banyuwangi; Juara 1 Open Championship Kickboxing senior kelas 57 Kg pada 10-11 April 2021; Juara 1 Kejurprov muaytai kategori senior kelas 57 Kg, 15-17 September 2021; Juara 1 Kejurnas Pelajar dan Mahasiswa II dan Liganas muaythai seri ke 14 Makassar Kategori Senior kelas 57 Kg Januari 2022; Juara 1 Kelas 60 Kg Putri Senior Kejurprov Muaythai 21 Mei 2023.
Saat Pra Pon, Anisa juga meraih medali emas di Kelas 60 Kg Putri Senior Elit pada 20-26 Agustus 2023 silam. “Setelah Pra PON, saya juga mengikuti berbagai kejuaraan di level nasional seperti Kejuaraan muaythai Bupati Cup di Klungkung, Bali belum lama ini. Syukur saya bisa meraih juara 1,” kata atlet kelahiran Bangkalan itu.
Perjuangan Anisa dan Wiji untuk meraih medali di PON XXI Acerh-Sumut, juga tak mudah. Mereka harus mengatur jam untuk kedinasan dan Latihan. Untungnya mereka mendapat dispensasi selama menambah kemampuannya. Termasuk ketika mereka harus berlatih selama sebulan di Thailand, pada Juni-Juli lalu.
Di Thailand, mereka mendapat banyak ilmu dan teknik baru di tempat asal muaythai. “Pelatih-pelatih di sana jelas lebih punya banyak teknik. Kampi pun banyak bertemu atlet-atlet dari luar. Termasuk calon lawan kami di PON nanti yang ternyata juga belajar ke Thailand,” beber Anisa.
Di PON nanti, Anisa dan Wiji ditarget bisa menyumbang medali. Meski di ajang Pra PON mereka bisa meraih medali, itu bukan jadi jaminan. Sebab atlet dari daerah lain, tentu punya keinginan sama untuk meraih prestasi.
Keduanya juga sepakat bahwa saingan Jatim saat PON nanti, adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dua daerah ini punya atlet handal yang pasti akan memberi perlawanan ketat saat laga resmi nanti
Tak Pernah Lupakan Jasa Almarhum Serka Nisful Laili Sang Pelatih
BAGI Anisa dan Wiji, prestasi mereka hingga bisa ke level saat ini, tak terentuk secara instan. Ada tangan dingin pelatih yang menempa mereka hingga menjadi atlet profesional. Mereka pun sepakat menyebut nama Almarhum Serka Nisful Laili, pelatih Pengkot MI Pasuruan.
Nisful Laili adalah pelatih yang memang membina atlet-atlet muaythai di Kota Pasuruan.
Nisful Laili pula yang banyak mengorbankan waktu dan tenaga untuk membentuk Anisa dan Wiji dari nol sampai menjadi atlet.
“Saat kami diminta satuan untuk memilih olahraga, Abah Nisful Laili yang meminta kami berlatih di Kota Pasuruan. Abah Nisful memang berdinas di Marinir Pasuruan saat itu,” beber Anisa.
Keduanya masih ingat, kala pertama berlatih di Kota Pasuruan, Nisful Laili melatih mereka di sasana di Gedoeng Woloe. Mereka yang saat itu baru gabung di TNI AL, tak pernah terbebani walau harus pulang-pergi Surabaya-Pasuruan setiap hari.
“Saat pertama memilih muaythai, saya sebenarnya hanya punya modal mental. Olahraga ini mengandalkan fisik. Ketika kami dilatih almarhum (Nisful Laili), kami masih ingat bahwa hanya latihan keras yang bisa membentuk kami,” kenang Wiji.
Begitu juga dengan Anisa. Dia menyadari kodratnya adalah Wanita. Tetapi karena ingin mewujudkan cita-cita, Anisa selalu mentaati arahan yang diberikan Nisful Laili.
“Yang paling saya ingat pesan dari Abah Nisful, kami harus ngeyel saat berada di atas ring dan jangan pernah sepelekan latihan,” beber Anisa.
Keduanya juga sudah menganggap Nisful Laili tak hanya sebagai pelatih. Tetapi menjadi orangtua kedua karena jasa-jasanya tak bisa diganti dengan uang. “Abah Nisful itu totalitas. Bahkan berani meminta izin ke atasan kami jika memang ada agenda latihan yang tak bisa ditinggal,” beber Anisa.
Arahan-arahan Nisful pula yang kini tetap dipegang oleh Anisa dan Wiji. Seperti porsi latihan hingga sampai makanan dan minuman yang harus mereka jaga.
“Soal makanan, kami juga harus konsisten. Kami tidak boleh makan yang terlalu pedas. Begitu juga dengan istirahat. Minimal harus mengatur waktu antara istirahat, latihan dan kedinasan,” kata Wiji.
Di sisi lain, pelatih di Pengkot MI Pasuruan Muhammad berharap besar Anisa dan Wiji, bisa berprestasi di PON XXI nanti. Keduanya akan menjadi panutan bagi atlet muda yang kini mulai banyak bermunculan.
“Anisa dan Wiji menjadi model dan panutan bagi generasi penerusnya. Mudah-mudahan keduanya bisa meraih medali di PON nanti,” beber Muhammad.
Profil Atlet Muaythai Kota Pasuruan
Anisa Nur Rahmaniyah
- Tinggi badan 166 Cm dan berat badan 60 Kg
- Turun di Kelas 60 Kg Putri Senior Elit
- Seharinya Personel TNI AL Berpangkat Sertu
- Berdinas di Akademi TNI Angkatan Laut
Wiji Lestari
- Tinggi badan 174 Cm da berat 63,5 Kg
- Turun di Kelas 63,5 Kg Putra Senior Elit
- Seharinya Personel TNI AL Berpangkat Prajurit Satu
- Berdinas di Yonif 3 Marinir Sidoarjo
(riz/fun)
Editor : Abdul Wahid