------------------------------------------------------------------------------------------------------
OLAHRAGA yang satu ini sekilas terlihat cukup mudah dimainkan. Dalam Beberapa perlombaan, petanque dimainkan di lapangan berpasir. Atau bisa juga lapangan lain dengan permukaan datar asal tetap bisa membuat bola besi bergulir.
Aturan mainnya, pemain berdiri di dalam circle yang letaknya di ujung arena berukuran 14 x 4 meter. Kedua kaki harus tetap berada di dalam lingkaran tersebut. Permainan dimulai dengan melemparkan bola kayu yang disebut cochonet.
Selepas itu, giliran bola besi seberat 680 gram yang dilemparkan. Sasarannya, tak lain ialah cochonet itu sendiri. Semakin dekat jarak antara bola besi dengan bola kayu tersebut, maka semakin tinggi poin yang diraih.
Memang olahraga yang berasal dari Prancis ini tidak begitu menguras energi. Berbeda dengan olahraga pada umumnya yang memerlukan latihan fisik tinggi. Tapi, inilah keunikan petanque. Semua kalangan dan usia bisa memainkannya.
Meski demikian, petanque bukan olahraga permainan asal-asalan. Pemainnya dituntut memiliki konsentrasi yang tinggi. Disamping juga mengasah diri dengan latihan rutin.
“Karena saat melemparkan bola besi tentu kan memerlukan konsentrasi terhadap sasaran. Teknik melemparnya juga harus disertai feeling dengan akurasi yang tinggi,” kata Pelatih Petanque Kota Pasuruan Budi Utomo.
Budi pula yang pertama kali mengenalkan petanque di Kota Pasuruan. Hingga terbentuknya cabang olahraga Federasi Olahraga Petanque (FOPI) di Kota Pasuruan pada Maret 2018 silam.
Sebelum FOPI berdiri, mula-mula Budi hanya mengenalkan petanque pada siswanya. Guru olahraga di SMPN 6 Kota Pasuruan itu memasukkan petanque dalam materi pelajaran.
Anak didiknya begitu tertarik dengan olahraga yang sebelumnya sama sekali awam bagi mereka. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang berlatih serius hingga menjadi atlet.
Sebut saja Anjani Dwi Aprilia. Satu-satunya atlet petanque Kota Pasuruan yang pernah mewakili Indonesia pada Johor International Petanque Championship 2022 di Malaysia. Anjani bertanding di kelas double woman berpasangan dengan Sepia, atlet asal Lamongan.
Keikutsertaan mereka pun tak sekadar jadi penggembira. Di partai final, pasangan Anjani-Sepia berhasil mengalahkan tim Thailand yang sebelumnya menyandang predikat juara dunia di Prancis.
Sejak saat itu, cabor petanque terus berkembang. Saat ini, tak kurang ada 30 atlet yang dimiliki FOPI. Budi mengatakan, penjaringan atlet selama ini dilakukan di sekolah-sekolah.
Sasaran yang dibidik lebih banyak anak-anak SD dan SMP. “Karena dengan begitu, akan mudah memproyeksi atlet untuk jangka panjang. Berbeda misalnya kalau tingkat SMA yang dikhawatirkan akan putus setelah lulus sekolah,“ kata Budi.
Budi menerangkan, pembinaan atlet petanque diklasifikasikan dalam dua kategori. Pertama untuk atlet pemula. Kedua untuk atlet yang sudah mahir.
Biasanya atlet pemula akan dikenalkan dengan teknik-teknik dasar dalam permainan petanque. Yang paling sederhana yakni cara memegang bola besi. Kemudian membiasakan latihan melempar dengan ayunan tangan yang benar.
“Saat latihan dasar ini kami biarkan senang dahulu karena kalau sudah senang otomatis menyukai dan ingin bisa,“ kata Budi.
Sementara untuk atlet yang benar-benar ingin berprestasi diberi porsi latihan yang intensitasnya lebih tinggi. Progres mereka juga dipantau terus kemajuannya. Mengingat kemampuan para atlet pasti berbeda satu sama lain. Tapi berdasarkan pengalaman Budi selama ini, umumnya butuh waktu 2 hingga 4 tahun untuk bisa mencetak atlet.
“Maksimal 4 tahun untuk bisa dijadikan atlet profesional. Misalnya saja Anjani 4 tahun baru moncer, kalau 2 tahun masih belum bisa dikategorikan matang,“ kata Budi.
Selain Anjani yang sudah pernah menang dalam kejuaraan internasional, FOPI Kota Pasuruan juga memiliki 7 atlet yang sempat menjuarai event tingkat nasional. Mereka adalah Erza, Daniel, Ignes, Dafag, Raka, serta Anjani dan Budi Utomo sendiri. Sedangkan yang menjadi juara di kejuaraan tingkat provinsi lebih banyak lagi. Total ada 96 medali yang dikoleksi atlet petanque Kota Pasuruan dari kejuaraan tingkat provinsi.
Mereka kini tengah berkonsentrasi menyiapkan event Popda Jawa Timur yang akan dilangsungkan 8 hingga 12 November mendatang. FOPI Kota Pasuruan sudah menyiapkan 6 atlet untuk bersaing di 7 nomor yang dipertandingkan. Mereka ialah Reza, Raka, Alam, Eca, Hanum, dan Fira.
Budi cukup optimistis dengan pemusatan latihan yang sudah berjalan 3 bulan, atletnya mampu memberikan performa yang maksimal. Selain membekali mereka dengan teknik permainan yang apik, Budi juga menekankan atletnya untuk selalu haus prestasi.
“Target kami pulang membawa medali, karena atlet yang terjun di Popda semuanya atlet Porprov 2022,“ katanya. (tom/mie)
Tentang Petanque dan FOPI Kota Pasuruan
=================================
-Petanque berasal dari Prancis
-Bisa dimainkan semua kalangan dan usia
-Tidak begitu menguras fisik, tapi perlu konsentrasi tinggi
-Induk cabor (FOPI) baru terbentuk di Kota Pasuruan Maret 2018
-Jumlah Atlet: 30
-Prestasi Atlet: 1 juara internasional, 12 juara nasional, 96 juara tingkat provinsi Editor : Ronald Fernando