Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Atlet Binaraga Probolinggo Konsumsi Nasi Merah, Hindari Gula-Garam

Ronald Fernando • Sabtu, 17 September 2022 | 22:04 WIB
JAGA KONDISI: Atlet-atlet binaraga Kabupaten Probolinggo saat berlatih. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)
JAGA KONDISI: Atlet-atlet binaraga Kabupaten Probolinggo saat berlatih. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)
ATLET binaraga di bawah PBFI Kabupaten Probolinggo tidak hanya dituntut latihan setiap hari. Tetapi, juga harus menjaga pola dan menu makanan.

Yang pasti, atlet binaraga setiap harinya makan nasi merah, makanan tanpa perasa baik gula maupun garam.

Ketua PBFI Kabupaten Probolinggo Bambang Heriwahjudi mengatakan, untuk membentuk otot tubuh itu ada dua tahap. Pertama bulking. Yakni, fase pembentukan otot yang memaksa seseorang untuk mengonsumsi jumlah kalori lebih banyak dibandingkan kadar normal dalam waktu tertentu.

Tujuannya, untuk meningkatkan masa otot dan meningkatkan kekuatan. Kalori ekstra ini digunakan sebagai bahan bakar tubuh saat membangun otot. ”Di masa bulking atau penggemukan masa otot, atlet harus sering makan, tapi porsi dikit. Biasanya, dalam sehari makan 6-7 kali. Tapi, porsinya sedikit,” beber Bambang.

Makanan yang dikonsumsi, bukan nasi putih. Atlet binaraga, menurutnya, wajib konsumsi nasi merah. “Juga hindari gula dan garam. Nantinya, kalorinya dari nasi merah itu sudah,” imbuhnya.

Di samping menjaga pola makan, dalam proses bulking, atlet juga harus rutin latihan dengan fitness. Latihan lari, tenis, dan lainnya, disebutkan lebih melatih otot jantung, kaki. Jadi otot rangka kalau tidak dilatih, tulang lemah, gerakan tubuh sedikit, maka lemak akan meningkat.

Karena kalori dari makanan yang dimakan tidak banyak terpakai, akhirnya tersimpan menjadi lemak. Lemak meningkat menyebabkan tekanan darah juga naik, gula darah naik, kolesterol naik, asam urat naik.

”Jadi yang penting, sebetulnya otot rangka harus dilatih. Tujuan utama bukan pembentukan otot, tapi bagaimana melatih otot agar kencang. Sehingga tulang kuat, gerakan tubuh normal, metabolisme bagus, kalori yang didapat dari makanan terserap. Akhirnya lemak rendah, otot kuat, tulang kuat, organ tubuh sehat, cairan seimbang,” tambahnya.

Yudi mengibaratkan mobil, CC tubuh orang yang sering melatih otot lebih besar. Jadi, mobil dengan CC besar lebih cepat menghabiskan bensin.

Demikian juga tubuh manusia. Yang sering melatih otot, kalori lebih banyak terserap, tidak lagi numpuk jadi lemak. ”Sekitar 62 persen kalori dari makanan yang kita makan itu diserap oleh otot dan otak. Sebanyak 60 persennya diserap otot, 2 persennya otak,” paparnya.

Nah, khusus atlet, tentu targetnya pembentukan otot. Setelah proses bulking, atlet baru ke sistem cutting. Yakni, proses memangkas lemak dalam tubuh tanpa mengurangi berat otot.

Biasanya pemotongan kalori itu dilakukan sejak 3 bulan sebelum hari H bertanding. ”Dalam kondisi siap tanding di atas panggung, paling tidak kadar lemak hanya 5 persen. Tetapi, biasanya kondisi normal 10 persen,” terangnya. (mas/mie) Editor : Ronald Fernando
#binaraga probolinggo