Terbentuk saat pandemi tepatnya di akhir 2020 lalu, Tretes Horse Racing tak hanya menjadi komunitas balap kuda pacu. Setelah empat tahun berjalan, THR makin aktif dan mencetak bibit atlet.
NAMA Tretes Horse Racing (THR) bagi pecinta balap kuda pacu, di wilayah Kecamatan Prigen dan sekitarnya sudah tidak asing lagi. THR terbentuk akhir Desember 2020 lalu. Di dalamnya, terdapat sekumpulan pecinta balap kuda pacu. Mulai dari pelatih, joki, owner, juga penyuka balap kuda pacu sendiri.
Setelah terbentuk hampir empat tahun lalu, keberadaan komunitas eksis. Hampir tiap dua pekan sekali komunitas ini menggelar latihan bersama di lapangan pacuan kuda Ledug, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
“Tretes Horse Racing (THR) ini hanya sebuah komunitas untuk balap kuda pacu saja. Bukan klub kuda atau stable atau semacam organisasi resmi. Karena latihannya di lapangan Ledug, Prigen, biar keren namanya juga penyebutannya, komunitasnya diberi nama Tretes Horse Racing,” ,” beber koordinator THR Agus Husni.
Komunitas ini berangkat dari yang awalnya sering kumpul-kumpul latihan bareng dan mengikuti lomba-lomba pacuan kuda. Dari latar belakang inilah terbentuk THR.
“Tujuan utamanya untuk ajang silaturahmi para pecinta balap kuda pacu. Struktur resmi pengurusnya juga tidak ada, karena hanya sebatas sebuah komunitas saja,” ucap pria yang juga sekaligus sekretaris Pengcab Pordasi Kabupaten Pasuruan.
Meski hanya komunitas, jumlah anggota yang tergabung dalam komunitas kini cukup banyak dari dari latar belakang yang berbeda. Sekarang ada sekitar 30-an orang, yang masuk ke THR. Mulai dari remaja hingga orang dewasa.
Rata-rata domisili anggotanya sebagian besar ada di Kecamatan Prigen. Seperti Kelurahan Ledug, Prigen, Pecalukan dan Ketanireng. Namun adapula dari kecamatan lainnya, antara lain Pandaan, Sukorejo dan Purwosari.
Aktifitas di dalam komunitas juga beragam. Tidak hanya melulu latihan dan lomba balap kuda pacu.
Ada sharing info-info balap kuda dan latihan bareng (latber). Atau having fun sekedar cetak kaos atau jersey, dokumentasi foto-foto pas balap dan pernak-perniknya.
“Tidak ada iuran wajib atau sukarela untuk kas, semuanya spontanitas. Giat rutinnya latihan bareng, dua pekan sekali di hari Sabtu pagi sampai jelang siang. Semuanya dilakukan di lapangan pacuan kuda Ledug, yang menjadi basecamp,” ujarnya.
Di luar latihan bersama, keberadaan komunitas ini juga punya andil mempermudah anggota komunitasnya pada saat balap kuda pacu diluar daerah. Seperti kejurda hingga level kejurnas.
Semuanya ada yang meng-handle. Mulai dari kebutuhan kandang, akomodasi kendaraan untuk keberangkatan dan kepulangan kuda. Hingga kebutuhan lainnya.
Tujuannya untuk mempermudah. Terutama bagi para owner atau pemilik stable atau kuda. Juga untuk joki dan pelatih kudanya.
“Manfaatnya ada banyak, meskipun hanya sebatas komunitas. Mudah-mudahan kedepan tetap terus eksis, kompak juga guyub,” katanya tersenyum. (zal/fun)
Editor : Abdul Wahid