KANIGARAN, Radar Bromo - Sejumlah 29 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kota Probolinggo, sejauh ini belum ada yang beroperasi.
Namun, perputaran ekonomi di tingkat kelurahan melalui KDMP menunjukkan tren positif.
Dari dashboard Sistem Informasi Koperasi Desa (Simkopdes) Jawa Timur, total nilai transaksi dari 29 KDMP di Kota Probolinggo, secara akumulatif mencapai Rp 5.324.153.500.
Sejauh ini memang belum ada gerai yang beroperasi. Namun, para pengurus koperasi mulai bergerak. Mereka menyediakan bahan-bahan kebutuhan masyarakat tanpa gerai.
Dari 29 koperasi yang aktif bergerak tersebut, di antaranya KDMP Wiroborang, Kecamatan Mayangan mencatatkan performa tertinggi.
Koperasi ini sukses menjadi entitas dengan nilai transaksi terbesar di tingkat kota dengan angka performa mencapai Rp749.210.300.
Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo Yuda Hartanto mengatakan, nilai total transaksi dari 29 KDMP di Kota Probolinggo secara akumulatif menembus angka Rp 5.324.153.500 atau sekitar Rp 5,32 miliar.
“Di Simkopdes Jawa Timur, Kota Probolinggo, sudah tercantum di dashboard. Nilai transaksi tercatat Rp 5,32 miliar," ujarnya.
Kendati demikian, Yuda memberikan catatan penting agar masyarakat tidak salah menginterpretasikan data. Nominal Rp 5,32 miliar ini murni merupakan akumulasi nilai omzet atau volume transaksi yang berputar.
Bukan keuntungan bersih yang dikantongi pihak koperasi. “Itu dilihat dari omzet, bukan laba bersih,” ujarnya.
Jika dibedah lebih dalam, dominasi perputaran uang di puluhan KDMP ini digerakkan komoditas pangan murah. Penjualan beras medium program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 5 kilogram menjadi penyumbang omzet terbesar.
Tercatat menebus 442.777 kemasan beras SPHP dengan total nilai transaksi Rp 4.886.938.200. Jika jumlah tersebut dikonversikan ke dalam satuan berat, pasokan beras yang telah didistribusikan setara dengan sekitar 2.213,9 ton.
Selain komoditas beras SPHP yang menjadi primadona, dashboard Simkopdes turut merekam aktivitas jual-beli bahan pokok lainnya.
Di antaranya, transaksi minyak goreng 29.064 unit dengan nilai Rp 421.476.000. Disusul produk minyak goreng subsidi Minyakkita kemasan bantal 1 liter sebanyak 720 unit senilai Rp11.160.000.
“Untuk kategori sekunder lainnya, terdapat transaksi barang umum sebanyak 346 unit senilai Rp 4.505.000 dan transaksi beras non-SPHP sebanyak lima unit dengan nilai Rp 74.300,” jelasnya. (mas/rud)
Editor : Fahreza Nuraga