Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Bedah Formasi Persekabpas di Bawah Besutan Subangkit di Liga 3, Usung Filosofi Keras tapi Tak Kasar

Iwan Andrik • Sabtu, 2 Desember 2023 | 21:55 WIB
LEGENDA: Subangkit kembali didapuk jadi pelatih kepala Persekabpas, musim ini.
LEGENDA: Subangkit kembali didapuk jadi pelatih kepala Persekabpas, musim ini.

BANGIL, Radar Bromo - Nama Subangkit sudah tak asing di telinga pecinta sepak bola tanah air. Selain sebagai eks penggawa timnas, ia juga sudah malang melintang sebagai pelatih sepak bola di Indonesia.

Lelaki kelahiran 29 November 1960 itu mulai meniti karir sebagai pelatih sejak gantung sepatu pada 1992. Sebelum menjadi pelatih kawakan, ia merupakan pemain yang berposisikan sebagai gelandang.

 

Subangkit saat Aktif Menjadi Pemain

Sejumlah klub nasional pernah diperkuat Subangkit saat jadi pemain. Mulai dari Persekap, Niac Mitra hingga Persebaya. Bahkan, ia juga tercatat sebagai pemain timnas di era 1979 hingga 1984. Tidak hanya di tim junior. Tetapi juga, tim senior.

Atmosfer laga dunia, pernah dirasakannya, ketika berseragam merah putih. Ia pernah meraih runner up piala presiden cup korea pada 1980an.

Ia juga pernah mengikuti pra piala dunia (PPD) zona Asia Osania tahun 1981 meski akhirnya timnas tersingkir di babak penyisihan.

Subangkit mengaku, terjun di dunia sepak bola sejak belia. Karirnya mulai menanjak ketika bermain di Persekap tahun 1978.

Sejak itu, ia berhasil menarik minat pelatih timnas untuk menjadikannya bagian dari skuad garuda junior.

Latihan keras untuk menjadi pemain handal dilakoninya. Bahkan, ia berhasil menembus timnas senior sekitar 1980. Hingga 1984 kemudian ia memilih berlabuh ke Niac Putra.

Saat menjadi pemain tim Niac Putra, pengalaman pahit dirasakannya. Ia ditekel keras. Sampai tulang kecil pada bagian kaki kirinya patah.

Kurang lebih setahun lamanya proses penyembuhan berlangsung. Selama itu pula, ia nyaris putus asa, karena tidak bisa bermain sepak bola.

Sembuh dari cedera, ia ditarik oleh Persebaya. Bahkan, ia sempat mengikuti kejuaraan perserikatan Galatama. Sampai akhirnya, ia dan rekan setimnya, berhasil meraih juara.

Persebaya memang menjadi pelabuhan terakhirnya dalam bermain sepak bola. Ia memutuskan gantung sepatu tahun 1992. Sejak itu pula, ia mulai mengikuti kursus kepelatihan.

 

Meniti Karir Kepelatihan

Subangkit mengawali karir kepelatihannya dengan menukangi tim sepak bola Jatim kelompok umur. Ia kemudian dilirik tim Persebaya Jr dan berhasil membawa tim besutannya masuk final di sebuah kompetisi antar klub di Bogor.

Ia kemudian naik jabatan menjadi asisten pelatih Persebaya senior pada tahun 2000. Baru tahun 2003 kemudian, ia mengarsiteki Persekabpas. Ia menjadi pelatih kepala The Lassak-julukan Persekabpas selama empat tahun.

Pesonanya dalam meramu tim, bukan hanya terbukti di Persekabpas. Karena beberapa tim lain yang mampu diangkatnya. Salah satunya Persiku yang semula berada di Divisi 2 merangkak masuk divisi satu. Adapula Persema ataupun PSIS yang semula berada di level kedua liga indonesia, berhasil masuk liga utama.

Subangkit pun pernah didapuk menjadi pelatih kepala timnas Jr pada 2007 lalu. Bahkan, ia juga dipercaya untuk menjadi asisten pelatih timnas waktu itu.

Selain tim-tim tersebut, Subangkit juga pernah menjadi pelatih Persiwa, Mitra Kukar dan Sriwijaya. Hingga dalam perkembangannya, ia kembali berlabuh ke Persekabpas. Bahkan sampai sekarang.

 

Keras Tapi Tidak Kasar

Permainan keras tapi tidak kasar. Itulah filosofi yang diemban Subangkit dalam metode kepelatihannya.

Ia memang menekankan permainan keras. Tapi melarang, anak asuhnya bermain kasar. Karena permainan kasar jelas akan merugikan timnya.

"Kami tidak menginginkan, pemain yang bermain secara lembek. Kerja keras dan dalam batas-batas sportivitas kami tekankan," sampainya.

Selain kerja keras, permainan cepat juga ditekankannya. Memang tidak mesti dilakukan. Namun, melihat situasi permainan lawan.

"Memang permainan cepat senantiasa kami tekankan. Tapi, tentunya melihat pula kondisi anak-anak," paparnya.

Strategi menyerang ditekankan Subangkit dalam permainannya. Formasi 4-1-4-1 jadi andalan. Namun, formasi itu bisa diubah. Sesuai kondisi dan situasi.

Menurut Subangkit, formasi 4-1-4-1 memang membutuhkan kecepatan dari sayap. Namun, bila serangan sayap itu tak berjalan, penerapan formasi lain dilakukan.

Bisa dengan 4-3-2-1 atau 4-3-3. Selain menguatkan serangan sayap, juga menguatkan lini tengah permainan. "Kami sesuaikan permainan lawan. Ada beberapa planning, yang bisa kita terapkan dengan situasi permainan yang berbeda," beber dia.

Sejauh ini, ia mengakui belum semuanya planning tersebut bisa berjalan. Dari serangakaian uji coba yang dilakukan, masih ada beberapa kekurangan yang harus dilakukan.

Hal tersebut, tak lepas dari kekurangan pemain yang dimilikinya. Khususnya pemain sayap dan tengah. (one/mie)

Editor : Jawanto Arifin
#persekabpas #subangkit #liga 3