Sejak babak 8 besar, Purworejo FC berhadapan dengan tim-tim kuat. Panggungrejo FC, misalnya, dilumat dengan skor 2-0. Pada babak semifinal, lagi-lagi Purworejo menghadapi tim kuat yang ditopang oleh bintang-bintang Persekap Kota Pasuruan yaitu Ngemplakrejo FC. Namun, Ngemplakrejo juga dihajar 2-0.
Pada babak final kemarin, giliran PSP 83 Petahunan yang menjadi korban kesolidan tim Purworejo FC. Sejak menit pertama bergulir, skuad Purworejo FC menunjukkan permainan ngotot. PSP 83 dibuat kewalahan dengan serangan bertubi-tubi. Kerja sama antara Zanuar Ardani dan Alfian melakukan sentuhan satu-dua menembus penjagaan pemain belakang PSP 83 Petahunan.
Baru tiga menit babak pertama berlangsung, Purworejo mampu menyarangkan bola ke gawang PSP 83 yang dijaga Guntur. Gol lahir dari kaki Rafli Ramadan. Kebobolan satu gol, PSP 83 praktis bermain bertahan. Sesekali skema counter attack dijalankan. Namun, minim peluang.
Dalam sebuah tusukan tajam, Purworejo FC malah mendapatkan peluang menambah skor lewat titik putih. Sayangnya, Zanuar Ardani yang dipercaya menjadi eksekutor penalti gagal menunaikan tugasnya. Tembakannya melambung.
Purworejo FC baru memperlebar selisih gol menjelang turun minum. Kali ini bola flashing dilepaskan Andika Ramadani. Sepakan kaki kiri pemain nomor punggung 9 itu membuat kiper PSP 83 tak berkutik.
Di babak kedua, PSP 83 Petahunan menurunkan pemain legendarisnya, Jaenal Ichwan. Bergabungnya Jaenal Ichwan di lapangan sempat membawa angin segar bagi PSP 83 Petahunan. Kebuntuan serangan yang terjadi pecah. Namun, justru Purworejo FC yang lebih terampil menciptakan peluang-peluang apik. PSP 83 Petahunan bahkan dibungkam dengan gol terakhir dilepas dari Rafli Ramadan dan Saifullah.
Dengan demikian, PSP 83 Petahunan harus puas menjadi runner-up Liga Tarkam tahun ini. Sementara eks pemain Persekap yang juga striker Ngemplakrejo FC Agies Armediansyah menyandang gelar top skor dengan mengoleksi 13 gol sepanjang Liga Tarkam 2022.
Mukul Kena Black List, Yang Dipukul Dapat Duit
Wali Kota Pasuruan Saifullah Yusuf mengapresiasi seluruh tim yang sudah bermain dengan baik. Namun, dia cukup menyayangkan Liga Tarkam tahun ini yang sempat diwarnai insiden yang mencederai sportivitas. Insiden dilakukan salah satu pemain yang memukul pemain lain saat Tapaan FC menghadapi Sekargadung FC di babak kualifikasi.
Gus Ipul memastikan pemain tersebut didiskualifikasi. Dia dicoret dari turnamen Liga Tarkam tahun-tahun selanjutnya. Sebaliknya, pemain yang dipukul diganjar hadiah uang tunai lantaran tak membalas. Sportif.
”Ini sudah menjadi komitmen kita bersama. Sejak awal digulirkannya Liga Tarkam memang golek sehat golek seneng. Ini bukan ajang gagah-gagahan dan tawuran, tapi tempat mencari bibit-bibit atlet untuk bisa dikembangkan lebih profesional,” ungkap Gus Ipul.
Ia menarget Liga Tarkam tahun depan bakal lebih meriah. Gus Ipul melihat pertandingan antarkampung memang cukup menarik perhatian masyarakat. Warga berbondong-bondong ke lapangan demi mendukung tim kelurahannya masing-masing. Dia berharap Liga Tarkam bisa digelar dua kali setahun.
”Kalau bisa untuk pertandingan tertentu seperti semifinal hingga final kita gelar malam hari,” ujarnya. (tom/far) Editor : Jawanto Arifin