Aroma Tak Biasa, 1.900 Porsi MBG di Kota Probolinggo Dibatalkan, 200 Porsi Ditarik dari Sekolah

Arif Mashudi • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:03 WIB
Tim Satgas Kota Probolinggo saat turun meninjau dan mengklarifikasi ke SPPG Kanigaran 04.
Tim Satgas Kota Probolinggo saat turun meninjau dan mengklarifikasi ke SPPG Kanigaran 04.

 

KANIGARAN, Radar Bromo – Informasi tentang dua sekolah yang menolak menu makan bergizi gratis (MBG) di Kota Probolinggo, sempat viral di medsos.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, dua sekolah dimaksud memang pernah tidak menerima menu MBG. Namun penyebabnya karena SPPG sendiri yang memutuskan tidak mendistribusikan menu MBG di hari itu.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebut, peristiwa itu terjadi pada Senin, 21 September. Ada dua sekolah yang tidak menerima menu MBG di hari itu. Yaitu SMAN 2 dan SMPN 10 Probolinggo.

Kepala SMPN 10 Kota Probolinggo Yuyun Tulus Karyanti saat dikonfirmasi menegaskan, sekolahnya memang tidak menerima menu MBG pada Senin, 21 September. Namun sekolah tidak pernah menolak atau mengembalikan menu MBG dimaksud.

”Jadi bukan kami menolak atau mengembalikan menu MBG. La wong pada hari itu, menu MBG bahkan belum sampai ke sekolah,” terangnya.

Menurut Yuyun, pada hari itu SPPG Kanigaran 04 Yayasan Taruna Aarogya Mandiri sebagai pihak yang menyediakan menu MBG untuk SMPN 10 tiba-tiba datang ke sekolah.

Pihak SPPG menyampaikan bahwa distribusi MBG untuk Senin, 21 September, tidak dapat dilakukan.

Sebabnya, menu makanan memiliki aroma berbeda dari biasanya. Keputusan itu diambil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Kami juga mendapat berita acara (BA) resmi dari SPPG bahwa hari itu menu MBG dibatalkan. Kemudian kami umumkan di grup siswa bahwa Senin, 21 September, tidak ada distribusi MBG,” terangnya.

Korwil SPPG Kota Probolinggo Irfan S. Putra menjelaskan hal serupa. Menurutnya, kejadian bermula saat proses pengolahan atau memasak dilakukan sekitar pukul 01.00 untuk jadwal distribusi pagi tingkat RA dan KB.

Menu yang disiapkan terdiri atas nasi, ayam goreng nanking saus bangkok, tempe goreng mentega, capjai, dan buah kelengkeng.

Sebanyak 200 porsi kemudian didistribusikan ke TK/RA dan Posyandu pada Senin pagi.

Namun, PIC salah satu sekolah menghubungi pihak SPPG dan menyampaikan bahwa makanan tersebut berbau.

Menurut Irfan, aroma tersebut kemungkinan berasal dari aroma khas bumbu Ngohyong yang digunakan pada menu Ayam Nanking Saus Bangkok, yang merupakan variasi menu baru.

Menindaklanjuti laporan itu, Kepala SPPG menginstruksikan asisten lapangan mengecek langsung ke sekolah sebagai antisipasi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Kemudian, sekitar 200 porsi ompreng yang telah terdistribusi juga ditarik kembali.

Setelah ditarik dan diuji ulang di dapur, makanan tersebut dipastikan aman (safe). Tidak ditemukan kerusakan maupun perubahan rasa.

”Demi menjamin keselamatan penerima manfaat, Kepala SPPG menginstruksikan untuk tidak mendistribusikan sisa makanan yang telah dimasak sebanyak 1.900 porsi. Termasuk ke SMA 2 dan SMP 10. Keputusan yang diambil oleh Kepala SPPG sudah benar dan sesuai SOP,” tegas Irfan.

Irfan menerangkan, keputusan tersebut kemudian dituangkan dalam Berita Acara (BA) resmi. BA itu disampaikan kepada pihak sekolah terkait pembatalan distribusi, serta kepada pihak peternak terkait penanganan limbah makanan yang tidak terdistribusi.

”Jadi fakta di lapangan, tidak ada penolakan atau pengembalian menu MBG. Yang benar yaitu, SPPG menghentikan pendistribusian MBG sebagai langkah pencegahan kejadian hal yang tidak diinginkan. Sebab, ada aroma berbeda yang tidak biasa,” terangnya.

Sekda Kota Probolinggo Budiono Wiriawan selaku ketua Satgas MBG Kota Probolinggo mengatakan, tim teknis Satgas MBG juga sudah datang ke SPPG dimaksud, Kamis (01/10) untuk melakukan penelusuran. Satgas datang bersama Korwil, Korcam Bapperida, serta Dinas Kesehatan-P2KB.

Hasil klarifikasi sama, bahwa tidak ada penolakan atau pengembalian menu MBG dari sekolah maupun penerima manfaat. Penghentian distribusi merupakan keputusan SPPG sebagai langkah antisipasi.

”Memang bukan pengembalian oleh penerima manfaat, tetapi penarikan oleh SPPG sebagai langkah antisipasi hal yang tidak diinginkan,” tegasnya. (mas/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
aroma tak biasa Mbg SPPG sekolah probolinggo