Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Atlet Futsal Putri Kab Pasuruan Didukung Keluarga, Bangkit dari Cedera

Jawanto Arifin • Sabtu, 25 Februari 2023 | 17:00 WIB
MERASA NYAMAN: Pingkan Ari Nugrayni, salah satu penggawa tim futsal putri Kabupaten Pasuruan saat menggocek bola dalam sebuah Liga Futsal yang digelar di UIN Malang, beberapa waktu lalu, (foto kiri). Arini Dwi Agustina (kanan). (Dok. Pribadi)
MERASA NYAMAN: Pingkan Ari Nugrayni, salah satu penggawa tim futsal putri Kabupaten Pasuruan saat menggocek bola dalam sebuah Liga Futsal yang digelar di UIN Malang, beberapa waktu lalu, (foto kiri). Arini Dwi Agustina (kanan). (Dok. Pribadi)
BANGIL, Radar Bromo - Penampilannya tak jauh berbeda dengan mahasiswi kebanyakan. Kalem dan lembut. Namun, saat sudah masuk arena lapangan futsal, ia terlihat berbeda. Rambut panjangnya diikat. Ia terlihat cukup energik. Aktif menyerang dan bertahan saat bermain futsal.

Ialah Pingkan Ari Nugrayni. Remaja asal Pandaan itu merupakan salah satu anggota skuad futsal putri Kabupaten Pasuruan. Ia memang suka berolahraga. Termasuk sepak bola dan futsal yang selama ini identik dengan olahraga kaum adam. "Sudah dari masa sekolah sih. Iya suka aja," kata perempuan yang masih duduk di bangku kuliah itu.

Pingkan mengaku, ia baru benar-benar fokus bermain futsal karena diajak temannya. Saat itu, ia baru masuk bangku kuliah. Perkiraan 2019 awal. Ia main di Malang dan Batu. Hingga akhirnya pada akhir 2019, ia bergabung ke tim putri Kabupaten Pasuruan. "Hingga sekarang. Alhamdulillah kemarin ikut porprov, meskipun nggak lolos," akunya.

Meski futsal selama ini identik dengan olahraga kaum adam, namun Pingkan mengaku, tak pernah ada larangan dari orang tuanya menekuni olahraga itu. Malah, mereka mendukung. Asal positif, tak ada larangan. "Kalau untuk permainan (futsal putri) ya sama sih. Nggak ada bedanya (dengan futsal cowok). Kalau (futsal) dengan sepak bola ada," tuturnya.

Selama bermain futsal, Pingkan mengaku, juga pernah alami cedera. Tapi, ia tak kapok. Bahkan lebih bersemangat. Apalagi, ia kini kuliah yang jurusannya memang olahraga.

"Pernah trauma sebentar. Tapi, kemudian main lagi. Ya kalau bisa jangan cedera lagi lah," terangnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Arini Dwi Agustina, penggawa tim futsal putri lain asal Bangil. Sebelum bermain futsal, ia merupakan atlet lari dan lompat jauh.



Saat ia masuk SMA, Arini diajak temannya bergabung di tim futsal putri Al Abyad. Ia pun mendapat support penuh dari guru olahraganya. “Katanya untuk menambah skill dan tetap menjaga konsistensi basic kecepatan lari saya,” kenang Arini menceritakan awal mulanya terjun di dunia futsal.

Sejak saat itu, Arini pun bergabung. Ia mulai ikut latihan. “Sekali-dua kali saya latihan, ternyata saya cukup nyaman. Saya merasa menemukan rumah sekaligus keluarga kedua di sana. Menurut saya, dengan adanya futsal putri ini, bisa jadi wadah untuk menampung bakat dan skill putri daerah,” jelasnya.

Sama seperti Pingkan, Arini pun juga pernah mengalami sejumlah cedera selama bermain futsal. “Hmm... saya pernah dua kali cedera di bagian engkel kanan, waktu latihan dan saat turnamen di Surabaya. Itu butuh waktu 3 bulan untuk pulih. Alhamdulillah saya mendapat dukungan penuh dari pihak keluarga,” bebernya. (sid/mie) Editor : Jawanto Arifin
#futsal putri