-------------------
Karir sepak bola pria kelahiran 15 Mei 1961 tersebut, dimulai ketika ia masih berusia 12 tahun. Saat itu, Abdul Hamid muda, bergabung dengan klub lokal, Bangil Muda. Tak mudah baginya untuk meniti karir sebagai pesepakbola.
Karena pilihan itu, sempat ditentang orang tuanya. Penyebabnya, ia kehilangan waktu, untuk membantu mereka menyelesaikan pekerjaan rumah. Namun, keteguhan hatinya, membuat larangan itu, diabaikannya.
"Saya sembunyi-sembunyi berlatih dan bermain sepak bola, waktu masih kecil. Bahkan pernah dimarahi, karena pulang malam, lantaran bermain sepakbola," kenangnya.
Tekad kuatnya itu, pelan-pelan melunakkan hati orang tuanya. Mereka pun tak melarang Hamid-sapaannya untuk terjun di dunia bola. Dari situ, ia mulai leluasa mengejar impiannya, untuk menjadi pesepakbola profesional.
Hamid remaja akhirnya pindah ke Assyabab Surabaya saat usianya menginjak 15 tahun. Kepindahannya itu, bermula ketika pemandu bakat kepincut saat melihat penampilan Hamid yang bergala di tarkam (antar kampung). "Saya tidak punya uang untuk ke Surabaya. Lalu, orang itu, yang kemudian mengantar saya," kisahnya.
Dari situlah, ia meniti karir sebagai pesepakbola profesional. Sejumlah kompetisi diikutinya. Posisinya sebagai stopper, hampir tak tergantikan. Tidak hanya kompetisi antar klub.
Ia juga menjadi salah satu pemain, yang mewakili Jawa Timur untuk Laga Invitasi U-17 tahun 1979 silam. Bahkan, ia berhasil mencatatkan tiga dalam laga tersebut.
Berangkat dari situlah, ia mendapat panggilan untuk membela timnas junior. Beberapa kompetisi internasional diikutinya. Salah satunya, Marlian Cup di Singapura.
Permainannya yang moncer, membuat Hamid remaja naik kasta ke timnas Garuda Satu. Meski berposisi sebagai pemain belakang, tak jarang ia membantu timnya menyarangkan bola ke gawang lawan. Bahkan, menjadi penentu kemenangan.
Salah satunya ketika laga ujicoba melawan Arab Saudi tahun 1984 silam. Tendangan jarak jauhnya menutup laga tersebut menjadi kemenangan untuk timnya. Pertandingan yang semula imbang 1-1, berakhir dengan skor 2-1 setelah gol yang dicetaknya.
Bukan hanya itu. Ia juga menjadi penentu ketika timnya melawan Australia dalam ajang Piala Raja di Thailand. Dalam laga tersebut, ia berhasil mencetak satu gol dan membawa timnya unggul 2-1 atas Australia. Meski akhirnya, timnya tersingkir setelah kalah dari tuan rumah, 2-0.
Pada 1995, ia memilih gantung sepatu. Ia kemudian memilih untuk menjadi pelatih, di Assyabab Bina Bola Bangil. Ia menjadi pelatih Assyabab Bangil sejak tahun 2000. Sesaat setelah ia menjadi assisten pelatih di Persebaya.
Untuk Makan Saja Susah
Masa jaya Abdul Hamid terjadi ketika ia berseragam timnas. Kala itu, ia merasakan nikmatnya hidup, bak "raja". Ketenaran didapatkannya.
Banyak orang membicarakannya. Pundi-pundi uang, mengalir begitu deras. "Semuanya serba tersedia. Dokter khusus disediakan. Bahkan untuk sekadar mencuci pakaian pun, tidak usah susah-susah, karena ada yang mencucikan," kenang Hamid yang kini tinggal di Oro-oro Ombo Wetan, Kecamatan Rembang.
Namun, ketenaran itu, perlahan sirna. Bahkan, nyaris tenggelam seiring keputusannya untuk gantung sepatu dari dunia yang membesarkannya. Meski gantung sepatu, sebenarnya ia tak benar-benar "pensiun" dari si kulit bundar.
Ia mengabdikan dirinya, untuk menjadi pelatih. Namun sayang, karirnya sebagai pelatih, tak semoncer saat ia menjadi pemain. Menjadi pelatih sepakbola lokal, tak mampu menjamin kehidupannya.
Sambil melatih, ia mencari kerja sambilan. Bila dulu ia jadi benteng Timnas yang selalu mengawal striker hebat lawan, saat ini tugasnya mengawal penumpang. Untuk sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Ya, Hamid memang kini juga menjadi tukang ojek pangkalan.
Baginya, kehidupannya saat ini, memang tak semudah saat menjadi pemain sepak bola.
Sebab, untuk makan sehari-hari, ia harus mendapatkannya dengan susah payah. Kadang, ia hanya mendapat penumpang sampai tiga orang sehari. Namun terkadang, tidak ada sama sekali.
Meski begitu, ia masih bersyukur. Di usianya yang semakin senja, ia masih diberi kesehatan untuk melanjutkan hidupnya. "Saya juga masih bisa melatih. Sehingga, masih bisa menularkan ilmu sepakbola kepada putra-putra harapan bangsa," bebernya. (one/mie) Editor : Jawanto Arifin