Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalur Bromo Pasuruan Jadi Idola Cyclist, Berkah Pelaku Usaha

Ronald Fernando • Sabtu, 4 Juni 2022 | 17:00 WIB
VIEW MENAWAN: Para cyclist beradu stamina dengan latar view Bromo yang menawan. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
VIEW MENAWAN: Para cyclist beradu stamina dengan latar view Bromo yang menawan. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
TOSARI, Radar Bromo-Jalur Bromo via Pasuruan cukup menantang. Biasanya, cyclist memanfaatkan tiga pit stop untuk recharge. Ketiga pitstop ini berada di Desa Mangguan, Kecamatan Pasrepan, kawasan Puspo dan Tosari.

Pitstop pertama merupakan sebuah warung sederhana di Desa Mangguan, Kecamatan Pasrepan. Warung ini sudah sangat terkenal di kalangan para cyclist. Menyajikan makanan khas desa yang menggugah selera.

Uniknya, warung ini juga menyediakan tempat parkir khusus yang bisa memuat puluhan sepeda. Bentuknya hanya rangkaian batang-batang kayu yang dipasang memanjang di tepi jalan. Warung itu tak pernah sepi. Terutama di hari-hari libur dan akhir pekan. Setiap cyclist yang naik ke jalur Bromo kebanyakan mampir.

“Itu memang jadi semacam barometernya para goweser. Kalau sudah bisa sampai Mangguan, pasti bakal kuat naik,” kata Ketua Bergas Pasuruan Agus Yulianto.

Pitstop kedua yakni di Kecamatan Puspo. Tepatnya di perbatasan Pasrepan-Puspo atau di KUD Puspo. Ancer-ancernya ada patung sapi.

Warga juga banyak membuka warung khusus bagi para cyclist. Salah satunya, Ana, yang juga menyediakan parkiran sepeda.“Kalau Sabtu Minggu saya harus buka lebih pagi. Karena mereka jam 6 biasanya sudah sampai sini,” ungkap Ana.

Menurutnya, warungnya kini jadi lebih ramai ketika jalur Bromo menjadi trek favorit para cyclist. “Dulu ya warung biasa, tapi sejak pandemi banyak orang naik pakai sepeda mampir, makanya saya buatkan tempat parkiran sepeda juga,” ungkapnya. Disini, para cyclist juga bisa menikmati susu segar. Maklum, kecamatan Puspro juga merupakan salah satu sentra peternakan sapi perah di Pasuruan.



Sedangkan pitstop terakhir ada di daerah Tosari. Di sini, para cyclist bisa menikmati makanan Suku Tengger. Masakan yang khas terbuat dari sayur-sayuran. Selain keindahan alam, budaya masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri.

Slamet Raharjo, pegiat Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Raga Wulan Wonokitri mengakui, banyaknya cyclist yang datang sangat berimbas pada perekonomian warga. Mulai dari sepanjang jalur hingga ke finis di Wonokitri sendiri. Warung-warung milik warga juga laris manis.

“Apalagi kalau ada datang dengan rombongan itu sangat terasa efeknya. Warga yang tadinya nggak punya warung, cuma modal jualan kopi sudah laris,” tutur Slamet. (tom/mie) Editor : Ronald Fernando
#gowes jalur bromo pasuruan #suropati race #jalur bromo