Setelah ia pertimbangkan masak-masak, ia memilih taekwondo. Pada 2015, ia mulai ikut ekstrakurikuler taekwondo saat SMP. Orang tuanya sempat keberatan saat itu. Alasannya, latihannya malam. Jadi khawatir.
Meski begitu, Aisyah tak menyerah. Diam-diam, dia tetap berlatih. Ia berdalih kerja kelompok saat latihan malam. “Setelah ada hasil (raih juara) dari mengikuti sejumlah kejuaraan, akhirnya sedikit demi sedikit mulai ada dukungan dari orang tua hingga sekarang,” kenang dara kelahiran 10 Agustus 2002 ini.
Sejak saat itu, perjalanan Aisyah di dunia taekwondo kian lapang. Pada ajang Pra-PON 2019 di Banten, ia berhasil membawa pulang medali emas-perak. Hal itu membuat namanya pun kembali diikutkan di ajang PON XX di Papua.
Meski berstatus debutan di PON, ia tetap mengincar hasil maksimal. Medali emas. Torehan emas Kejurprov dan Kejurnas jadi modal dara asal Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, ini.
Untuk berlaga di PON XX, Aisyah sudah mengikuti pemusatan latihan sejak September 2020 lalu. "Training center (TC) di asrama Unesa, Pusat Latihan Daerah Jawa timur,” ujar mahasiswi Poltekkes Surabaya ini.
Saat di ajang PON nanti, Aisyah turun pada cabor Poomsea taekwondo, beregu. Selain dia, ada Aprilia Duwi Rahayu dari Pamekasan dan Rizki Nur Fadilah dari Surabaya.
Tentu saja target emas itu tak mudah untuk diraih. Sejumlah handicap menanti. “Yang sangat sulit itu memang menjaga mood teman saat latihan. Karena kita kan harus mendapatkan feel satu sama lain. Sehingga chemistry-nya juga menyatu,” jelasnya.
Soal lawan yang akan dihadapi, Aisyah menyebut atlet dari Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk diwaspadai. Sebab, atlet-atlet Jabar sudah kenyang pengalaman. Termasuk banyak yang turun di Asian Games pada 2018 lalu.
Selain latihan yang terus diintenskan jelang PON, Aisyah menerangkan, kondisi pandemi juga jadi tantangan. Menjaga kondisi sangat diperlukan. “Saat ini tidak boleh keluar sama sekali, sebab masih masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Setiap harinya, pasti ada pengecekan suhu. Selain vitamin, minyak kayu putih dan air panas kemudian dihirup juga menjadi terapi tiap harinya,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Pengurus Taekwondo Indonesia Kabupaten Probolinggo Puja Kurniawan berharap agar Aisyah tetap disiplin. Baik latihan mental maupun fisik.
“Kebersamaannya harus, karena ia tampil di tim. Tentunya kami juga ikut menjaga. Kami pantau, dari komunikasi tetap intens,” ujarnya.
Puja juga berharap agar Aisyah dapat mengharumkan nama Kabupaten Probolinggo dikancah nasional. “Karena juga membawa Probolinggo. Yang terpenting jauhkan congkak sama sombong. Usaha dan doa, Insyaallah harapan tercapai,” terangnya. (mu/mie) Editor : Jawanto Arifin