Sepak terjang tim sepak bola Kota Pasuruan sejatinya tak bisa dipandang sebelah mata. Di ajang Porprov Jatim tahun lalu, tim dengan warna kebesaran hijau ini berhasil lolos prakualifikasi.
Bahkan, di putaran final porprov yang digelar di Jember lalu, arek-arek Kota Santri berhasil lolos fase grup. Langkah mereka terhenti di babak 8 besar oleh tuan rumah Jember, yang akhirnya bablas keluar sebagai juara.
Nah, di ajang porprov tahun ini, tim sepak bola Kota Pasuruan sejatinya sudah dibentuk beberapa bulan lalu. Namun, persiapan itu tak maksimal karena sempat dihadapkan kendala finansial.
Sujito, pelatih tim sepak bola Kota Pasuruan angkat topi dengan semangat anak asuhnya. Dari sisi kesiapan, sebenarnya mereka sudah memulai latihan bersama sejak Februari lalu. Hingga berlanjut seleksi pemain yang baru tuntas pertengahan Ramadan lalu.
“Seharusnya anak-anak ini sudah menerima haknya. Karena mereka sudah masuk pemusatan latihan,” ujarnya saat dikonfirmasi pertengahan Mei lalu.
Diakuinya, kondisi tersebut juga sedikit banyak memengaruhi performa tim. Meski sudah mengikuti agenda latihan dalam waktu yang cukup panjang. Namun, kondisi tim sebenarnya masih kurang matang.
Sujito sendiri dilema. Dirinya mengaku tidak mungkin menuntut para pemain berlebihan ketika hak mereka lambat diberikan. Bahkan, hingga pertengahan Mei lalu, jersey tim juga belum ada.
Padahal, kata Sujito, jersey bagi pemain-pemain muda merupakan identitas. Itu akan jadi kebanggaan lantaran mereka sudah masuk tim. “Sehingga, mereka termotivasi,” ungkap dia.
Tidak hanya itu, selama latihan, tim sepak bola Kota Pasuruan juga sempat terkendala venue. Betapa tidak, untuk menggunakan lapangan-lapangan milik pemerintah, manajemen harus membayar sewa.
Di sisi lain, tim harus mencari lapangan yang kondisinya standar. Alhasil, latihan hingga pertandingan uji coba selama ini lebih banyak dilakukan di lapangan desa atau kelurahan. Seperti Lapangan Bugul Lor dan Lapangan Kebotohan.
“Kalau dibanding stadion, tentu jauh kualitasnya. Tetapi, dua lapangan itu setidaknya cukup untuk latihan,” ungkap Ketua PSSI Askot Pasuruan Suhaimi.
Dia tidak ingin nasib tim sepak bola terbengkalai. Apalagi hanya karena tidak adanya fasilitas dari pemerintah. Meski sebenarnya, tim tersebut nantinya juga bakal membawa nama kota.
“Kalau ada support dan hasilnya positif, ada prestasi, sebenarnya kan mereka juga membawa nama kota,” bebernya.
Ia mengatakan, tahun ini cabang olahraga sepak bola mendapat jatah anggaran hibah Rp 140 juta. “(Anggaran) Punya PSSI katanya sudah masuk ke rekening PSSI. Belum kami cek. Kami PSSI betul-betul menunggu. Sebab, untuk kongres tahunan dan kongres pemilihan. Termasuk subsidi untuk klub anggota Askot yang kemarin ikut kompetisi U-13 dan U-15,” beber Suhaimi. (tom/mie)
Pemain Inti Kota Pasuruan
Kiper
Ismail
Ladan
Khumael
Belakang
Rama
Ahmad
Fiqi
Dila maulana
Tengah
Zanuar ardani
Femas
Edy wardan
Nurchaqiqi
Depan
Ilham
Ryan Editor : Jawanto Arifin