Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Lika-liku Suryono Pane di Sepak Bola; dari Penjual Tiket Jadi Presiden Klub

Ronald Fernando • Sabtu, 23 Juli 2022 | 16:44 WIB
GILA BOLA: Suryono Pane. (Dok Pribadi)
GILA BOLA: Suryono Pane. (Dok Pribadi)
BEJI, Radar Bromo-Transformasi Afa Syailendra menjadi Pasuruan United tak lepas dari sosok Suryono Pane. Pemilik Kopi Langit itu, berhasil membeli klub eks Persema 1953 tersebut.

“Sultan” asal Beji itu bukanlah sosok yang asing dengan dunia sepak bola. Meski bukan maniak sepak bola, namun ia banyak terlibat dengan dunia sepak bola di Pasuruan.

Sebelum menjadi Presiden Klub Pasuruan United, Pane merupakan suporter Persekabpas Pasuruan. Bahkan, ia pernah didapuk menjadi Korwil Sakeramania Beji era kejayaan Persekabpas Pasuruan, sekitar tahun 2006 silam. Pada era yang sama, ia juga kerap kebagian tugas untuk menjadi penjual tiket Persekabpas.

“Saya memang bukan maniak bola. Tapi, pengetahuan tentang bola, khususnya Persekabpas Pasuruan cukuplah. Saya sering menjadi saksi kala tim kebanggaan Sakeramania berlaga,” ungkap owner klub Grasstrack and Motor Cross EJM SP Wong Deso tersebut.

Tak hanya menjadi penonton. Bahkan, pada 2018 dan 2019, ia menjadi bagian dari Persekabpas Pasuruan, setelah didapuk sebagai manajer tim. Ia pernah membawa Persekabpas Pasuruan nangkring di peringkat dua Zona Jatim. Serta masuk Zona Jawa. Meski akhirnya tersisih.

Ia pun pernah ikut membongkar kasus mafia bola. Menyusul kekalahan Persekabpas dari Banjarnegara yang ditengarai banyak permainan. Itu merupakan salah satu laga penting. Karena menjadi tiket untuk bisa menembus nasional Liga 3.

Dua tahun kemudian, Pane kembali menakhodai tim sepak bola Pasuruan. Kali ini, PSPK Pasuruan yang dimanajemeninya. Menurut Pane, pada tahun 2021, itu sebenarnya ia sudah melayangkan negosiasi untuk menggawangi Persekabpas Pasuruan.



Karena ada sponsor yang siap membantu untuk pengelolaan tim secara 100 persen. “Ternyata, tidak ada respons dari pihak internal Persekabpas. Itulah yang akhirnya membuatnya beralih untuk menangani PSPK Pasuruan,” tandas dia.

Minatnya untuk mengembangkan sepak bola di Kabupaten Pasuruan membuatnya ingin mengakuisisi PSPK Pasuruan secara penuh. Namun, hal itu gagal karena pihak PSPK tidak berkenan.

Hal itulah yang membuatnya kemudian melirik Afa Syailendra. Dan mengubahnya menjadi Pasuruan United. “Sebenarnya kami sempat mencari tim di Kabupaten Pasuruan yang bisa berlaga di Liga 3. Tapi, tidak ada yang dijual. Akhirnya, waktu itu kami pun memilih Afa Syailendra dan mengakuisisinya menjadi Pasuruan United,” jelasnya.

Dari Pasuruan United inilah, ia berharap bisa mengakomodasi bibit-bibit muda agar mampu mengembangkan dirinya. Sebab, sebenarnya Pasuruan ini merupakan gudangnya pemain sepak bola. Di Pasuruan pula, basis suporter tinggi. Para pemain-pemain muda, juga memiliki potensi tinggi. Namun, mereka memiliki jam yang terbatas.

Sehingga potensi-potensi itu tidak tersalurkan sepenuhnya. “Kami ingin memberi pilihan bagi bibit muda untuk mengembangkan diri,” tuturnya.

Karena itulah, sebelum mengakuisisi Afa Syailendra, sebenarnya ia sudah berkomunikasi dengan banyak pihak. Termasuk pentolan-pentolan suporter. “Kami ingin meminta pendapat mereka. Rata-rata mendukung langkah kami. Kebetulan, kami juga punya konsep untuk nantinya bisa mendirikan akademi, Pasuruan United,” simpul Pane.

Pane sendiri memahami, Afa Syailendra memiliki catatan merah saat laga melawan Persekap musim lalu. Laga sempat berakhir ricuh. Namun, Pane tak khawatir dengan hal itu. Ia memandang, Afa Syailendra dengan Pasuruan United kini sebuah klub yang berbeda. Klub ini, sekarang milik warga Pasuruan Raya.



“Kami juga masih menunggu masukan dari masyarakat, berkaitan dengan julukan tim ini nantinya,” paparnya. (one/mie) Editor : Ronald Fernando
#liga 3 jatim #Pasuruan United