Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalur Bromo Via Pasuruan Surganya Goweser, “Naik Hajinya” Cyclist

Ronald Fernando • Sabtu, 4 Juni 2022 | 15:00 WIB
NGEYEL: Jesper, cyclist asal Belanda berpacu dengan cyclist lain saat mengikuti Suropati Race 2022 Tour de Pasuruan, akhir pekan lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
NGEYEL: Jesper, cyclist asal Belanda berpacu dengan cyclist lain saat mengikuti Suropati Race 2022 Tour de Pasuruan, akhir pekan lalu. (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)
Jalur Bromo Pasuruan sudah lama dikenal sebagai “surganya” cyclist. Bahkan ada celetukan “naik haji”-nya cyclist ya di jalur Bromo via Pasuruan ini.

=================================

PANDEMI yang mulai mereda, membuat sejumlah event akbar kembali menggeliat. Termasuk di dunia goweser. Dalam dua pekan terakhir, digelar dua ajang akbar di jalur favorit para goweser; Jalur Bromo via Pasuruan.

Terbaru, akhir pekan lalu digelar Suropati Race Tour de Pasuruan 2022. Para cyclist pun cukup antusias. Bahkan Juni Artha, cyclist asal Bali yang jadi peserta Suropati Race menyebut, jalur Bromo via Pasuruan wajib dicoba cyclist. “Benar kata orang, ‘naik hajinya’ cyclist ya di jalur Bromo ini,” kata Juni.

Maka, jangan heran ada ungkapan, jangan ngaku cyclist sejati bila belum menjajal trek yang satu ini. Menawarkan jalan yang sudah mulus dan lebar. Disertai sejumlah kelokan, tanjakan dan pesona alam yang menawan, trek Bromo kini menjadi surganya para pengayuh sepeda.

Kendaraan yang melintasi jalur Bromo lewat Pasuruan ini juga relatif tak terlalu ramai. Masih cukup nyaman bagi para cyclist. Jalurnya yang menanjak dan banyak tikungan tajam tentu sangat menantang adrenalin. Stamina dan konsentrasi benar-benar akan benar-benar diuji di jalur ini.

Mengacu pada pengalaman Suropati Race 2022 Tour de Pasuruan, barisan Men Open 19 tahun keatas menjadi peserta pertama yang mampu menaklukkan tanjakan. Dengan waktu tempuh sekitar 120 menit.

Namun itu sudah termasuk rute fun bike berkeliling kota yang jaraknya sekitar 15 kilometer. Dengan waktu tempuh sekitar 47 menit. Sedangkan jarak tempuh di jalur Bromo sendiri sekitar 35 kilometer. Praktis, waktu tempuh di jalur menanjak itu sendiri hanya sekitar 73 menit.

 

Photo
Photo
MELAWAN KELELAHAN: Cyclist alami kram saat sampai di tanjakan Tosari. (Mokhammad Zubaidillah/ Radar Bromo)

 

Cyclist yang baru pertama kali menjajal jalur Bromo, seringkali tertipu. Mereka mengira jalur menanjak setiba di Desa Puspo sudah menjadi tantangan terberat sepanjang jalur Bromo. Padahal, di kawasan Puspo tanjakannya belum begitu curam. Masih sekitar 5 hingga 8 persen.

Mereka yang sudah ngoyoh sejak tanjakan pertama umumnya akan ‘tumbang’ di tengah jalan. Gagal sampai ke finis. Karena energi sudah terkuras habis saat melewati tanjakan pertama. Itu terlihat saat Suropati Race lalu. Sejumlah cyclist juga bertumbangan. Kebanyakan mengalami kram.

Lain halnya dengan para cyclist yang sudah terbiasa menaklukkan jalur Bromo via Pasuruan. Mereka biasanya cenderung lebih santai mengayuh pedal, mengatur irama sembari menikmati putaran roda. Tak terpancing emosi untuk menambah kecepatan.

Karena diatas masih banyak tanjakan. Sepanjang Puspo hingga Baledono, Kecamatan Tosari, tanjakannya justru lebih konsisten. Antara 7 hingga 11 persen. Semakin naik, tanjakan semakin curam. Inilah jalur yang paling menguji kesabaran.

Tantangan terakhir ada di Baledono-Wonokitri, Tosari dengan jarak sekitar 5 kilometer. Tapi masih ada turunan pendek sesudah melewati pertigaan Tosari. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari finis.



Photo
Photo
VIEW MENAWAN: Para cyclist beradu stamina dengan latar view Bromo yang menawan. (Mokhammad Zubaidillah/ Radar Bromo)

 

Para cyclist biasanya memanfaatkan turunan ini untuk me-recharge energi. Sebab mereka akan kembali menemui tanjakan terakhir sebelum finis. Tanjakannya curam dan memutar. Tentu perlu banyak energi agar roda tetap berputar ketika berada ditengah-tengah tanjakan yang paling curam.

“Dari 200 meter sebelum finis itu yang paling sulit. Pokoknya atur napas mulai dari turunan sebelum finis. Ketika sudah naik, selalu pakai gir paling rendah,” kata Priscillia Gunawan, cyclist asal Surabaya.

Sementara Abdul Soleh, juara Suropati Race 2022 Tour de Pasuruan kategori Men Open 19 ke atas sedikit berbagi tips untuk menaklukkan jalur Bromo via Pasuruan. “Kuncinya sabar dan fokus ke depan. Yang penting harus tahu kapan waktunya simpan energi dan kapan memacu kecepatan,” pesannya. (tom/mie)

 

Jalur Bromo via Pasuruan “Naik Haji-nya” Cyclist

==========================================

-Ada sejumlah warung menyajikan kuliner khas pedesaan.

-Jalur mulai naik: Pasar Pasrepan-Pendapa Agung Wonokitri

-Jarak: 28 km

-Pasrepan-Puspo: Tanjakan 5-8 persen

-Puspo-Baledono, Tosari: Tanjakan 7-11 persen

-Baledono-Wonokitri: Mulai ada turunan pendek usai pertigaan Tosari.

-200 meter sebelum Pendapa Agung, para cyclist kembali disuguhi tanjakan terjal. Editor : Ronald Fernando
#gowes jalur bromo pasuruan #suropati race #jalur bromo