DUA tim sepak bola Pasuruan dipastikan melangkah ke zona nasional. Di babak ini, skuadra Persekabpas dan Pasuruan United bakal lebih berat lagi. Ada delapan puluh tim yang berjuang supaya bisa naik tahta ke Liga 2. Tapi hanya ada enam tim yang berhak promosi sesuai sistem Liga Indonesia.
Di zona Jatim, Persekabpas mampu menjadi juara ketiga setelah menaklukkan NZR Sumbersari dengan skor 3-1. Laskar Sakera gagal melaju ke final karena di babak semifinal kalah adu penalti dengan Persedikab Kabupaten Kediri.
Dalam waktu normal babak semifinal, skor berakhir 1-1. Namun di adu tos-tosan, Persekabpas kalah hoki karena dua algojonya gagal menunaikan tugasnya. Sehingga skor akhir berkesudahan 5-2 untuk Persedikab Kabupaten Kediri.
Walau harus puas di tempat ketiga, perjalanan Persekabpas di Liga 3 Jatim patut diapresiasi.
Tim asuhan Subangkit itu sudah berjuang dengan segala upaya. Total 15 laga dilakoni, Laskar Sakera memenangi laga sebanyak 10 kali, 3 kali seri, dan hanya dua kali kalah.
Dengan rincian ada 45 gol yang berhasil dilesakkan Persekabpas. Sementara gawang mereka hanya kebobolan sebanyak 13 kali. Tujuh belas kali jika empat penalti di semifinal melawan Persedikab, ikut dihitung.
Selain tempat ketiga, sang kapten Ricko Hardiansyah ditasbihkan menjadi top skor Liga 3 Jatim.
Dari 11 pertandingan yang dia ikuti, 13 gol berhasil dilesakkan striker bernomor punggung 9 itu. Semuanya menjadi modal bagi Persekabpas untuk mengarungi zona nasional.
Keberhasilan Persekabpas tembus ke zona nasional, disyukuri manajemen. Taufiqul Ghony Sekretaris Persekabpas menuturkan, sebenarnya manajemen menargetkan bisa lolos ke semifinal. Bahkan juara.
“Walaupun Persibo Bojonegoro tuan rumah dan kami pernah dikalahkan di babak 28 besar, kami optimistis. Tapi takdir berkata lain,” beber Ghony, panggilannya.
Pria yang juga menjadi Kepala Dispora Kabupaten Pasuruan tersebut mengatakan, apapun juga, raihan Persekabpas wajib diapresiasi. Sebab, dari sejak awal tim ini mengikuti kompetisi, langkah Persekabpas banyak ganjalan.
Dimulai dari carut marutnya kepengurusan Askab PSSI Pasuruan, hingga proses seleksi yang terbilang singkat.
“Kami menjadi tim yang paling mepet melakukan persiapan. Tapi Alhamdulillah, dibawah arahan manajer Pak Andriyanto, kami bisa melaluinya,” beber Ghony.
Menghadapi zona nasional, Ghony membenarkan bahwa ada tantangan yang lebih berat menanti.
Bukan hanya soal kebutuhan pemain. Tapi tentu saja finansial yang jelas akan lebih berat daripada zona Jatim.
Pelatih Persekabpas Subangkit membenarkan, dia harus menambah amunisi baru untuk timnya jika ingin persaingan di zona nasional tak ada kendala.
“Kami wajib menambah pemain baru. Terutama untuk striker, dua gelandang, satu bek dan tentu saja penjaga gawang,” beber Subangkit.
Untuk striker, Subangkit menginginkan ada satu pemain senior yang bisa menjadi tukang gedor andal. Sementara gelandang dan bek serta kiper, dia bisa memanfaatkan pemain junior.
“Beberapa pemain sudah kami kontak setelah babak 16 besar. Bahkan ada beberapa yang sudah siap gabung untuk latihan,” kata Subangkit.
Menambah pemain, kata Subangkit, adalah sebuah keharusan. Sebab, beberapa kali dia tak bisa merotasi pemain karena dinilai belum mumpuni.
“Seperti saat semifinal lalu. Kami belum memiliki penjaga gawang yang bagus. Tapi karena tidak ada lagi, tetap kami pasang. Makanya di zona nasional nanti, posisi penjaga gawang kami butuhkan. Selain striker, gelandang dan bek,” beber Subangkit.
Dengan tambahan pemain ini, mau tidak mau manajemen juga harus melepas beberapa pemain. Terutama pemain yang kurang memberikan kontribusi selama Persekabpas mengarungi Liga 3 Jatim.
Jika tidak dilepas, maka akan mempengaruhi finansial tim. Karena walau Liga 3 adalah level amatir, honor adalah kewajiban yang harus didapat pemain. Selain bonus yang acapkali dikeluarkan tim jika tim menang.
Langkah serupa juga dilakukan Pasuruan United utuk menapaki zona nasional. Setelah dipastikan lolos, manajemen langsung meliburkan pemain. Evaluasi dilakukan dan manajemen memutuskan ada beberapa pemain yang harus dilepas.
“Bahkan dengan komposisi kami mulai dari babak pertama hingga 8 besar, pemain inti yang kami miliki belum cukup. Ada beberapa pemain cadangan yang harus kami paksakan bermain. Dari beberapa pemain inti, ada satu yang dipastikan absen sampai akhir musim,” beber Suryono Pane, CEO Pasuruan United.
Pemain inti yang dimaksud adalah Mahdi Fatoni alias Okto. Dia mengalami cedera tulang kering kaki kanan, setelah diinjak pemain NZR Sumbersari. Semenjak itu, pemain yang menjadi striker tersebut tak dimainkan. Okto kini harus berjalan dibantu egrang selama pemulihan.
“Jelas kami butuh striker dan gelandang. Sementara ini kami sudah ada pandangan. Salah satunya ada pemain dari Sulawesi yang sudah kami incar,” beber Suryono Pane.
Kuota Pasuruan United juga sama yakni maksimal hanya bisa menambah lima pemain. Dari lima kuota itu, jajarannya akan merekrut dua pemain senior dan sisanya kategori junior.
Lalu siapakah para pemain Persekabpas dan Pasuruan United yang akan dilepas? Soal itu, kedua tim masih membicarakan dengan jajaran pelatih dan ofisial. Namun beberapa nama mereka kantongi.
“Pelatih tentu sudah mengajak bicara. Dengan harapan mereka yang dilepas bisa sukses di tempat baru,” beber sekretaris Persekabpas Taufiqul Ghony.
Hal serupa juga diungkapkan Suryono Pane. Rata-rata pemain yang dilepas kategorinya bukan senior. Mereka masih bisa mengembangkan bakatnya. Jika mereka berkembang, tentu akan ada klub yang meminang. Atau bahkan kembali ke Pasuruan United. (fun)
Editor : Jawanto Arifin