KANIGARAN, Radar Bromo-Keamanan dan kenyamanan pedagang di Pasar Baru kini sedang terusik. Pasalnya, pedagang yang memiliki bedak atau los di dalam pasar, kerap kehilangan dagangannya.
Ironisnya, CCTV yang sudah terpasang di dalam pasar Baru lama mati, tak kunjung segera diperbaiki. Sehingga, kasus pencurian atau kehilangan yang dialami pedagang pun, tak pernah terungkap.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sejumlah CCTV terpasang di titik startegis pasar Baru. Termasuk dipasang di sisi timur dan selatan. Anehnya, CCTV yang nempel di atas dinding itu, hanya jadi hiasan. Karena CCTV tersebut sudah lama mati alias tidak berfungsi.
”Iya, ada banyak CCTV-nya. Tapi tidak ada yang berfungsi, sudah lama mati dan tidak diperbaiki ini,” kata salah satu pedagang Pasar Baru saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo kemarin.
Pedagang yang enggan sebutkan namanya mengungkapkan, keamanan dan kenyamanan pedagang di Pasar Baru, boleh dibilang kondisinya rawan.
Pedagang harus lebih ekstra hati-hati menjaga barang dagangannya yang ditinggal di bedak ataupun los. Sebab, sering kejadian kehilangan barang dagangannya, sampai uang miliki pedagang.
”Pernah ada pedagang kehilangan bawang putih satu karung. Ada juga cabai rawit pedagang satu kresek besar hilang,” ungkapnya.
Ia mengaku hingga saat ini kejadian kehilangan barang dagangan tidak pernah terungkap. Pedagang pun enggan melapor ke kantor Pasar. Sebab, sudah ada beberapa pedagang yang menjadi korban melapor, tapi tidak ada tindak lanjut dari petugas kantor pasar.
Pedagang sendiri tidak mengetahui kapan waktu pencurian barang dagangan itu terjadi. Sebab, pedagang tahunya saat tengah malam jam 12 ke pasar, barang dagangannya sudah ada yang hilang. Padahal, sudah ada petugas waker yang berjaga di Pasar Baru tersebut.
”Coba CCTV ini berfungsi, jadi bisa dicek kalau ada pedagang yang kehilangan. Dulu pernah ada uang pedagang tertidur, ada yang curi. Pas di cek CCTV, akhirnya ketemu pelakunya. Tapi CCTV nya sudah lama mati mas. Petugas pasar bilang kalau perbaiki CCTV butuh puluhan juta,” tambahnya.
Kondisi itu menjadi perhatian serius ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Ryadlus Sholihin Firdaus. Menurutnya, keamanan dan kenyamanan pedagang hingga pengunjung di pasar harus diperhatikan. Jika sampai terjadi kasus pedagang kehilangan barang dagangannya, berarti harus dipertanyakan petugas yagn terlibat, mulai dari penjaga malam, petugas pasar dan lainnya.
”Apalagi sampai CCTV sudah lama mati, tidak diperbaiki. Kami akan segera agendaka RDP untuk evaluasi soal pasar baru ini,” tegasnya.
Kepala DKUP Agus Effendi mengatakan, dirinya yang baru menjabat beberapa bulan, kini Tengah mengidentifikasi persoalan dan kebutuhan di pasar baru tersebut. Bahkan, identifikasi permasalahan dan kebutuhan juga dilakukan pada seluruh pasar di Kota Probolinggo.
”Tahun 2027 pemeliharaan. Sekarang lagi identifikasi seluruh pasar se kota. Saya tidak bisa ujuk-ujuk memperbaiki titik mana. Saya identifikasi semua terus ajukan pemeliharaan di tahun 2027,” tandasnya.
Pedagang Liar Makin Bebas di Trotoar
TIDAK hanya soal keamanan pasar. Pedagang di Pasar Baru kini juga mengeluh dengan banyaknya pedagang liar. Pedagang tersebut menempati trotoar sekeliling Pasar Baru, sehingga semakin terkesan tak tertata. Pedagang liar makin bebas dan banyak berjualan di tepi luar pasar. Dampaknya, pedagang yang berjualan di dalam pun sepi pembeli. Bahkan, bedak dan los di dalam pasar baru makin banyak kosong.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo, pedagang liar yang berjualan di luar pasar atau trotoar pasar baru makin bebas. Pedagang dengan bebas berjualan di tepi atas trotoar jalan di semua sisi, sejumlah pedagang liar bebas berjualan.
Kondisi berbeda di dalam Pasar Baru. Banyak bedak atau los yang justru kosong tidak ditempati pedagang. Pembeli yang datang untuk masuk ke dalam pasar pun, tampak sepi. Karena pembeli sudah disuguhi pedagang di tepi jalan, dekat pintu masuk pasar.
”Sekarang sepi pasar di sini. Orang yang mau beli, banyak tidak masuk ke pasar. Karena di luar banyak pedagang yang bebas jualan,” kata salah satu pedagang pasar baru yang mengeluh.
Ia mengatakan, pedagang yang berjualan di dalam pasar, ditarik retribusi. Sedangkan pedagang yang berjualan di luar pasar pasar, atas trotoar tidak ada biaya retribusi.
Belum lagi, dirinya harus keluarkan jasa angkut barang dagangan dari luar ke dalam. Jika kondisi begini terus, bisa-bisa pedagang di dalam pasar pindah jualan di luar semua.
”Sekarang makin bebas pedagang jualan di luar. Tidak ada penertiban dari Satpol PP dan petugas pasar. Jadinya ada pedagang yang punya tempat di dalam, pindah ke luar juga. Karena pembeli memang lebih ramai di luar,” terangnya.
Ryadlus Sholihin Firdaus, ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo mengatakan, harusnya ada ketegasan dari Satpol PP dan Petugas pasar untuk menertibkan pedagang liar di luar pasar. Jangan sampai, satpol PP yang bertugas menertibkan merasa hanya dibenturkan dengan pedagang, karena tidak ada Tindakan dari petugas pasar.
”Kasihan pedagang yang berjualan di dalam pasar. Sudah ditarik retribusi, tapi dagangan sepi, karena banyak pedagang liar di luar. Petugas pasar harusnya memasukkan pedagang di luar untuk berjualan ke dalam, karena banyak tempat kosong di dalam,” tegasnya.
Sementara itu, kepala DKUP Kota Probolinggo, Agus Effendi mengatakan, pihaknya akan melakukan identifikasi persoalan yang ada, untuk mengetahui persoalan dan mencarikan solusinya. ”Nanti kami identifikasi dulu. Planing dan aksi akan dilakukan secara bertahap,” tandasnya. (mas/fun)
Editor : Abdul Wahid