Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Persekabpas-Pasuruan United Tetap Butuh Dana Miliaran Rupiah

Fandi Armanto • Sabtu, 10 Februari 2024 | 19:55 WIB
TEMPAT KETIGA: Pemain dan ofisial Persekabpas menerima penghargaan sebagai tim peraih juara ketiga Liga 3 Jatim, di stadion Letjen H Soedirman, Bojonegoro, Selasa (6/2) lalu.
TEMPAT KETIGA: Pemain dan ofisial Persekabpas menerima penghargaan sebagai tim peraih juara ketiga Liga 3 Jatim, di stadion Letjen H Soedirman, Bojonegoro, Selasa (6/2) lalu.

STATUS Liga 3 memang masih level amatir. Walau belum profesional, tetap saja setiap tim yang ikut dalam kompetisi, mengeluarkan biaya tak sedikit. Termasuk Persekabpas dan Pasuruan United.

Di antara kedua tim Pasuruan, Persekabpas mungkin sedikit lebih bernafas lega. Sebab tim ini masih dibantu dengan dana APBD melalui anggaran untuk Askab PSSI Pasuruan. Berbeda dengan Pasuruan United, yang seluruhnya dibiayai swasta.

Selama mengarungi Liga 3 Jatim, kedua tim ini sudah mengucurkan banyak biaya.

“Selain untuk membayar honor pemain, akomodasi saat tandang hingga menjadi tuan rumah memerlukan biaya yang tak sedikit,” beber Sekretaris Persekabpas Taufiqul Ghony.

BANYAK TANTANGAN: Pemain Pasuruan United ketika berlaga di babak 8 besar.
BANYAK TANTANGAN: Pemain Pasuruan United ketika berlaga di babak 8 besar.

Hal serupa juga diungkapkan CEO Pasuruan United Suryono Pane. Katanya, sejak Pasuruan United bersiap kompetisi, semenjak itu manajemen sudah menyiapkan dana.

Mulai gaji pemain, makan dan minum para pemain, berlaga tandang hingga sekali menjadi tuan rumah.

“Untuk gaji pemain dan ofisial serta makan-minum, dalam sebulan rata-rata bisa menghabiskan sekitar seratus juta,” beber Suryono.

Begitu pula saat bertandang ke kandang lawan. Seperti ketika melakoni babak pertama di Jember.

Pasuruan United yang tergabung di Grup H, melakoni enam pertandingan. Praktis tim asuhan Irfan Junaidi tersebut, harus menginap selama dua pekan.

Hal yang sama ketika berlaga di babak 28 besar, skuadra Pasuruan United bertolak ke Sumenep.

“Baik di Jember dan Sumenep, tentu kami harus menyewa hotel. Begitu juga dengan makan dan minum anak-anak,” beber Suryono.

Saat ke Jember, dia bisa menghabiskan budget sekitar Rp 50-60 juta. Sementara saat ke Sumenep, berkisar Rp 30-40 juta karena babak 28 besar hanya sepekan.

“Itu baru untuk menginap dan hotel. Belum akomodasinya. Kalau di tim kami, kebetulan bus sudah ada. Bayangkan jika tidak ada bus, maka pasti ada ongkos sewa bus atau kendaraan,” beber Suryono.

Begitu juga ketika Persekabpas maupun Pasuruan United, menggelar laga kandang. Persekabpas tiga kali menjadi tuan rumah yakni di babak pertama, babak 16 besar dan babak 8 besar.

Sementara Pasuruan United sekali tuan rumah saat laga 16 besar.

Biaya yang dikeluarkan tim, justru lebih besar. Saat menjadi tuan rumah, maka harus menyediakan segalanya. Seperti menyewa lapangan, aparat keamanan hingga kebutuhan panitia pelaksana.

Khalid Abubakar, Ketua Bidang Kompetisi Asprov PSSI Jatim.
Khalid Abubakar, Ketua Bidang Kompetisi Asprov PSSI Jatim.

Sebab, ada standar operasional prosedur yang harus mereka lalui, demi timnya bisa disaksikan supporter sendiri.

“Biaya keamanan memang besar. Tapi ada kebanggaan ketika menjadi tuan rumah. Kami mendapat support luar biasa dari manajer Andriyanto dan wakil manajer H Rohmawan, yang menjadi sponsor Persekabpas,” beber Taufiqul Ghony.

Sehingga saat zona nasional nanti, dana yang keluar masih akan terus berlanjut. Bahkan bisa sampai miliaran rupiah.

Dana besar ini dimaklumi Asprov PSSI Jatim. Khalid Abubakar selaku Ketua Bidang Kompetisi Asprov PSSI menyebutkan, setiap tim sepakbola yang mengikuti kompetisi, memang harus butuh dana besar. Baik itu level amatir maupun profesional.

“Kekuatan finansial tim begitu mendukung tim. Ketika Liga 3, tim bisa menyedot anggaran miliaran, itu lumrah. Apalagi jika Liga 2 atau Liga 1. Bisa sampai puluhan hingga ratusan miliar,” beber Khalid.

Saat di zona nasional, tim yang berkompetisi harus kembali menyiapkan anggaran lebih besar.

Karena sistem kompetisi, akan mempertemukan 80 tim dari seluruh Indonesia. Babak demi babak nanti akan dilakoni dengan sistem seperti zona Jatim. Bisa tandang ke luar ataupun menjadi tuan rumah.

Bila tim tuan rumah ada di wilayah Indonesia Timur, maka tim tersebut harus bertolak ke sana. Jelas perjalanan ada yang harus ditempuh dengan pesawat terbang atau kapal laut.

“Tetapi memang biasanya, tim-tim dari Indonesia Timur, lebih memilih tandang,” kata Khalid.

Kuota promosi ke Liga 2 hanya enam tim. Pembagian grup zona nasional juga belum diketahui. Yang bisa diketahui hanyalah, siapapun tim yang kuat maka punya peluang besar untuk lolos ke Liga 2. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#persekabpas #liga 3 #Pasuruan United