PASURUAN, Radar Bromo - Pasuruan United memang sudah tak bisa melanjutkan kompetisi Liga 3.
Tim berjuluk Laskar Santri Mbeling ini gagal di babak 80 besar lantaran hanya menghuni peringkat ketiga. Tapi bagi manajemen, Langkah Pasuruan United sudah cukup membanggakan karena sebagai tim baru sudah bisa melaju hingga zona nasional.
Apalagi tersingkirnya tim besutan Irfan Junaidi juga bukan karena tim ini menuai hasil buruk.
Pasuruan United yang berada di Grup F, kalah karena agregat gol memasukkan, kalah dengan dua tim yang ada di atasnya.
“Kami ini kalah bukan karena kompetisi. Tapi karena sistem regulasi,” beber CEO Pasuruan United Suryono Pane.
Selama babak 80 besar, Pasuruan United berhasil mengumpulkan poin 8. Pon yang sama dengan juara grup Persipani Paniai dan runner up Persikasi Bekasi.
Pasuruan United tersingkir karena jumlah gol yang dibuat hanya 8 dan kemasukan 3. Sementara Persikasi berhasil mencetak gol 10 dan kemasukan 5.
Antara Persikasi dan Pasuruan United sama-sama punya plus lima. Namun sesuai regulasi yang dikeluarkan PSSI dalam aturan Liga 3 tepatnya di poin 5 d, tim memasukkan gol terbanyak-lah yang mendapat nilai tambahan.
“Makanya saya bilang Pasuruan United ini tersingkir karena regulasi. Bukan kompetisi,” beber Suryono Pane.
Walau begitu, sebagai CEO dia cukup bangga atas capaian tim. Delapan poin dari empat laga, sudah cukup untuk bukti. Menang dua kali dan seri sekali.
“Anak-anak sudah berlaga dan berjuang. Tim kami juga tidak pernah kalah sebenarnya,” beber pria yang seharinya lawyer tersebut.
Dalam babak 80 besar, hanya ada satu yang disesalinya. Yakni soal laga terakhir yang sebenarnya harus digelar bersamaan.
Aturan ini sebenarnya sudah ada dalam klausul. Tapi entah mengapa aturan tersebut dibatalkan. Sehingga di laga terakhir, digelar tetap di satu tempat dan hanya menggeser jadwal pertandingan.
“Sehingga rentan terjadi ada permainan. Akan beda hasilnya jika di laga terakhir digelar bersamaan. Bisa mencegah terjadinya sepakola gajah,” beber Suryono.
Tetapi apapun sudah terjadi. Laskar Santri Mbeling tetap harus legawa. Suryono pun yakin aturan laga terakhir digelar bersamaan, kemungkinan besar akan diterapkan karena manajemen Pasuruan United sudah melayangkan protes.
Selain menjejak sampai zona nasional, Suryono juga bangga karena skuadra Pasuruan United banyak dihuni pemain lokal Pasuruan. Sehingga dia merasakan, ada rasa memiliki saat Pasuruan United berlaga di Pasuruan seperti di babak 16 besar.
“Hampir mayoritas pemain yang menghuni tim adalah putra daerah. Dan sebagai tim, kami yakin anak-anak semakin berkembang,” kata Suryono.
Jika nanti pemain Pasurua United dilirik tim lain, Suryono juga mengaku, tak akan berat melepas mereka. “Karena tujuan awal kami untuk membentuk tim Pasuruan United hingga mengikuti laga aalah, mencetak bibit pemain handal. Kami yakin pemain-pemain nanti, akan jadi perhatian im-tim di Liga 2 atau Liga 1,” beber Suryono.
Setelah gagal ke babak 32 besar, skuad Pasuruan United sudah Kembali ke Pasuruan.
Dalam waktu dekat, manajemen akan melakukan pembubaran tim. Tentu jika musim baru dimulai, Pasuruan United berencana akan ikut lagi kompetisi dengan persiapan yang lebih matang. (tom/fun)
Editor : Jawanto Arifin