Usia Aisyah Putri Aprilia masih 19 tahun. Tapi di usianya yang masih muda, atlet lap sepeda asal Kabupaten Probolinggo ini berpeluang meraih prestasi nasional di ajang PON XXI Aceh-Sumut. Demi medali, Aisyah kini tengah menjalani persiapan ekstra dengan mengikuti Pusat Latihan Daerah (Puslatda) Jatim yang di tempatkan di Kota Malang.
PARAS cantiknya terlihat saat Aisyah Putri Aprilia ditemui seusai latihan ringan. Atlet yang tergabung di ISSI Kabupaten Probolinggo yang bakal mewakili Jatim dalam ajang PON 2024, begitu bersemangat ketika bertemu Jawa Pos Radar Bromo. Dia tak pernah berhenti berlatih sejak lolos seleksi Pra PON.
Di Pra PON, Aisyah memang hanya meraih medali perak. Dia kalah dengan sesama atlet Jatim.
Tapi itu tetaplah menjadi pintu masuk ke ajang PON yang jelas punya gengsi tinggi. Apalagi PON XXI adalah pengalaman pertamanya.
Sebagai seorang atlet balap sepeda, Aisyah menceritakan, sejak kecil dirinya memang menyukaai olahraga. Kebetulan, orang tuanya (ayah) merupakan atlet BMX.
Hanya saja, Aisyah memang tak langsung terjun ke balap sepeda. Justru saat SD, dia menekuni atletik.
Tidak lama kemudian, dirinya mencoba mengikuti jejak ayahnya sebagai atlet balap sepeda BMX.
”Awalnya saya sebagai atlet lari dan balap sepeda BMX ketika masih duduk di sekolah dasar,” katanya.
Atlet kelahiran Probolinggo, 30 April 2005 menerangkan, saat duduk di bangku kelas II MTs Darunnajah Dringu, dirinya mulai tertarik dengan roadbike.
Semuanya bermula saat dia dikenalkan dengan, Herwinjaya, pelatih ISSI Kabupaten Probolinggo.
Nama yang disebut terakhir adalah atlet balap sepeda. Nah, Herwin sendiri merupakan adik kandung ayahnya. Kebetulan saat itu Herwin memiliki sepeda roadbike dengan ukuran pas untuk Aisyah.
Saat itu, pamannya itu menyuruh dirinya untuk mencoba sepeda roadbike tersebut. Ternyata, dirinya merasakan nyaman dengan roadbike. Semenjak itu, sang paman lalu memintanya untuk fokus berlatih sepeda roadbike.
Hingga akhirnya, dirinya pun mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim di Tuban pada tahun 2018 lalu.
”Alhamdulillah, perdana ikuti kejurprov roadbike tahun 2018, saya meraih juara dan bawa pulang medali emas,” ungkapnya.
Dari situ, diakui Aisyah, dirinya pun lebih fokus latihan roadbike dibawah binaan sang paman.
Berbagai kejuaraan pun diikuti sejak itu. Kejurprov, hingga Poprov Jatim tahun 2019 dirinya yang turun di kelas ITT dan criterium berhasil meraih juara II dan III.
”Alhamdulillah, Porprov Jatim tahun 2022 di Lumajang, saya juga bisa turun tanding. Untuk kelas ITT pada Porprov Jatim 2022 saya juara III dan kelas criterium saya juara II,” terangnya.
Aisyah mengaku, dengan menjadi atlet, dirinya merasakan kebahagian. Karena dengan prestasi yagn diraihnya, bisa membuat orang tua, teman, pelatih dan keluarga, bangga. Selain itu, menjadi atlet balap sepeda juga memiliki banyak koneksi.
”Semoga ke depan, saya bisa terus berprestasi dan membawa nama baik Kabupaten Probolinggo nasional dan internasional,” terangnya.
Untuk saat ini diakui Aisyah, dirinya fokus mengikuti Puslatda Jatim di Malang.
Menjelang PON 2024 yang sudah semakin dekat, latihan pun semakin padat. Pagi, siang dan malam latihan fisik dan lainnya dilakukan. Untuk bisa ke tahap saat ini, tidak lah mudah.
”Nanti di PON 2024, saya akan tanding di kelas ITT, IRR dan criterium. Targetnya, paling tidak bisa membawa minimal satu medali emas,” ungkapnya.
Berhijab Tetap Bisa Berprestasi
TIDAK semua atlet olahraga sepeda khususnya roadbike yang berhijab. Namun, Aisyah Putri Aprilia, atlet adalah salah satu atlet yang mengenakan hijab.
Ya, atlet asal Desa Taman Sari, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo itu memang sudah memutuskan untuk berhijab. Tidak mudah baginya saat pertama kali mengenakannya.
Aisyah bahkan mendapat bullying. Tapi itu semua justru menjadi motivasi. Dia ingin membuktikan bahwa berhijab bukan menjadi halangan untuk bisa berprestasi.
Aisyah mengaku, dirinya sebelum mengikuti Pra PON, dia belum mengenakan hijab. Kebetulan, ada teman atlet sepeda yang mengikuti Pra PON berhijab. Saat itu, temannya tersebut mengajak untuk juga mengenakan hijab.
Kata Aisyah, kawannya sempat menyarankannya agar mencoba pakai hijab. Alasannya, jika Aisyah pakai hijab, dia akan terlihat lebih cantik dan sopan. Dari situ, dirinya pun berpikir dan akhirnya memutuskan untuk berhijab.
”Saya mulai berhijab awal tahun 2023. Sebelumnya, saya tidak berhijab,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo kemarin.
Dari situ dikatakan Aisyah, memutuskan untuk hijrah dan mengenakan hijab. Baik itu saat aktivitas biasa ataupun olahraga sepeda. Meskipun, awal dirinya hijrah mengenakan hijab, ada teman dan orang lain yang bullying.
Bentuk bullying yang diterimanya juga beragam. Aisyah sempat dibilang, dulunya suka pakai celana pendek, sekarang malah berhijab. Ada juga yang meragukan jika hijab yang dikenakannya tak akan bertahan lama.
”Dulu saat SD saya sempat berhijab. Tapi kemudian tidak lagi berhijab. Ada teman yang bully, nanti akan lepas lagi. Untungnya, orang tuanya memberikan support dan menguatkan saya,” terangnya.
Dari situ, dirinya menjadikan bullying itu sebagai motivasi untuk bertahan mengenakan hijab.
Meskipun awal mengenakan hijab memang tidak terbiasa. Tetapi, perlahan dan sudah menjadi kebiasaan, dirinya sekarang malah lebih nyaman mengenakan hijab. Karena lebih sopon dan lainnya.
Berhijab terlihat lebih sopan. Sekalipun saat olahraga beradu kebut, dia tetap leluasa dengan berhijab.
“Karena olahraga dengan berhijab, sebenarnya tidak mengganggu sama sekali. Berhijab bukan suatu halangan menjadi atlet berprestasi,” terang ungkap atlet lulusan SMAN 1 Dringu tahun 2022 itu. (mas/fun)
Editor : Abdul Wahid