Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tradisi Tarung Bebas di Ponpes Zaha Genggong

Jawanto Arifin • Sabtu, 22 Januari 2022 | 19:13 WIB
BERTRANSFORMASI: Tarung bebas yang digelar sebelum pandemi dengan melibatkan warga ikut tanding. Inset: Tarung Bebas yang digelar awal tahun ini yang digelar secara terbatas. (Zainal Arifin-Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)
BERTRANSFORMASI: Tarung bebas yang digelar sebelum pandemi dengan melibatkan warga ikut tanding. Inset: Tarung Bebas yang digelar awal tahun ini yang digelar secara terbatas. (Zainal Arifin-Agus Faiz Musleh/Radar Bromo)
Ada tradisi tak biasa di Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong. Tarung bebas namanya. Petarung dari berbagai basic diberi ajang di atas ring. Setelah dari ring, tak ada dendam. Dari ajang itu, atlet tarung bebas dari Genggong juga mulai go nasional.

---------------------

AJANG tarung bebas di Ponpes Zaha Genggong sempat terhenti. Selama dua tahun. Pandemi Covid jadi pemicunya. Setelah 2 tahun vakum, di awal tahun 2022 ini, ajang tarung bebas kembali digelar.

Tentu suasananya jauh berbeda dengan sebelum pandemi. Penonton yang biasanya membeludak, kini dibatasi. Laga pun dibatasi. Hanya ada sepuluh partai. Selain tarung bebas, juga ada sejumlah atraksi lain. Mulai seni bela diri, debus, dan pertunjukan seni lainnya.

Tarung Bebas Genggong sendiri sudah cukup populer. Bahkan, sudah masuk di laman Wikipedia, ensiklopedia bebas bahasa Indonesia.

Tarung Bebas Genggong sendiri, dimulai sejak 2007 silam. “Tujuan awalnya, agar para petarung dari berbagai basic memiliki wadah meluapkan gairahnya. Selain itu, juga sebagai syiar perguruan silat Pagar Nusa,” ujar Ketua Pagar Nusa Komisariat PZH Genggong K.H. Mohammad Harris.

Pria yang akrab disapa Gus Haris ini menceritakan, keberadaan Tarung Bebas Genggong tidak terlepas dari sosok guru besar Pagar Nusa dan Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia (Gasmi). Namanya, KH. Abdulloh Maksum Jauhari alias KH Maksum Jauhari atau sering disapa Gus Maksum. Ia adalah ulama asal Pondok Pesantren Lirboyo, cucu pendiri PP Lirboyo KH. Manaf Abdul Karim.

Gus Maksum itu turun secara langsung untuk mensyiarkan Pagar Nusa, perguruan silat milik warga Nahdliyin.“Misal Beliau (Gus Maksum) ke Kediri atau ke Probolinggo, beliau mengundang para pendekar setempat. Membentuk pentas kecil atau lokasi bertarung. Kemudian dihadapkanlah para pendekar ini (bertarung),” kata Gus Haris.



Tarung bebas juga digelar untuk melatih para pendekar Nahdlatul Ulama (NU). Agar mumpuni saat bertemu dengan berbagai kelompok bela diri lain. Sebab, seorang pendekar saat di jalan, tidak dapat memilih akan berhadapan dengan siapa.

“Mereka (pendekar Nahdliyin) tidak mungkin bisa memilih musuh saat di jalan. Mau berhadapan dengan karate, kick boxing, bahkan petarung jalanan. Sehingga, tradisi ini dibawa ke mana-mana oleh beliau (Gus Maksum),” cerita Gus Haris, yang juga salah satu pengasuh PZH genggong.

Selain menjalankan tradisi, Tarung Bebas Genggong juga digelar berangkat dari keprihatinan. Kala itu, Gus Haris sebagai penginisiasi tarung bebas, melihat banyak santri yang girah atau semangat latihan silatnya mulai padam.

“Dilihat, sedikit sekali yang latihan. Padahal, silat itu adalah ciri khas santri. Dulu, tiap santri itu pasti bisa silat. Itu sudah khas, tidak dapat dipisahkan. Namun, perkembangan zaman ini, pondok banyak pendidikan formal. Bela diri ini mulai ditinggalkan. Padahal, bela diri ini bukan hanya bela diri. Namun, bagian dari budaya,” beber Gus Haris.

Dari situ, tarung bebas mulai digeber. Sekaligus untuk menjalankan tradisi. Melestarikan bela diri. Dengan niat awal juga untuk membangun silaturahmi, diadakanlah tarung bebas. Digelar di atas ring tinju, agar lebih menarik.

“Akhirnya kami coba untuk membuat syiarnya Pagar Nusa ini. Gaungnya tampak. Di situlah kami bangun dengan rasa senang. Dengan tagline; Di Atas Ring Lawan di Bawah Kawan. Kami undang semua perguruan. Begitu setelah tanding, kita makan-makan,” ujarnya.

Rupanya respons terhadap tarung bebas sangat bagus. Santri yang ingin belajar di Pagar Nusa kembali banyak. Bahkan, banyak juga yang mondok karena ingin belajar silat dan jago bela diri.



“Namun, prinsipnya adalah membangun agar anak muda ini tidak bertarung di jalan. Kami siapkan event sekali dalam setahun. Kalau merasa jagoan, di sini tempatnya,” jelasnya.

 

Transformasi Tarung Bebas

Seiring berjalannya waktu, tarung bebas sempat vakum. Pada 2016, gelaran itu tidak lagi berjalan. Disusul adanya pandemi Covid-19 pada 2019-2020 lalu.

“Akhirnya untuk mem-follow up gairah anak-anak pendekar, agar dapat bertarung bebas seperti dulu, kami kembangkan Tiger Bar (Barokah) MMA Martial Art. Itu didasari oleh anak-anak kita yang ikut MMA One Pride,” papar Gus Haris.

Tiger Bar MMA Martial Art itu didirikan untuk jadi wadah santri yang suka tarung bebas. Dikelola agar mereka dapat berprestasi di bidang yang mereka sukai.

Sudah sekitar dua tahun ini akademinya terbentuk. “Kami munculkan lagi girah anak-anak petarung ini. Sebab, treknya (jalur) ada, jika berprestasi di sini bisa dikirim ke Jakarta untuk mengikuti MMA. Tentunya, tanpa meninggalkan silat sebagai basic-nya,” bebernya.

Tiger Bar sendiri tak fokus di prestasi saja. Namun, untuk mengakomodasi para petarung sesuai sistem internasional. “Masyarakat umum yang mau bertarung saat ini tidak bisa. Harus punya dasar bertarung bagaimana. Kami tidak lagi mengadakan (pertarungan) secara umum,” jelasnya.

Meski begitu, bagi masyarakat umum yang hendak ikut Tiger Bar, bisa lebih dulu mengikuti akademi yang telah dibentuk. Agar dasar-dasar bertarung dapat dimiliki. Selain itu, akademi juga menyiapkan pelatihan pada basic pertarungan lain.



“Seperti misalnya ada ajang kick boxing, kami juga beri latihannya. Kemarin, sekali mengeluarkan petarung, Alhamdulillah bisa juara di Kejuaraan Provinsi (Provinsi),” ujarnya.

Sementara itu, selain latihan, dalam setiap event tarung bebas, juga disediakan tim kesehatan. Itu, untuk melakukan penanganan awal jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Pada gelaran Tiger Bar Genggong beberapa waktu lalu, ada 14 partai atau 14 pertarungan yang digelar dalam rangka Hari Lahir ke-36 Pagar Nusa.

Selain tarung bebas, juga ada sejumlah atraksi. Di antaranya seni jurus bela diri, seni debus, dan beberapa pertunjukan seni bela diri lainnya. Atraksi itu dilakukan ratusan pendekar dari perwakilan 33 perguruan di bawah naungan Pagar Nusa Komisariat PZH Genggong, dengan kurang lebih 4.000 pesilat. (mu/mie) Editor : Jawanto Arifin
#ponpes zaha genggong #tarung bebas